Selasa, 10 Agustus 2010

10 Agu ’10 - Penderitaan Suci Para Orang Percaya

TIDAK ADA orang yang memilih penderitaan, kata Renungan ”PENDERITAAN SUCI PARA ORANG PERCAYA” hari ini. Tetapi memilih kehendak Allah, walaupun itu berarti Anda akan menderita, merupakan hal yang samasekali berbeda: Menderita, tanpa mengharapkan simpati orang lain - yang sering justru melemahkan. Lebih jauh dibawah ini:
PENDERITAAN SUCI PARA ORANG PERCAYA
Karena itu, baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan dirinya..., sambil terus berbuat baik” (1 Petrus 4:19).
MEMILIH untuk menderita berarti ada yang tidak beres dengan Anda. Tetapi memilih kehendak Allah, walaupun itu berarti Anda akan menderita, merupakan sesuatu yang samasekali berbeda.
Tidak ada orang percaya yang normal dan sehat memilih penderitaan; dia hanya memilih kehendak Allah, seperti yang dulu dilakukan Yesus, tanpa peduli apakah itu berarti penderitaan atau tidak. Dan seharusnya tidak seorangpun orang percaya pernah berani mencoba terlibat atau mengendalikan pelajaran penderitaan yang diajarkan pada kehidupan orang percaya lain.
Orang percaya yang memuaskan hati Yesus akan membuat orang percaya lainnya menjadi kuat. Akan tetapi, orang yang biasanya dipakai untuk menguatkan kita sama sekali bukan mereka yang bersimpati kepada kita; faktanya, kita hanya akan terhambat maju oleh mereka yang memberikan simpati atas kita, karena simpati hanya melemahkan kita.
Tidak seorang pun lebih memahami seorang percaya ketimbang orang percaya yang dekat dan akrab dengan Yesus. Jika kita menerima simpati dari orang percaya lain, rasa iba diri membuat reaksi spontan kita, “Allah berlaku keras terhadapku dan menyulitkan hidupku.” Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa iba-diri itu berasal dan iblis (Matius 16:21-23).
Kita harus menghormati Allah sebagaimana seharusnya. Adalah mudah bagi kita mengatakan hal yang tidak benar tentang sifat Allah karena Dia tidak pernah mempertahankan atau membela diri. Waspadalah terhadap pemikiran bahwa Yesus membutuhkan simpati semasa hidup-Nya di bumi. Dia menolak simpati manusia karena dalam hikmat-Nya yang besar Dia tahu bahwa tidak seorang pun di bumi ini yang memahami maksud-Nya (lihat Mateus 16:23). Dia hanya menerima simpati Bapa-Nya dan para malaikat (lihat Lukas 15:10).
Perhatikanlah betapa tidak bergunanya orang-orang percaya Allah, demikian menurut penilaian dunia ini. Memang Allah sepertinya menempatkan para orang percaya-Nya di tempat yang paling tidak berguna. Kita mungkin berkata, “Allah memaksudkan aku di sini karena aku sangat berguna bagi-Nya.” Namun Yesus tidak pernah mengukur hidup-Nya dengan ukuran dimana Dia paling dipakai.
Allah menempatkan orang-orang percaya kepada-Nya dimana mereka akan mendatangkan kemuliaan terbesar bagi-Nya, dan kita tidak mampu sepenuhnya mengetahui dimanakah tempat tersebut. (My Utmost for His Highest, 10 Agustus)

Notes
Dear all. Renungan hari ini tergolong ”berat” dan ”sulit”: ”Berat” dilihat dari kedalaman materi. Dan ”sulit” dilihat dari penyajian materi dalam teks asli (oleh isteri Oswald Chambers yang mencatatnya dalam steno), yang harus dituangkan dalam ruang terbatas sebagai renungan harian. Mungkin karena itu pulalah Judul dalam My Utmost  edisi 1935 The Sacrament of The Saint dalam edisi revisi menjadi The Holy Suffering of the Saint. Untuk membandingkan dengan teks asli dipersilahkan link ke alamat berikut ini: http://myutmost.org/08/0810.html (Admin).

Tidak ada komentar: