Senin, 12 Juli 2010

12 Jul ’10 – Gereja Yang Mencari Kepentingan Sendiri


RENUNGAN hari ini masih dalam rangkaian renungan kemarin,  menyadari dan mengalami Allah, tapi bukan hanya dalam hidup perorangan, melainkan juga dalam hidup bersama: gereja. Kembali ditegaskan, bahwa sasaran kita mencari Allah, adalah Allah sendiri, bukan sukacita atau sejahtera. Juga bukan berkat, melainkan Dia sendiri. Apakah kita mengukur hidup saya dengan tolok ukur ini atau kurang dari itu, tutup renungan ini.




GEREJA YANG MENCARI KEPENTINGAN SENDIRI

 Sampai kita semua telah mencapai …….. tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” (Efesus 4:13).
PENDAMAIAN berarti pemulihan hubungan antara seluruh umat manusia dengan Allah, mengembalikannya pada apa yang telah dirancang Allah. Inilah yang dilakukan Yesus Kristus dalam penebusan. Gereja (akan) berhenti menjadi rohani (spiritual) bila ia hanya “self-seeking” - hanya  mementingkan diri sendiri, dan hanya berminat dalam perkembangan organisasinya sendiri.
Pendamaian umat manusia menurut rencana-Nya berarti menyadari dan mengalami Dia, bukan hanya dalam hidup kita secara perorangan, melainkan juga dalam hidup bersama kita. Yesus Kristus mengutus para rasul dan guru untuk maksud ini - agar persatuan Pribadi Kristus dan gereja-Nya, yang terdiri atas banyak anggota, dapat diwujudkan dan dinyatakan.
Kita tidak berada di sini untuk mengembangkan kehidupan rohani kita sendiri atau menikmati retreat rohani yang teduh. Kita berada di sini untuk mengalami pewujudnyataan Yesus Kristus sepenuhnya, untuk maksud pembangunan Tubuh Kristus.
Apakah saya sedang membangun Tubuh Kristus ataukah saya hanya peduli tentang pengembangan pribadi saya sendiri? Hal yang penting ialah hubungan pribadi saya dengan Yesus Kristus - “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia .. (Filipi 3:10). Untuk menggenapi rancangan yang sempurna dari Allah bagi saya dibutuhkan penyerahan diri sepenuhnya – penyerahan hasyrat atau self interest saya sepenuhnya kepada-Nya.
Apabila saya hanya menginginkan sesuatu bagi diri saya sendiri, maka hubungan itu terganggu. Dan saya akan merasa sangat menyesal dan malu pada diri sendiri, begitu saya sampai pada pengakuan dan pemahaman bahwa saya belum sesungguhnya peduli mengenai menyadari dan mengalami Yesus Kristus sendiri, melainkan hanya peduli akan pengetahuan tentang karya-Nya bagi saya.
Sasaranku ialah Allah sendiri, bukan sukacita atau sejahtera. Juga bukan berkat, melainkan Dia sendiri, Allahku.
Apakah saya mengukur hidup saya dengan tolok ukur ini atau kurang dari itu? (My Utmost for His Highest, 12 Juli)

Tidak ada komentar: