Kamis, 19 Agustus 2010

19 Agu ’10 - Kesadaran-Diri

RENUNGAN hari ini menekankan pentingnya kesadaran-akan-Kristus di dalam kita – sesuatu yang mungkin juga jarang kita dengar dalam pengajaran kristen. Dan tidak membiarkan apa pun yang memecah atau menghancurkan kesatuan hidup kita dengan Dia: bisa sahabat, situasi kita, tapi yang pertema justu adalah sikap introspektif yang tidak sehat akibat kesadaran diri yang emosional atau berlebihan.


KESADARAN-DIRI
Marilah kepada-Ku... (Matius 11:28).
ALLAH bermaksud agar kita menghayati kehidupan yang lengkap,utuh, di dalam Kristus Yesus, tetapi adakalanya kehidupan itu diserang dari luar. Kemudian kita cenderung mundur ke dalam sikap introspeksi diri, suatu kebiasaan yang kita sangka telah lenyap.
Kesadaran-diri (self awareness) adalah hal pertama yang akan mengganggu keutuhan hidup kita di dalam Allah, dan kesadaran-diri terus-menerus menimbulkan pergumulan dan kekacauan dalam hidup kita.
Kesadaran-diri bukanlah dosa, dan itu dapat dihasilkan oleh emosi yang gugupan atau karena secara mendadak masuk ke dalam suatu situasi yang baru. Namun bukanlah kehendak Allah jika kita menjadi sesuatu yang kurang dari kesempurnaan mutlak di dalam Dia.
Apa pun yang mengganggu perhentian/kelegaan kita di dalam Dia harus segera dibetulkan, dan itu tidak dibetulkan dengan mengabaikannya. melainkan dengan datang kepada Yesus Kristus. Jika kita mau datang kepada-Nya, memohon kepada-Nya untuk menghasilkan kesadaran-akan-Kristus di dalam kita, Dia akan selalu melakukannya, sampai kita belajar selengkapnya untuk tinggal di dalam Dia.
Jangan biarkan apa pun yang memecah atau menghancurkan kesatuan hidup Anda dengan Kristus tinggal dalam hidup Anda. Waspadalah agar jangan membiarkan pengaruh sahabat Anda atau situasi Anda menghancurkan hidup Anda. Hal itu hanya akan melemahkan kekuatan Anda dan memperlambat pertumbuhan rohani Anda. Waspadalah terhadap apa pun yang dapat memecah kesatuan Anda dengan Dia, yang menyebabkan Anda melihat diri Anda terpisah dari Dia.
Tidak ada yang lebih penting selain bersikap tetap benar secara rohani. Dan penyelesaiannya sangat sederhana - “Marilah kepadaKu... ” Kedalaman realitas/kenyataan kita secara nalar, akhlak dan rohani sebagai seorang pribadi diuji dan diukur oleh kata-kata tersebut. Namun, masalahnya, dalam setiap segi dalam hidup kita dimana kita ternyata tidak seperti dikehendaki atau seharusnya, kita lebih suka memperdebatkannya dari pada datang kepada Yesus. (My Utmost for His Highest, 19 Agustus)

Tidak ada komentar: