Jumat, 29 Januari 2010

Bagaimana Seseorang (Pelayan) Bisa Begitu Bodoh

BAGAIMANA Seseorang (Pelayan) Bisa Begitu Bodoh? Itulah judul renungan hari ini. Cukup keras. Antara lain mengingatkan apakah ”kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya”, kita berbicara dengan kata-kata yang terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh, melayani dengan menggebu-gebu, tapi menurut cara saya sendiri, untuk kepuasan diri sendiri. Lebih lanjut lihat dalam Notes.


“Siapa Engkau Tuhan?” (Kisah 26:15).
”Beginilah firman Tuhan kepadaku”, kata Yesaya, ”ketika tangan-Nya menguasai aku... (Yesaya 8:11). Firman Tuhan ini menyatakan, tidak ada tempat untuk melarikan diri bila Tuhan berbicara. Dia selalu datang dengan menggunakan otoritas-Nya dan menguasai pengertian kita.
Sudahkah suara Allah mendatangi Anda secara langsung? Jika sudah, Anda tidak akan dapat salah dengan suasana keakraban yang mengiringinya yang disampaikan kepada Anda. Karena Allah berbicara dengan bahasa yang paling Anda kenal - bukan melalui telinga Anda, melainkan rnelalui situasi yang Anda alami.
Allah harus menghancurkan kepercayaan kita terhadap keyakinan atau pendirian kita sendiri. Kita berkata, “Aku tahu bahwa inilah yang harus kulakukan!” - lalu tiba-tiba Allah berbicara dalam cara yang meliputi kita dengan menyingkapkan kebodohan dan ketidak-acuhan kita. Kita memperlihatkan kebodohan kita tentang Dia dalam cara kita membuat keputuskan untuk melayani Dia. Kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya, dan menyakiti Dia melalui pembelaan kita terhadap Dia. Kita mengesampingkan tuntutan-Nya dalam roh iblis; kata-kata kita terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh. ”Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka” (Lukas 9:55), Yesus menegor murid-murida-Nya karena ada roh lain pada mereka. Roh Tuhan di dalam para pengikut-Nya tertulis dalam 1 Korintus 13.
Adakah saya telah menganiaya Yesus dengan tekad yang menggebu-gebu untuk melayani Dia menurut cara saya sendiri? Jika saya merasa telah melakukan kewajiban saya, namun telah menyakiti Dia dalam cara saya melayani, saya dapat memastikan yang saya lakukan bukanlah kewajiban saya. Cara saya takkan mengembangkan roh yang lemah lembut dan tenang, melainkan hanya roh kepuasan diri sendiri. Kita menyangka bahwa apa pun yang tidak menyenangkan adalah kewajiban kita. Adakah seperti itu Roh Tuhan kita? “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku (Mazmur 40:9). Itulah seharusnya roh pelayanan kita. (My Utmost for His Highest 29 Januari 2010).

Tidak ada komentar: