Jumat, 08 Januari 2010


”All to Jesus I surrender”, atau ”Berserah Kepada Yesus” (KJ 364) merupakan salah satu kidung yang sangat dikenal. Tapi apa arti dan bagaimana sesungguhnya ”mempersembahkan hidup”, seperti yang dimaksudkan Tuhan? Seperti Abraham kah? Renungan dengan judul ”Apakah Persembahan Saya Hidup?” mengajak kita melihat dan menghidupinya lebih jauh.

......... Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, ... diikatnya Ishak,  ... dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api”. (Kejadian 22:9).


Peristiwa ini sering memberikan sebuah gambaran keliru dalam pemikiran bahwa hal mendasar yang diinginkan Allah dari kita ialah mati sebagai korban persembahan.

Sesungguhnya yang diinginkan Allah adalah pengorbanan melalui kematian yang menyanggupkan kita untuk melakukan tindakan yang dilakukan oleh Yesus, yaitu mempersembahkan hidup kita. Bukannya - “Tuhan, aku bersedia... mati bersama-sarna dengan Engkau” (Lukas 22:33), melainkan – “Aku bersedia dipersatukan dengan kematian-Mu agar aku boleh mempersembahkan hidupku kepada Allah”.


Agaknya kita berpendapat bahwa Allah ingin kita melepaskan segala sesuatu! Allah meluruskan Abraham dari kekeliruan ini, dan proses serupa juga berlangsung dalam hidup kita. Allah tidak pernah menyuruh kita melepaskan segala sesuatu hanya demi melepaskannya saja, melainkan Dia menyuruh kita melepaskannya demi memperoleh satu-satunya hal yang patut dimiliki, yaitu kehidupan bersama Dia sendiri. Ini merupakan persoalan melepaskan ikatan yang merintangi hidup kita, dan segera setelah ikatan tersebut lepas melalui persatuan (identifikasi) dengan kematian Yesus, kita masuk dalam hubungan dengan Allah, dengan (jalan) mana kita dapat mempersembahkan hidup kita bagi-Nya.


Tidak ada nilai atau artinya bagi Allah bila Anda menyerahkan hidup Anda kepada-Nya untuk kematian. Dia ingin Anda menjadi “persembahan yang hidup” - untuk mengizinkan Dia memiliki semua kekuatan Anda yang telah diselamatkan dan dikuduskan melalui Yesus (Roma 12:1). Inilah hal yang berkenan kepada Allah. (My Utmost for His Highest 8 Januari 2010)

Tidak ada komentar: