Jumat, 16 Juli 2010

Pemahaman Dan Kesadarana Akan Pengendalian Ilahi

MENGAPA lebih mudah mencari pertolongan pada orang lain berdoa untuk kita (walau itu tidak salah) dari pada kita sendiri langsung kepada Allah? Renungan hari ini menegaskan, karena kita belum memahami dan menyadari dengan sungguh akan pengendalian illahi Allah atas segala sesuatu dalam hidup kita – suatu pemahaman, kesadaran dan menjadi perilaku yang hanya mungkin oleh pekerjaan Roh-Nya dalam kita.

PEMAHAMAN DAN KESADARAN AKAN PENGENDALIAN ILAHI
…. apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Matius 7:1).
Dalam nas ini Yesus menetapkan aturan mengenai perilaku bagi orang-orang yang memiliki Roh-Nya. Dia mendesak kita agar pikiran kita dipenuhi dengan pemahaman akan pengendalian Allah atas segala sesuatu, yang berarti bahwa seorang murid harus memelihara sikap percaya (trust) yang sempurna dan suatu semangat untuk meminta dan mencari.
Penuhilah hati pikiran Anda dengan pemikiran bahwa Allah sungguh menggendalikan segala sesuatu. Dan jika Anda benar-benar dipenuhi dengan pikiran tersebut, maka pada saat mengalami kesulitan, dengan mudah Anda akan ingat, “Bapaku yang di surga mengetahui semua tentang hal ini!” Hal ini bukan sesuatu yang dipaksa-paksakan dalam diri kita, melainkan akan menjadi suatu hal yang spontan atau natural bagi Anda bila datang kesukaran dan ketidakpastian.
Sebelum pemahaman dan kesadaran tentang pengendalian ilahi ini terbentuk dan menguasai pikiran Anda, Anda biasanya pergi mencari pertolongan pada orang lain, tetapi kini Anda pergi kepada Allah bila datang kesukaran.
Yesus menetapkan aturan mengenai perilaku bagi orang-orang yang memiliki Roh-Nya, dan hal itu bekerja atas prinsip berikut ini: Allah itu Bapa saya, Dia mengasihi saya dan saya takkan berpikir bahwa Dia akan lupa, jadi mengapa saya harus khawatir?
Yesus berkata, ada waktu dimana Allah tidak dapat mengangkat kegelapan dari Anda, tetapi Anda harus percaya kepadaNya. Terkadang Allah akan tampak seperti seorang sahabat yang tidak ramah, tetapi sebenarnya Dia tidak demikian; terkadang seperti seorang bapa yang tidak sebagaimana harusnya seorang bapa, atau seperti seorang hakim yang tidak adil, tetapi sebenarnya Dia tidak demikian.
Peliharalah pemikiran bahwa hati pikiran Allah ada di balik semua hal yang kita hadapi dan biarlah pikiran itu tetap kuat dan tumbuh dalam diri Anda. Bahkan hal terkecil sekalipun dalam kehidupan kita takkan terjadi diluar kehendak Allah.
Oleh sebab itu, Anda dapat tetap dengan hati yang tenang, dengan penuh keyakinan kepada-Nya. Doa bukanlah hanya meminta, melainkan sikap pikiran yang menghasilkan suasana dimana meminta pada Tuhan sebagai sesuatu yang sangat natural, yang mengalir begitu saja. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu ...” (Matius 7:7). (My Utmost for His Highest, 16 Juli)

Tidak ada komentar: