Selasa, 24 Agustus 2010

24 Agu ’10 - Penyelidikan Rohani

MENGAPA kita berdoa tetapi tidak mendapatkan? Renungan hari ini menegaskan, barangkali ada yang tidak beres dalam hubungan atau relasi kita dengan orang lain – mungkin dengan anak-anak kita, kerabat kita, sahabat kita.
Kita perlu menyelidikinya dengan jujur. Dikatakan, tidak ada gunanya berdoa, kalau kita tidak hidup seperti anak-anak Tuhan.



PENYELIDIKAN ROHANI
Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika Ia meminta roti?” (Matius 7:9).
ILUSTRASI doa yang dipakai Tuhan di sini ialah tentang seorang anak yang baik yang meminta sesuatu yang baik. Kita banyak kali berbicara tentang doa seolah-olah Allah mendengar kita tanpa menghiraukan  relasi kita dengan Dia dan sesama kita (lihat Matius 5:45).
Jangan sekali-kali berkata bahwa adalah bukan kehendak Allah untuk memberi Anda apa yang Anda pohonkan. Jangan jemu dan menyerah, tetapi carilah penyebab Anda tidak menerima. Adakah hubungan Anda baik dengan pasangan Anda, dengan anak-anak Anda dan dengan rekan-rekan Anda? Apakah Anda “anak yang baik’ dalam hubungan dengan mereka tersebut? Adakah Anda memaksa Tuhan dengan berkata, “Aku telah tersinggung dan jengkel, tetapi aku masih menginginkan berkat-berkat rohani?’ Anda tidak dapat menerima dan tidak ada urusan dengan berkat-berkat tersebut sebelum Anda mempunyai sikap seorang “anak yang baik”.
Kita keliru kalau kita ”ngotot” dan mendebat Allah dan bukannya menyerah. Kita menolak untuk menerima kesalahan kita. Adakah saya memohon Allah memberkati saya dibidang keuangan, sementara saya tidak setia atau menolak untuk melunasi utang saya? Adakah saya memohon kemerdekaan kepada Allah sementara saya menahan kemerdekaan seseorang pada hal hal itu ada diatngan saya? Adakah saya menolak untuk mengampuni seseorang dan adakah saya bersikap tidak baik terhadap orang yang bersangkutan? Sudahkah saya hidup sebagai anak Allah di antara kerabat dan sahabat saya? (lihat Matius 7:12).
Saya menjadi anak Allah hanya karena kelahiran baru, dan sebagai anak-Nya saya baik hanya jika saya “hidup di dalam terang” (1 Yohanes 1:7).
Bagi kebanyakan kita, doa hanyalah merupakan ungkapan keagamaan yang sepele dan tidak penting, urusan persekutuan dengan Allah yang bersifat gaib dan emosional. Kita banyak kali menciptakan kabut rohani yang membutakan penglihatan kita. Akan tetapi, jika kita menyelidiki dan memeriksa diri kita dengan jujur, kita akan melihat dengan jelas ada yang tidak beres  – mungkin dalam persahabatan, utang yang tidak dibayar, sikap yang tidak benar, dll.
Tidak ada gunanya berdoa kalau kita tidak hidup seperti anak-anak Tuhan. Kemudian Yesus berkata, mengenai anak-anak-Nya, ”Setiap orang yang meminta, menerima...” (Matius 7:8). (My Utmost for His Highest, 24 Agustus)

Tidak ada komentar: