Selasa, 19 Januari 2010

Penglihatan (Visi) dan Kegelapan

RENUNGAN hari ini mempertanyakan, adakah saya mengandalkan kekuatan lahiriah? Atau sudahkah saya belajar untuk tidak mengandalkan keyakinan pada diri sendiri dan pada saudara Kristen yang lain? Apakah saya menaruh kepercayaan pada buku-buku dan doa-doa atau kesukaan lainnya dalam hidup saya? Atau sudahkah saya menaruh keyakinan saya kepada Allah sendiri, dan bukan pada berkat-berkat-Nya?



“Menjelang matahari terbenamn tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan” (Kejadian 15:12).

Apabila Allah memberikan penglihatan atau visi kepada seseorang Kristen, maka hal itu seolah-olah Dia (Allah) meletakkan orang tersebut dalam “naungan tangan-Nya” (Yesaya49:2). Kewajiban orang kudus adalah diam/teduh sambil mendengarkan. Ada suatu “kegelapan” akibat dari terlampau banyak cahaya - itulah saatnya untuk mendengarkan.
Kisah Abram dan Hagar dalam Kejadian 16 adalah contoh yang sangat baik tentang mendengarkan “nasihat bijak” selama masa kegelapan, dan bukannya menantikan Tuhan mengirimkan terang-Nya. Bila Tuhan memberikan penglihatan kepada Anda, dan kemudian disusul kegelapan, maka nantikanlah. Allah akan mewujudkan penglihatan itu dalam hidup Anda asalkan Anda mau menantikan waktu yang ditentukan-Nya. Jangan sekali-kali berusaha membantu Allah untuk menggenapi perkataan-Nya. Abram melewati tiga belas tahun (dalam) kesunyian, tetapi selama tahun-tahun tersebut, semua rasa kesanggupan diri atau self sufficiently-nya dihancurkan. Dia bertumbuh meninggalkan titik ketergantungan pada akal sehat atau penalarannya sendiri. Tahun-tahun kesunyian itu merupakan masa disiplin, bukannya suatu masa Allah tidak berkenan kepadanya.
Tidak perlu berpura-pura bahwa hidup Anda penuh dengan sukacita dan keyakinan; nantikanlah Tuhan dan perkuat landasan Anda di dalam Dia (lihat Yesaya 50:10-11).
Adakah saya mengandalkan kekuatan lahiriah? Atau sudahkah saya belajar untuk tidak mengandalkan keyakinan pada diri sendiri dan pada saudara Kristen yang lain? Apakah saya menaruh kepercayaan pada buku-buku dan doa-doa atau kesukaan lainnya dalam hidup saya? Atau sudahkah saya menaruh keyakinan saya kepada Allah sendiri, dan bukan pada berkat-berkat-Nya?
“Akulah Allah yang Mahakuasa - ElShad-dai, Allah pemilik segala kuasa (Kejadian 17:1), kata Firman Tuhan. Alasan mengapa kita semua didisiplin adalah supaya kita mengenal bahwa Allah itu nyata. Sekali Allah menjadi nyata bagi kita, dibandingkan dengan apa atau siapapun akan tampak kalah atau udar, hanya menjadi bayang-bayang dari kenyataan. Tidak ada perbuatan atau perkataan orang percaya pemercaya lain yang akan pernah menggoyahkan orang yang dibangun berlandaskan Allah. (My Utmost for His Highest 19 Januari 2010)
 &&&
"DIPAKAI TUHAN. Adakah sesuatu yang lebih membesarkan hati dan lebih memuaskan dari hal ini? Mungkin tidak ada, tapi ada sesuatu yang lebih mendasar: untuk bertemu dengan Allah. Berdiam diri di hadapan-Nya, menjauhi kebisingan kota dan, dalam keteduhan, menaikkan pujian bagi Dia yang layak menerimanya. Sebelum kita melibatkan diri dalam pekerjaan-Nya, mari kita menemui-Nya dalam Firman-Nya ... dalam doa ... dalam ibadah". - Charles (Chuck) 

Catatan:  Bagian pengantar dan kutipan mutiara kata diatas ini tidak termasuk bagian dari teks asli My Utmost for His Highest, tapi merupakan tambahan untuk memperkaya.  

Tidak ada komentar: