Kamis, 02 September 2010

2 Sep ’10 - Hidup Yang Murni dan Pengorbanan Yang Kudus

APA atau bagaimana sih sukses atau keberhasilan rohani?

Renungan hari ini menekankan, hidup rohani kita tidak dapat diukur dengan keberhasilan seperti dunia mengukurnya, tetapi dengan hal yang dicurahkan Allah melalui kita – dan kita tidak dapat mengukur hal itu . 



HIDUP YANG MURNI DAN PENGORBANAN YANG KUDUS

“Siapa saja yang percaya kepada-Ku …….: Dari dalam hatinya akan mengalir …..” (Yohanes 7:38)

YESUS tidak berkata, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku akan menyadari berkat kepenuhan Allah” tetapi, dalam esensinya, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku dari dia akan mengalirkan segala sesuatu yang diterimanya”.

Ajaran Tuhan kita selalu anti atau menentang pewujudan diri-sendiri (self realization). Tujuan-Nya bukanlah pengembangan diri seseorang, tetapi menjadikan seseorang tepat seperti diri-Nya; dan Anak Allah dikarakterisasi siap memberikan diri-Nya.

Jika kita percaya kepada Yesus, maka yang penting bukanlah hal yang kita peroleh, melainkan hal yang dicurahkan-Nya melalui kita. Maksud Allah bukanlah menjadikan kita buah anggur yang bagus dan bernas, melainkan untuk menjadikan kita buah angur agar Dia dapat memeras kemanisannya dari kita.

Hidup rohani kita tidak dapat diukur dengan keberhasilan seperti dunia mengukurnya, tetapi dengan hal yang dicurahkan Allah melalui kita – dan kita tidak dapat mengukur hal itu .   

Ketika Maria dari Betahia memecahkan leher botol pualam berisi  minyak narwastu murni yang mahal harganya dan menucurahkan minyak itu ke atas kepala Yesus,  itu adalah tindakan yang tidak seorangpun memandangnya sebagai kejadian istimewa; malah faktanya, “ ….. beberapa orang … berkata, ‘Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?” (lihat markus 14:3-4). Akan tetapi Yesus memuji tindakan pengabdian Maria yang ektravagan tersebut dan berkata, “…dimana saja Injil diberitakan diseluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Markus 14:9).

Tuhan kita penuh dengan sukacita yang meluap-luap bila Dia melihat kita bertindak seperti Maria – tidak terikat pada seperangkat aturan, tetapi menyerah sepenuhnya kepada-Nya. Allah mencurahkan kehidupan Anak-Nya “supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yohanes 3:17).

Bersediakah kita mencurahkan hidup kita bagi-Nya?
 “Siapa saja yang percaya kepada-Ku ….: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Inilah saatnya bagi kita memecahkan “botol pualam” kehidupan kita, untuk berhenti mencari kepuasan diri sendiri, dan mencurahkan hidup kita dihadapan-Nya.
Tuhan bertanya kepada kita siapakah diantara kita yang mau melakukan ini bagi-Nya. (My Utmost for His Highest, 2 September).

Tidak ada komentar: