Sabtu, 11 September 2010

11 Sep ’10 – Senjata Misionaris (2)

RENUNGAN hari ini, merupakan rangkaian yang kemarin dengan judul yang sama. Yang menekankan kesiapan kita dalam pekerjaan besar kedepan, yang mungkin bahkan dihadapkan dengan krisis, dimulai dari kesetiaan pada tugas-tugas biasa setiap harinya, yang dikerjakan dengan membiarkan Yesus menjelma di dalam diri kita, sehingga dapat melakukan tugas sebagaimana seharusnya dilakukan, dengan cara-Nya, walaupun itu tugas biasa/sederhana.

SENJATA MISIONARIS (2)

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” (Yohanes 13:14)

MELAYANI Setiap Kesempatan Sekitar Kita. Ini tidak berarti kita memilih sendiri lingkungan pelayanan yang pas menurut kita, tetapi, ini menurut pilihan sangat khusus dari Allah yang telah dirancang-Nya bagi kita. Karakter yang kita tunjukkan dalam lingkungan kita sekarang ini merupakan pertanda (indikasi) dari apa yang akan tampak nantinya dalam lingkungan lain.

Dari teks diatas kita tahu, pekerjaan yang dilakukan Yesus adalah pekerjaan sehari-hari yang paling rendah, dan ini merupakan pertanda bahwa saya perlu membiarkan kuasa Allah di dalam diri saya untuk melaksanakan tugas-tugas yang biasa-biasa menurut cara-Nya. Dapatkah saya memakai “sehelai handuk” seperti yang dilakukan-Nya?

“Handuk”, “piring”, “sandal” dan semua hal biasa-biasa dan tampak rendah (sordid things) dalam hidup kita menyingkapkan lebih cepat siapa kita sebenarnya dari pada hal lainnya. Kita perlu membiarkan Anak Allah Yang Mahakuasa menjelma di dalam diri kita untuk dapat melakukan tugas sederhana sebagaimana seharusnya dilakukan.

Yesus berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. (Yohanes 13:15). Perhatikanlah macam orang yang ditempatkan Allah disekitar Anda, dan Anda akan merasa rendah tidak ada apa-apa begitu Anda menyadari bahwa inilah cara Allah menyingkapkan kepada Anda seperti apa Anda sebelumnya dihadapan-Nya. Dalam nas diatas Dia berkata bahwa kita harus menunjukkan  kepada orang lain disekitar  kita tepat seperti yang telah ditunjukkan kepada kita.

 “Oh”, tanggap Anda, “aku akan melakukan semua itu nanti ketika aku ada diladang misi? Berkata demikian sama seperti mencoba membuat senjata perang, baru setelah ada di parit perlindungan di medan pertempuran – terlambat, lagi pula Anda akan tewas selagi mencobanya.

Kita harus menjalani “mil kedua” bersama dengan Allah (lihat Matius 5:41). Namun sebagian dari kita menjadi kepayahan pada sepuluh langkah pertama, karena merasa dipaksa pergi ke tempat yang kita tahu jalannya, dan berkata, “Wah, aku akan menunggu sampai aku lebih dekat dengan krisis besar berikutnya dalam hidupku.”

Jika kita tidak melakukan apa yang harus kita lakukan secara tetap dalam setiap kesempatan yang ada sehari-harinya, maka kita takkan berbuat apa-apa ketika krisis datang. (My Utmost for His Highest, 11 September)

Tidak ada komentar: