Kamis, 25 Februari 2010

Kemiskinan dalam Pelayanan*)

KONSEP Alkitab tentang Pelayan memang tidak populer. Bahkan sering sungsang dengan keinginan kita. Melayani berarti menjadi hamba bagi orang lain, melayani tanpa reserve, bersedia menjadi miskin seperti Yesus, bersedia ”menjadi roti yang dipecahkan dan anggur yang dicurahkan di tangan Yesus Kristus demi kepentingan orang lain”, seperti ditunjukkan oleh Paulus. Lebih lanjut dibawah ini:

Kemiskinan dalam Pelayanan*)


Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?” (2 Korintus 12. 15)

Kasih manusia biasanya mengharapkan suatu imbalan. Akan tetapi Paulus menyatakan, tidaklah menjadi soal bagiku apakah kamu mengasihiku atau tidak. Aku bersedia untuk menjadi miskin, demi kamu, agar aku dapat membawamu kepada Allah. ”Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin” (2 Korintus 8:9). Dan gagasan Paulus tentang pelayanan sama seperti gagasan Tuhan kita. Dia tidak peduli besarnya risiko atau harga yang harus dibayarnya - dia dengan senang hati menanggungnya. Itu merupakan sukacita penuh bagi Paulus

Gagasan (lembaga) gereja tentang seorang hamba Tuhan adalah sering tidak sepenuhnya sama dengan gagasan Yesus Kristus. Gagasan Yesus adalah bahwa kita melayani Dia dengan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus Kristus sebenarnya lebih sosial daripada kaum sosialis. Dia berkata bahwa dalam kerajaan-Nya orang yang terbesar adalah menjadi pelayan bagi semua (lihat Matius 23:11).

Ujian sesungguhnya dari seorang kudus bukanlah kesediaannya memberitakan Injil, melainkan kesediaannya untuk melakukan sesuatu seperti pembasuhan kaki murid: hal-hal yang tampaknya tidak penting dalam penilaian manusia, namun adalah segalanya bagi Allah. Adalah kesukaan Paulus mengorbankan hidupnya bagi perhatian Allah terhadap orang lain, dan dia tidak peduli apa pun harganya.

Akan tetapi, sebelum mau melayani, kita biasanya berhenti sejenak untuk mempertimbangkan urusan pribadi dan keuangan kita: “Bagaimana jika Allah menghendaki aku pergi ke seberang sana? Bagaimana dengan gajiku? Bagaimana iklimnya di sana? Siapa yang akan memperdulikan aku? Seseorang haruslah mempertimbangkan semua hal ini!”.

Semua ini merupakan pertanda bahwa kita reserve, kita menetapkan syarat-syarat dalam melayani Allah. Akan tetapi, rasul Paulus tidak. Dia tidak mempunyai syarat atau keberatan. Paulus memusatkan kehidupannya pada gagasan Yesus Kristus tentang seorang kudus Perjanjian Baru - yaitu bukan seorang yang semata-mata memberitakan Injil, melainkan seorang yang menjadi roti yang dipecahkan dan anggur yang dicurahkan di tangan Yesus Kristus demi kepentingan orang lain. (My Utmost for His Highest, 25 Februari 2010)

*) Judul asli renungan “The Destitution of Service”. Kata destitution, dari kata destitute, menurut Kamus Cambridge, lebih dari sekedar miskin, tapi begitu miskin sehingga tidak mempunyai kebutuhan pokok dan uang

Tidak ada komentar: