Jumat, 12 Februari 2010

Apakah Anda Mendengarkan Allah?

”Apakah Anda Mendengarkan Allah?”, judul renungan kita hari ini. Chambers mengatakan, apabila kita lebih suka mendengarkan suara hamba Tuhan, lebih suka mendengar kesaksian-kesaksian, dari pada mendengarkan Tuhan sendiri, hal itu sesungguhnya ”menunjukkan betapa kurangnya kasih kita kepada Allah”. Lebih jauh dibawah ini:

Apakah Anda Mendengarkan Allah?

Mereka berkata kepada Musa: ”Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan: tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati” (Keluaran 20:19).

Kita tidak dengan sadar mengingkari Allah, hanya karena kita tidak memperhatikan Dia. Allah telah memberikan perintah-Nya kepada kita, tetapi kita tidak memberikan perhatian, bukan karena ketidak patuhan yang disengaja, namun karena kita tidak benar-benar mengasihi dan menghormati Dia. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15).

Ketika kita menyadari bahwa kita telah terus-menerus menunjukkan rasa tidak hormat kepada Allah, kita akan dipenuhi rasa malu dan terhina karena mengabaikan Dia.

“Engkaulah berbicara dengan kami, ... tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami...”. Kita menunjukkan betapa kurangnya kasih kita kepada Allah dengan lebih suka mendengarkan suara para hamba-Nya ketimbang mendengarkan Dia sendiri. Kita suka mendengarkan kesaksian-kesaksian pribadi, tetapi kita enggan mendengar Allah sendiri berbicara kepada kita.

Mengapa kita begitu takut bila Allah berbicara kepada kita? Karena kita tahu apabila Allah berbicara, kita harus melakukan hal yang diperintahkan-Nya, atau kita harus mengatakan kepada-Nya bahwa kita tidak mau taat. Namun jika sekiranya hanya seorang hamba Allah yang berbicara kepada kita, kita merasa bahwa kepatuhan (kepada Tuhan) merupakan pilihan, bukan keharusan. Kita menanggapinya dengan berkata, “Wah, itu hanya gagasanmu sendiri, walaupun aku tidak menyangkal bahwa ucapanmu itu barangkali adalah kebenaran Allah.”

Adakah saya selalu merendahkan Allah dengan tidak mengindahkan-Nya, sementara Dia dengan kasih-Nya terus-menerus memperlakukan saya sebagai anak-Nya?

Ketika pada akhirnya saya mendengar Dia, hinaan yang saya timpakan atas diri-Nya berbalik kepada saya. Respon saya kemudian menjadi, “Tuhan, mengapa aku begitu tidak peka dan keras kepala?”

Hal inilah yang selalu terjadi ketika akhirnya kita mendengar Dia. Akan tetapi, kegembiraan sejati ketika akhirnya kita mendengarkan Dia, kegembiraan disertai rasa malu karena perlu waktu begitu lama untuk sadar. (My Utmost for His Highest, 12 Februari 2010)

Tidak ada komentar: