Kamis, 05 Agustus 2010

5 Agu ’10 - Panggilan Allah Yang Membingungkan

RENUNGAN hari ini, tentang Panggilan Allah - seperti apa Dia maksudkan dan inginkan kita ikutserta didalamnya - tidak pernah dapat dipahami kecuali secara batiniah. Bahkan Oswald Chambers menyebutnya sebagai panggilan yang membingungkan: Tapi tidak bagi orang-orang yang benar-benar percaya bahwa Allah tahu akan hal yang diinginkan-Nya dari kita, Dia yang menjadikan kita sahabat-Nya untuk menggenapi maksud-Nya.
PANGGILAN ALLAH YANG MEMBINGUNGKAN
...dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.... Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu (Lukas 18:31,34).
Allah memanggil Yesus Kristus untuk mengalami hal yang tampaknya merupakan bencana dahsyat. Dan Yesus Kristus memanggil para murid-Nya untuk melihat Dia dibunuh, membawa mereka pada pengalaman yang menghancurkan hati. Hidup-Nya merupakan kegagalan mutlak dilihat dari setiap sudut pandang, kecuali sudut pandang Allah. Akan tetapi, hal yang tampaknya berupa kegagalan dan sudut pandang manusia justru merupakan kemenangan dan sudut pandang Allah, karena maksud Allah tidak pernah sama dengan maksud manusia.
Panggilan Allah yang membingungkan ini juga datang dalam kehidupan kita. Panggilan Allah tidak pernah dapat dipahami sepenuhnya atau dijelaskan secara lahiriah, tetapi hanya dapat dirasakan dan dipahami secara batiniah kita yang terdalam.
Tujuan panggilan Allah kepada kita tidak dapat dinyatakan secara definit atau pasti, karena panggilan-Nya itu hanya untuk menjadi sahabat-Nya untuk menggenapi maksud-Nya sendiri.
Cara kita mengujinya ialah dengan benar-benar percaya bahwa Allah tahu akan hal yang diinginkan-Nya. Segala sesuatu yang terjadi tidaklah terjadi secara kebetulan – hal itu terjadi sepenuhnya oleh keputusan Allah. Allah berdaulat untuk melaksanakan maksud-Nya.
Jika ada dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah dan menyadari bahwa Dia mengikutsertakan kita ke dalam maksud-Nya, maka kita tidak akan berjuang lagi untuk mengetahui maksud-Nya. Sementara kita bertumbuh dalam kehidupan Kristen, hal itu menjadi lebih “sederhana” bagi kita, dan  kita tidak lagi dengan mudahnya berkata, “Mengapa Allah mengizinkan hal ini atau hal itu terjadi?” Dan kita mulai melihat bahwa maksud Allah yang sesungguhnya ada di balik segala sesuatu dalam kehidupan, dan Allah secara ilahi membentuk kita kedalam kesatuan dengan maksud tersebut.
Seorang Kristen ialah seseorang yang mempercayai pengetahuan dan hikmat Allah, bukan mempercayai kemampuannya/kecakapannya sendiri. Jika kita mempunyai maksud sendiri, hal itu merusak langkah sederhana dan tenang yang seharusnya menjadi ciri khas anak-anak Allah. (My Utmost for His Highest, 5 Agustus)

Tidak ada komentar: