Minggu, 07 November 2010

7 Nov ’10 – Situasi Suci Yang Tidak Terlihat

MENGHADAPI situasi asing atau tidak lazim? Tunggu  dulu. Jangan Tanya mengapa Tuhan? Dalam kehidupan orang percaya tidak ada hal yang disebut kebetulan. Situasi yang dihadapi justru dapat merupakan kesempatan suci dari Tuhan membawa orang-orang dengan siapa kita berhubungan ke hadapan takhta-Nya melalui doa syafaat, sehingga mereka dapat mengalami jamahan Tuhan.


SITUASI SUCI YANG TIDAK TERLIHAT

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,...” (Roma 8:28).

SITUASI atau keadaan kehidupan orang kudus diatur oleh Allah. Dalam kehidupan orang kudus tidak ada hal yang disebut kebetulan. Allah dengan pemeliharaan-Nya membawa Anda masuk dalam keadaan yang sama sekali tidak dapat Anda mengerti, tetapi Roh Allah mengerti. Allah membawa Anda ke tempat-tempat, di antara orang-orang dan dalam kondisi tertentu untuk mencapai tujuan pasti melalui doa syafaat Roh di dalam Anda.

Jangan pernah menempatkan diri Anda mendahului situasi Anda dan berkata, “Aku akan mengatur hidupku disini, aku akan mewaspadai ini, dan melindungi diriku dari hal itu.”
Segala keadaan Anda berada dalam tangan Allah, dan oleh karena itu Anda tidak perlu memikirkan bahwa keadaan atau situasi dimana Anda sebagai asing atau tidak lazim. Bagian Anda dalam doa syafaat bukanlah masuk dalam pergumulan berat dan menekan Anda, tetapi untuk memanfaatkan situasi keadaan setiap hari dan orang-orang yang Allah tempatkan di sekitar Anda melalui pengaturan-Nya untuk membawa mereka ke hadapan takhta-Nya dan memberikan Roh Allah yang di dalam Anda kesempatan untuk bersafaat bagi mereka. Dengan cara ini Allah akan menjamah seisi dunia melalui orang-orang kudus-Nya.

Apakah saya mempersulit pekerjaan Roh Kudus dengan bersikap ragu-ragu dan tidak yakin, atau dengan mencoba untuk melakukan pekerjaan-Nya bagi Dia?

Saya harus melakukan doa syafaat dari sisi manusia, dan sisi manusia adalah situasi dimana saya ada didalamnya dan orang-orang yang kepadanya saya berhubungan. Saya harus menjaga kesadaran saya sebagai tempat kudus bagi Roh Kudus. Lalu saat saya memanjatkan doa bagi orang-orang lain kepada Allah, maka Roh Kudus berdoa bagi mereka.

Doa syafaat Anda tidak pernah dapat menjadi doa syafaat saya, dan doa syafaat saya tidak mungkin menjadi doa syafaat Anda, “. . .tetapi Roh Sendiri berdoa syafaat” dalam setiap kehidupan kita (Roma 8:26). Dan tanpa doa syafaat ini, kehidupan orang lain akan tetap berada dalam kemiskinan (rohani) dan kehancuran.

Sabtu, 06 November 2010

6 Nov ‘ 10 - Teologi Keakraban

APAKAH kepercayaan kita adalah milik, warisan kita pribadi, sehingga jiwa kita merasakan keakraban dengan Tuhan, dan dapat mengatakan “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Kristus”. Tetapi untuk sampai disitu suatu proses, kata Renungan hari ini. Hal ini tidak akan pernah terjadi sampai kita merasakan kebutuhan pribadi , dan kita mendengar bisikan-Nya,  “Apakah engkau percaya ……?”

 TEOLOGI KEAKRABAN

 “Percayakah engkau akan hal ini?” (Yohanes 11:26).

MARTA percaya akan kuasa yang ada pada Yesus Kristus; Marta percaya bahwa jika Dia ada di sana, Dia tentu sudah menyembuhkan saudaranya; Marta juga percaya bahwa Yesus memiliki keakraban yang khusus dengan Allah, dan apa pun yang Dia minta dari Allah, maka Allah akan melakukannya.

Akan tetapi - Marta memerlukan keakraban pribadi yang lebih dekat dengan Yesus. Teologi Marta yang digenapi di masa yang akan datang. Akan tetapi, Yesus terus menarik dan membawa Marta masuk sampai kepercayaan Marta menjadi miliknya yang akrab. Kemudian hal ini perlahan-lahan akan timbul menjadi warisan pribadi - “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Kristus” (Yohanes 11:27).

Apakah Tuhan memperlakukan Anda dengan cara seperti itu? Apakah Yesus mengajar Anda untuk memiliki hubungan pribadi dengan Diri-Nya sendiri?

Izinkanlah Dia membisikkan pertanyaan-Nya langsung kepada Anda – “Apakah engkau percaya akan hal ini?” Apakah keragu-raguan yang tidak mengenakkan dalam kehidupan Anda? Apakah Anda, seperti Marta, tiba di sesuatu persimpangan jalan situasi pribadi yang melingkupi Anda dimana teologi Anda,  mengundang Anda masuk dalam suatu kepercayaan yang sangat pribadi? Hal ini tidak akan pernah terjadi sampai kebutuhan pribadi timbula dari suatu masalah pribadi.

Percaya berarti berpenyerahan, commit. Dalam hal belajar secara intelektual, saya commit secara mental, dan menolak segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kepercayaan itu. Dalam alam kepercayaan pribadi, saya commit secara moral atas keyakinan saya dan menolak untuk berkompromi. Akan tetapi, dalam kepercayaan pribadi secara akrab, saya commit secara rohani/spiritual kepada Yesus Kristus dan membuat keputusan untuk dikuasai hanya oleh Dia saja.

Lalu, ketika saya berhadapan muka dengan muka dengan Yesus Kristus dan Dia mengatakan kepada saya, “Apakah engkau percaya akan hal ini?”, saya mendapati bahwa iman sama wajarnya dengan bernapas. Dan saya tersentak ketika memikirkan betapa bodohnya saya selama ini karena tidak mempercayai-Nya sebelumnya.

Jumat, 05 November 2010

5 Nov ’10 - Mengambil Bagian Dalam Penderitaan Kristus


KECENDRUNGAN banyak orang ikut Tuhan (termasuk beribadah) untuk mendapatkan kesenangan – kesenangan menurut pemikiran/gagasan kita. Renungan hari ini justru tentang makna dan panggilan mengalami “Mengambil Bagian Dalam Penderitaan Kristus”.  Selanjutnya dibawah ini:

MENGAMBIL BAGIAN DALAM PENDERITAAN-NYA
“Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, ….. “ (1 Petrus 4:13).
JIKA Anda mau dipakai oleh Allah, Dia akan membawa Anda melewati beberapa pengalaman yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk Anda secara pribadi. Pengalaman ini dirancang untuk menjadikan Anda berguna dalam tangan-Nya, dan untuk memampukan Anda mengerti apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain.
Dengan adanya proses ini, Anda tidak akan pernah terkejut dengan apa yang terjadi dalam perjalanan hidup Anda. Anda berkata, “Oh, saya tidak dapat menangani orang itu.” Mengapa tidak? Allah memberi Anda kesempatan yang cukup untuk belajar dari Dia mengenai masalah tersebut. Tetapi Anda berbalik, tidak memperhatikan pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman itu, karena kelihatannya amat bodoh untuk menghabiskan waktu Anda dengan cara seperti itu.
Penderitaan Kristus bukanlah penderitaan manusia biasa. Dia menderita “karena kehendak Allah” (1 Petrus 4:19), jadi mempunyai sudut pandang penderitaan yang berbeda dari penderitaan kita. Hanya melalui hubungan kita dengan Yesus Kristus saja kita dapat mengerti apa yang Allah inginkan dalam berhubungan dengan kita.
Ketika penderitaan datang, adalah merupakan bagian dari kebudayaan kristiani kita untuk ingin mengetahui maksud Allah terlebih dahulu. Dalam sejarah gereja Kristen, terdapat kecenderungan untuk menghindar dari hal-hal yang berkaitan dengan penderitaan Yesus Kristus. Orang mencari cara untuk melaksanakan perintah Alllah melalui jalan pintas mereka sendiri. Jalan Allah selalu jalan penderitaan.
Apakah kita mengambil bagian dalam penderitaan Kristus? Apakah kita siap bila Allah menyingkirkan ambisi pribadi kita? Apakah kita siap bila Allah menghancurkan keputusan-keputusan pribadi kita dengan mengubahnya secara adikodrati?
Ini akan berarti kita tidak tahu persis mengapa Allah memperlakukan kita dengan cara seperti itu, karena bila kita mengetahuinya akan membuat kita menjadi sombong rohani. Kita tidak pernah menyadari saat Allah membawa kita mengalaminya; kita melalui dan mengalaminya tanpa memahaminya sepenuhnya. Kemudian tiba-tiba kita sampai ke tempat pencerahan, dan menyadari - “Allah telah menguatkan saya dan saya bahkan tidak mengetahuinya!”

Kamis, 04 November 2010

4 Nov ’10 - Otorisatas (Kuasa) Kebenaran

ORANG percaya yang paling lemah, kata Renungan hari ini, yang membuka diri dan mengatakan “ya” pada undangan Yesus “Marilah kepada’KU”, pada detik itu juga … kuasa Allah Yang Mahakuasa telah tersedia baginya. Kuasa adikodrati kehidupan Allah memasuki orang tersebut. Itulah otoritas (kuasa) kebenaran Firman Tuhan. Masalahnya sering, hal terakhir yang kita ingin lakukan adalah datang! Selanjutnya dalam NOTES dibawah ini.


OTORISATAS (KUASA) KEBENARAN

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu” (Yakobus 4:8).

PENTING bagi Anda untuk memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertindak berdasar kebenaran Allah. Tanggung jawab itu harus diserahkan kepada perorangan – Anda tidak dapat bertindak untuk seseorang lain. Itu haruslah merupakan tindakan dari kesadaran diri orang itu sendiri, tetapi berita Injil haruslah selalu menuntun seseorang untuk melakukan suatu tindakan (berdasar kebenaran Allah).

Menolak untuk melakukan hal itu akan menyebabkan orang tersebut tetap lumpuh, persis seperti keadaan dia sebelumnya. Akan tetapi, sekali ia bertindak, ia tidak akan pernah sama lagi.

Kelihatannya kurangnya pengetahuan akan kebenaranlah yang menjadi penghalang bagi ratusan orang diinsafkan oleh Roh Allah.

Begitu saya bertindak, seketika itu saya mulai hidup. Jika saya tidak bertindak maka saya hanya bernyawa tetapi tidak hidup sesungguhnya. Saat dimana saya benar-benar hidup adalah ketika saya bertindak dengan segenap kemauan saya.

Ketika kebenaran Allah mendapat tempat dalam jiwa Anda, jangan pernah membiarkannya berlalu tanpa memberinya kesempatan secara internal bekerja dalam kehendak Anda, bukan secara eksternal dalam kehidupan fisik Anda. Catatlah hal ini dengan tinta dan darah - terapkan hal ini dalam kehidupan Anda.

Orang percaya yang paling lemah, yang membuka diri dan mengatakan “ya” pada Yesus, pada detik itu juga dibebaskan dan kuasa Allah Yang Mahakuasa telah tersedia baginya.

Masalahnya sering, kita datang pada kebenaran Allah, mengaku bersalah, tetapi berbalik lagi. Kemudian kita mendekatinya lagi dan kembali mundur, sampai akhirnya kita belajar bahwa kita tidak perlu mundur lagi.
Ketika kita diperhadapkan dengan Firman kebenaran dari Tuhan Penebus kita, kita harus segera bertindak mengatakan “ya”. Ketika  Yesus berfirman “Marilah kepada-Ku (Matius 11:28), firman-Nya berarti “bertindaklah”, datanglah kepada-Nya.

Namun kenyataannya, hal terakhir yang kita ingin lakukan adalah datang. Akan tetapi, setiap orang yang datang mengetahui bahwa tepat pada saat ia datang, kuasa adikodrati kehidupan Allah memasuki orang tersebut.

Kuasa dunia yang menguasainya, kedagingan dan iblis sekarang dilumpuhkan, bukan karena tindakan Anda, tetapi karena tindakan Anda telah menyatukan Anda dengan Allah dan membuka jalan bagi Anda untuk masuk ke dalam kuasa penebusan-Nya.

Jumat, 29 Oktober 2010

29 Okt ‘ 10 - Penggantian (Substitusi)

DALAM Renungan “Penggantian” hari ini ditegaskan, bahwa kita diterima oleh Allah bukan karena kita taat, bukan juga karena kita telah berjanji untuk berhenti melakukan hal-hal tertentu, namun hanya karena kematian Kristus, dan tidak ada alasan lain. Selanjutnya dibawah ini:




PENGGANTIAN (SUBSTITUSI)

 “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

PANDANGAN modern tentang kematian Yesus adalah bahwa Ia mati bagi dosa-dosa kita karena rasa simpati terhadap kita. Namun pandangan Perjanjian Baru ialah bahwa Ia memikul dosa-dosa kita karena Ia menyamakan diri-Nya, atau pengidentifikasian diri-Nya dengan kita. Ia “dibuat menjadi dosa….”

Dosa-dosa kita diangkat karena kematian Yesus, dan satu-satunya penjelasan dari kematian-Nya adalah karena ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya, bukan karena rasa simpati-Nya kepada kita. Kita diterima oleh Allah bukan karena kita taat, bukan juga karena kita telah berjanji untuk berhenti melakukan hal-hal tertentu, namun hanya karena kematian Kristus, dan tidak ada alasan lain.

Kita berkata bahwa Yesus Kristus datang untuk menunjukkan sifat kebapaan dan penuh kasih serta kebaikan Allah, namun Perjanjian Baru mengatakan bahwa Ia datang untuk “menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Dan pernyataan sifat kebapaan Allah hanya diberikan kepada mereka yang telah mengenal Yesus sebagai Juruselamat.

Ketika berbicara kepada dunia, Yesus Kristus tidak pernah menyebut diri-Nya sebagai Dia yang menyatakan diri Bapa, namun la justru berbicara tentang menjadi batu sandungan (lihat Yohanes 15:22-24). Dalam Yohanes 14:9, dimana Yesus berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa,” Ia mengatakan-Nya kepada para murid-Nya.

Bahwa Kristus mati bagi saya, dan karenanya saya terbebas dari hukuman, tidak pernah diajarkan dalam Perjanjian Baru. Apa yang diajarkan dalam Perjanjian Baru adalah bahwa “Kristus telah mati untuk semua orang” (2 Korintus 5:15) - dan dengan menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya maka saya dapat dibebaskan dari dosa, dan memperoleh kebenaran-Nya yang diberikan sebagai karunia atau pemberian bagi saya.

Penggantian (substitusi) yang diajarkan dalam Perjanjian Baru ini bersifat ganda - “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”

Pelajarannya bukanlah “Kristus bagi saya” kecuali saya sungguh sungguh-sungguh menghendaki Kristus dibentuk di dalam diri saya (lihat Galatia 4:19).  (My Utmost for His Highest, 29 Oktober)

Kamis, 28 Oktober 2010

28 Okt ’10 - Dibenarkan Oleh Iman

APAKAH yang membuat kita benar dihadapan Allah? Ketaatan, kekudusan, dan pengabdian kita? Bukan! Renungan hari ini menegaskan, kita diperdamaikan dengan Allah karena sebelum semuanya itu, Kristus telah mati. Semuanya itu adalah akibat, bukan sebab. Kita dibenarkan, bukan karena telah bertobat, namun karena apa yang Yesus telah kerjakan. Dan oleh Roh Allah kita tahu bahwa kita telah diselamatkan, walaupun tidak tahu bagaimana hal itu terjadi.


DIBENARKAN OLEH IMAN

“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5:10)

SAYA tidak diselamatkan karena percaya - saya percaya bahwa saya diselamatkan karena percaya. Dan bukan juga pertobatan yang menyelamatkan saya – pertobatan hanyalah merupakan tanda bahwa saya menyadari apa yang telah Allah perbuat melalui Yesus Kristus.

Bahayanya di sini adalah jika kita menekankan pada akibat dan bukannya pada sebab. Apakah ketaatan, kekudusan, dan pengabdian saya yang membuat saya benar di hadapan Allah?

Bukan! Saya diperdamaikan dengan Allah karena sebelum semuanya itu, Kristus telah mati. Ketika saya berbalik kepada Allah dan percaya serta menerima apa yang Allah nyatakan, maka mukjizat keselamatan melalui salib Kristus langsung menempatkan saya dalam hubungan yang benar dengan Allah. Dan sebagai hasil dari mukjizat anugerah Allah yang adikodrati, saya dibenarkan, bukan karena saya menyesali dosa-dosa saya, atau saya telah bertobat, namun karena apa yang Yesus telah kerjakan bagi saya. Roh Allah membawa pembenaran dengan sinar yang terang benderang dan saya tahu bahwa saya telah diselamatkan, walaupun saya tidak tahu bagaimana hal itu terjadi.

Keselamatan yang datang dari Allah tidak didasarkan pada logika manusia, namun pada korban kematian Yesus. Kita dapat dilahirkan kembali semata-mata karena karya penebusan Tuhan kita. Pria dan wanita yang berdosa dapat diubahkan menjadi manusa baru, bukan karena pertobatan atau kepercayaan mereka, namun oleh pekerjaan Allah yang ajaib melalui Yesus Kristus yang mendahului mua pengalaman kita (lihat 2 Korintus 5:17-19).

Kepastian mutlak dari pembenaran dan pengudusan adalah Allah sendiri. Kita tidak perlu mengusahakan hal-hal itu sendiri - karena semuanya itu telah dikerjakan melalui karya penebusan dan salib Kristus. Yang adikodrati menjadi hal yang natural/alami bagi kita melalui mukjizat Allah, dan terjadi realisasi atau pewujudan dari apa yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus – “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). (My Utmost for His Highest, 28 Oktober)

Kamis, 21 Oktober 2010

21 Okt ‘ 10 - Sifat Impulsif Atau Kemuridan?

IMPULSIF, menurut Kamus Besar Indonesia, biasa bertindak tiba-tiba mengikuti gerakan hati. Renungan hari ini mengatakan, kebanyakan kita mengembangkan kekristenan kita berdasarkan sifat impulsif ini, bukan berdasarkan sifat Allah. Sifat impulsif ini merintangi perkembangan hidup seorang murid.

SIFAT IMPULSIF ATAU KEMURIDAN?

“Akan tetapi kamu, Saudara-sudaraku yang terkasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci...” (Yudas 20).

SIFAT impulsif atau tindakan tanpa pikir-panjang bukanlah sifat Tuhan kita Yesus, tetapi Dia selalu bertindak dengan kekuatan yang tenang dan tidak pernah panik.

Kebanyakan dari kita mengembangkan kekristenan kita berdasarkan sifat kita sendiri, bukan berdasarkan sifat Allah. Sifat impulsif merupakan ciri khas kehidupan duniawi/daging, dan Tuhan kita tidak berkenan dengannya, karena sifat impulsif itu merintangi perkembangan hidup seorang murid.

Perhatikanlah cara Roh Allah memberikan pengekangan terhadap sifat impulsif. Roh itu kemudian membawa kepada kita suatu kesadaran diri akan kebodohan diri, yang membuat kita selalu ingin membela atau membenarkan diri.

Sifat impulsif ini tidak apa-apa di dalam diri seorang anak, tetapi berbahaya di dalam diri seorang pria atau wanita dewasa. Seorang dewasa yang impulsif selalu merupakan seorang pribadi yang manja. Sifat impulsif perlu dilatih menjadi intuisi melalui disiplin.

Kemuridan dibangun sepenuhnya atas dasar anugerah Allah yang adikodrati. Berjalan di atas air itu mudah bagi seseorang dengan keberanian impulsif, tetapi berjalan di atas tanah kering sebagai seorang murid Yesus Kristus adalah hal yang berbeda sama sekali. Petrus berjalan di atas air untuk pergi kepada Yesus, tetapi dia “mengikuti Dia dari jauh” di tanah kering (Markus 14:54).

Kita tidak memerlukan anugerah Allah untuk bertahan terhadap krisis. Sifat dan keangkuhan manusiawi cukup bagi kita untuk menghadapi tekanan dan ketegangan dengan gagah. Akan tetapi, dibutuhkan anugerah Allah yang adikodrati untuk hidup dua puluh empat jam setiap hari sebagai seorang percaya, dengan menekuni pekerjaan yang membosankan dan menghayati kehidupan biasa, tidak diperhatikan, dan diabaikan sebagai seorang murid Yesus.

Kesan bahwa kita harus melakukan hal-hal yang luar biasa (eksepsional) bagi Allah telah mendarah-daging di dalam kita, tetapi kita tidak perlu bertindak demikian. Kita harus menjadi luar biasa dalam hal-hal biasa dalam kehidupan, dan menjadi suci dalam lingkungan biasa, di antara orang-orang biasa - dan hal ini tidak dapat dipelajari dalam waktu yang singkat. (My Utmost for His Highest, 21 Oktober)