Selasa, 23 Februari 2010

Tekad Untuk Melayani


ENTAH BAGAIMANA, kita sering mempunyai pendapat bahwa seseorang yang dipanggil melayani, dipanggil untuk tampil beda dan berada di atas orang lain. Apa sebenarnya yang menjadi pendorong dalam pelayanan kita? Renungan hari ini mengatakan, bila pelayanan kita untuk tujuan kemanusiaan, maka siaplah kecewa, karena perlakuan tak-berterima kasih orang lain. Yang benar bagaimana? Selanjutnya dibawah ini:

Tekad Untuk Melayani
Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani...” (Matius 20:28).
Yesus juga bersabda, “Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Lukas 22:27).
Gagasan Paulus tentang pelayanan sama dengan gagasan Tuhan kita - “... kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2 Korintus 4:5).
Entah bagaimana, kita sering mempunyai pendapat bahwa seseorang yang dipanggil untuk melayani itu dipanggil untuk tampil beda dan berada di atas orang lain. Akan tetapi, menurut Yesus Kristus, dia dipanggil untuk menjadi alas kaki bagi orang lain - dipanggil menjadi pemimpin rohani mereka, tetapi tidak pernah menjadi atasan mereka.
Paulus mengatakan,  said, “Aku tahu apa itu kekurangan …..(Philippians 4:12 ). Gagasan Paulus tentang pelayanan adalah mencurahkan hidupnya sampai ke tetes penghabisan bagi orang lain. Dan apakah dia akan menerima pujian atau celaan tidaklah menjadi soal. Selama masih ada seorang manusia yang belum mengenal Yesus, Paulus merasa berutang untuk melayani orang itu sampai dia mengenal-Nya. Akan tetapi, dorongan utama di balik pelayanan Paulus bukanlah kasih kepada orang lain melainkan kasih kepada Tuhannya.
Bila pengabdian kita untuk tujuan kemanusiaan, kita akan segera kalah dan patah hati, karena kita akan sering berhadapan dengan perlakuan yang tak-berterima kasih dari orang lain. Akan tetapi, jika kita didorong oleh kasih kita kepada Allah, sikap tak-berterima-kasih macam apa pun takkan dapat merintangi kita untuk melayani orang lain.
Pengertian dan pemahaman Paulus tentang cara bagaimana Kristus berurusan dengan dia merupakan rahasia di balik tekadnya untuk melayani orang lain. “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas...” (1 Timotius 1:13). Dengan kata lain, betapa pun buruknya orang lain memperlakukan Paulus, mereka tidak pernah memperlakukan dia seburuk kedengkian dan kebencian yang dilakukannya terhadap Yesus Kristus.
Pada saat kita menyadari bahwa Yesus telah melayani kita bahkan sampai ke serba-kekurangan kita, egoisme kita, dan sampai ke kedalaman dosa kita, maka perlakuan buruk apa pun yang kita terima dari orang lain tidak akan sanggup merongrong tekad kita untuk melayani orang lain demi Dia. (My Utmost for His Highest, 23 Februari 2010)

Tidak ada komentar: