Pengantar Panggilan untuk memberitakan Injil, bagi Paulus bukan sekedar panggilan begitu saja. Tetapi merupakan suatu kekuatan yang membuatnya merasa teramat sangat sedih, terkutuk, ”jika aku tidak memberitakan Injil”. Dan ketika seseorang mendengar panggilan itu, maka mulailah proses kematian diri, dan hanya satu hal yang tertinggal, suara panggilan - “... dikhususkan untuk memberitakan Injil”. Lagi, beberapa bagian renungan ini terasa sulit karena kedalaman materi maupun penyajiannya, namun intinya jelas, seperti dapat kita ikuti dibawah ini:
Kekuatan Mendesak Panggilan Allah
“Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Korintus 9:16).
Waspadalah terhadap penolakan untuk mendengar panggilan Allah. Setiap orang yang diselamatkan dipanggil untuk bersaksi mengenai fakta keselamatan yang diperolehnya, namun, hal itu (panggilan bersaksi) tidak sama dengan panggilan untuk berkhotbah, bersaksi lebih merupakan suatu ilustrasi dalam khotbah.
Dalam ayat diatas, Paulus menunjuk pada rasa sedih yang dalam, yang timbul dalam dirinya oleh kekuatan yang mengasak atau mendesak dari panggilan untuk memberitakan Injil. Jangan pernah menerapkan apa yang dikatakan Paulus dalam hubungan ini kepada jiwa-jiwa yang dipanggil kepada Allah untuk menerima keselamatan. Tidak ada yang lebih mudah ketimbang diselamatkan, karena hal itu semata-mata merupakan karya kuasa Allah, seperti firman yang mengatakan: ”pandanglah kepada-Ku dan selamatlah ...” (Yesaya 45:22). Tuhan tidak pernah menetapkan syarat yang sama bagi pemuridan dengan syarat bagi keselamatan. Kita terbebas dari kutuk dan mendapat keselamatan hanya oleh Salib Kristus. Akan tetapi, pemuridan mengandung pilihan atau syarat: “Jikalau seorang …...“ (Lukas 14:26).
Ucapan Paulus berkenaan dengan hal kita menjadi hamba Yesus Kristus, dimana kita tidak pernah diminta persetujuan mengenai tindakan yang akan kita lakukan atau ke mana kita akan pergi. Allah menjadikan kita sebagai roti yang dipecah-pecahkan dan anggur yang dicurahkan untuk menyenangkan-Nya. “Dikhususkan untuk memberitakan Injil” berarti mendengar panggilan Allah (Roma 1:1).
Dan ketika seseorang mulai mendengar panggilan itu, maka mulailah penderitaan karena nama Kristus: Setiap ambisi dipotong sebelum kuncup, setiap hasrat hidup dihentikan, setiap pandangan dipadamkan dan tidak lagi tampak. Hanya satu hal yang tertinggal - “... dikhususkan untuk memberitakan Injil”.
Celakalah jiwa yang mencoba menempatkan kakinya ke arah lain sekali panggilan itu datang kepadanya. Keberadaan Sekolah Alkitab bertujuan agar setiap orang dapat mengetahui apakah memang ada pria atau wanita di tempat tersebut yang benar-benar peduli akan pemberitaan Injil Allah dan melihat apakah Allah “menangkap” Anda untuk maksud ini.
Waspadalah terhadap suara panggilan-panggilan lain jika panggilan Allah ditujukan kepada Anda. (My Utmost for His Highest 2 Februari 2010).
Selasa, 02 Februari 2010
Senin, 01 Februari 2010
Panggilan Allah
PENGANTAR. Renungan hari ini masih merupakan lanjutan dan menegaskan yang disampaikan kemarin mengenai penebusan Yesus Kristus. Ditekankan kembali antara lain, bahwa pengalaman penebusan boleh kita alami, tapi bukan pengalaman tersebut tujuan penebusan, apalagi tujuan pemberitaan. Dan dikatakan kalau saja kita menyadari fondasi yang mendasari realita/kenyataan Injil Allah, cara dan doa kita juga pasti berbeda! Lebih lanjut seperti dibawah ini:
Panggilan Allah
“Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil….” (1 Korintus 1:17).
Paulus menyatakan bahwa panggilan Allah adalah untuk memberitakan Injil. Akan tetapi, ingatlah yang dimaksud Paulus dengan “Injil”, yaitu realita/kenyataan dari penebusan dalam Tuhan kita Yesus Kristus.
Kita cenderung menjadikan pengudusan sebagai sasaran pemberitaan kita. (Kalau) Paulus mengacu pada pengalaman pribadi, itu hanya sebagai ilustrasi, bukan sebagai tujuan pemberitaan.
Kita tidak diamanatkan untuk memberitakan keselamatan atau pengudusan - kita diamanatkan untuk meninggikan Yesus Kristus (lthat Yohanes 12:32). Adalah sesuatu ketidak-adilan untuk menyatakan bahwa Yesus Kristus berjerih payah dalam penebusan untuk menjadikan saya seorang kudus. Yesus Kristus berjerih payah dalam penebusan untuk menebus seluruh dunia dan menempatkan dunia sepenuhnya utuh dan dipulihkan di hadapan takhta Allah. Kenyataan bahwa kita dapat mengalami penebusan mengilustrasikan kuasa dari realita/kenyataan penebusan, tetapi pengalaman itu adalah hasil-kemudian (byproduct), bukan tujuan dari penebusan.
Jika Allah itu manusia, betapa muak dan lelahnya Dia menghadapi permohonan gencar yang kita ajukan untuk keselamatan dan pengudusan kita. Kita membebani Dia sejak pagi hingga malam dengan memohon hal-hal bagi diri kita sendiri, atau bagi sesuatu yang dari mana kita perlu dilepasakan! Apabila akhirnya kita menyadari fondasi yang mendasari realita/kenyataan Injil Allah, kita takkan pernah lagi menyusahkan Dia dengan keluhan-keluhan pribadi kita yang sepele.
Satu-satunya hasrat dalam kehidupan Paulus adalah memberitakan Injil Allah. Dia “menyambut” kepedihan, kekecewaan dan kesengsaraan untuk satu alasan - hal-hal ini membuatnya tak-tergoyahkan dalam pengabdiannya kepada Injil Allah. (My Utmost for His Highest 1 Februari 2010)
Dilema atau Pilihan Berat dari Kepatuhan
Pengantar.”Benarkah itu suara Tuhan”? Samuel belajar untuk mengenali suara Tuhan. Tapi, sesudah jelas suara Tuhan, Samuel sang pelayan muda itu dihadapkan dengan pilihan berat, menyampaikan firman teguran kepada Eli, yang dia hormati? Bagaimana kita seharusnya bersikap dalam situasi seperti itu? Itulah ingin yang dikemukakan dalam renungan dengan judul Dilema atau Pilihan Berat dari Kepatuhan seperti dibawah ini:
Dilema atau Pilihan Berat dari Kepatuhan
“Samuel segan memberitahukan penglihatan itu kepada Eli” (1 Samuel 3:15).
Allah tidak pernah berbicara kepada kita dengan cara yang dramatis (seperti kepada Samuel), tetapi dengan cara yang mudah disalah-pahami. Kemudian kita berkata, “Benarkah itu suara Allah?”
Yesaya berkata bahwa Tuhan berbicara kepadanya “dengan tangan yang kuat” yaitu dengan tekanan situasi yang dialaminya (Yesaya 8:11, NKJV). Tanpa tangan Allah yang berkuasa itu sendiri, tidak ada yang dapat menyentuh hidup kita. Apakah kita mengenali tangan-Nya yang sedang bekerja, atau kita hanya melihat segala sesuatu sebagai rangkaian peristiwa semata-mata?
Biasakanlah untuk berkata, “Berbicaralah, Tuhan”, maka kehidupan akan menjadi menyenangkan (romantis) (1 Samuel 3:9). Setiap kali situasi mengimpit Anda, katakanlah, “Berbicaralah, Tuhan,” dan luangkan waktu untuk mendengar. Teguran/hajaran (dari Tuhan), itu lebih dari sekadar sarana disiplin - itu dimaksudkan untuk mendorong kita berkata, “Berbicaralah, Tuhan.” Kenanglah kembali saat-saat Tuhan berbicara kepada Anda di masa lalu. Adakah Anda mengingat apa yang diucapankan-Nya? Apakah itu berupa Lukas 11:13 atau 1 Tesalonika 5:23? Selagi kita mendengar, telinga kita menjadi semakin peka, dan seperti Yesus, kita akan mendengar Allah berbicara sepanjang waktu.
”Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "….. bahwa Aku akan menghukum keluarganya (Eli) untuk selamanya karena ................ anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!” (Samuel 3:13). Tapi, ”Samuel segan memberitahukan penglihatan itu kepada Eli” (3:15). Haruskah saya mengatakan kepada “Eli” saya tentang hal yang ditunjukkan Allah kepada saya? Di sinilah dilema atau letak pilihan berat dari kepatuhan itu. Kita tidak patuh kepada Allah karena menjadi ”berbuat kebaikan bagi orang lain” dan kita berpikir, “Aku harus melindungi ‘Eli”, yang melambangkan orang terbaik yang kita kenal.
Memang (dalam nats) Allah tidak menyuruh Samuel untuk memberitahukan kepada Eli, tapi dia harus memutuskan hal itu sendiri. Pesan Allah kepada Anda, apabila disampaikan, mungkin akan menyakiti ‘Eli’ Anda, tetapi berusaha merintangi penderitaan dalam hidup orang lain akan menjadi rintangan antara jiwa Anda dan Allah. Anda menanggung akibatnya sendiri bila merintangi ”pemenggalan tangan kanan” dan ”pencungkilan mata kanan seseorang” (lihat Matius 5:29-30).
Jangan sekali-kali meminta nasihat orang lain tentang apa pun yang dikehendaki Allah untuk Anda putuskan di hadapanNya. Jika Anda meminta nasihat, maka Anda hampir selalu berpihak kepada iblis. Seperti sikap Paulus, “maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia (Galatia 1:16). (My Utmost for His Highest 30 Januari 2010).
Label:
my utmost for his highest,
suara Tuhan
Minggu, 31 Januari 2010
Sadarkah Anda Akan Panggilan Anda?
Renungan hari ini (dan besok) merupakan bagian yang sulit – tapi teramat dalam - dari penulisan Chambers. Tapi intinya jelas. Ditekankan bahwa kebaikan manusia, kesucian pribadi, adalah akibat dari penebusan, bukan untuk mendapatkan penebusan. Juga mengungkapkan adanya bahaya bahwa mata kita terpusat pada kesucian pribadi, dan menempatkannya diatas keinginan untuk mengenal Allah, sehingga kita tidak pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Lebih lanjut dapat kita ikuti dibawah ini:
Sadarkah Anda Akan Panggilan Anda?
”..... dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah (Roma 1:1).
Panggilan kita terutama bukanlah menjadi para pria dan wanita yang suci, melainkan untuk menjadi para pemberita Injil Allah. Satu hal yang maha-penting adalah Injil Allah harus dikenal sebagai satu-satunya realitas atau kenyataan yang kekal. Dan realitas ini bukanlah kebaikan manusia, atau kesucian, atau surga atau neraka, melainkan penebusan.
Hal ini dirasakan perlu menjadi kebutuhan utama dari pekerja Kristen masa kini. Sebagai pekerja, kita harus terbiasa dengan pernyataan atau penyingkapan bahwa penebusan adalah satu-satunya realitas. Kesucian pribadi/perorangan adalah akibat penebusan, bukan penyebab (untuk mendapatkan) penebusan. Jika kita menaruh iman kita pada kebaikan manusia, maka kita akan tenggelam bila pencobaan datang.
Paulus tidak menyatakan bahwa dia mengkhususkan dirinya sendiri, tetapi “ketika Allah berkenan, Dia memilih aku...” demikian kata Paulus (Galatia 1:15, NKJV). Paulus tidak secara berlebihan menaruh perhatian atas diri/karakaternya sendiri.
Selama mata kita terpusat pada kesucian pribadi kita sendiri, maka kita takkan pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Para pekerja Kristen gagal karena mereka menaruh hasrat atau keinginan pada kesucian mereka sendiri diatas hasrat mereka untuk mengenal Allah. Mungkin ada yang berkata: “Jangan meminta saya untuk dihadapkan dengan realitas penebusan yang kokoh ditengah kecemaran hidup manusia sebagaimana adanya, apa yang saya inginkan adalah apa yang dapat dilakukan Allah bagi saya agar saya menjadi semakin menarik dalam pandangan saya sendiri.”
Berbicara demikian merupakan tanda bahwa realitas Injil Allah belum menyentuh diri saya. Dalam hal seperti itu, tidak ada kerelaan meninggalkan segalanya dan memberikan diri secara sepenuhnya kepada Allah. Allah tidak dapat membebaskan saya selagi minat saya hanya tertuju pada diri atau karakter saya sendiri. Paulus tidak melihat ke dirinya sendiri. Dia sepenuhnya berhenti dan menyerahkan diri, dan dipisahkan oleh Allah untuk satu maksud - memberitakan Injil Allah (Roma 9:3). (My Utmost for His Highest 31 Januari 2010)
Sadarkah Anda Akan Panggilan Anda?
”..... dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah (Roma 1:1).
Panggilan kita terutama bukanlah menjadi para pria dan wanita yang suci, melainkan untuk menjadi para pemberita Injil Allah. Satu hal yang maha-penting adalah Injil Allah harus dikenal sebagai satu-satunya realitas atau kenyataan yang kekal. Dan realitas ini bukanlah kebaikan manusia, atau kesucian, atau surga atau neraka, melainkan penebusan.
Hal ini dirasakan perlu menjadi kebutuhan utama dari pekerja Kristen masa kini. Sebagai pekerja, kita harus terbiasa dengan pernyataan atau penyingkapan bahwa penebusan adalah satu-satunya realitas. Kesucian pribadi/perorangan adalah akibat penebusan, bukan penyebab (untuk mendapatkan) penebusan. Jika kita menaruh iman kita pada kebaikan manusia, maka kita akan tenggelam bila pencobaan datang.
Paulus tidak menyatakan bahwa dia mengkhususkan dirinya sendiri, tetapi “ketika Allah berkenan, Dia memilih aku...” demikian kata Paulus (Galatia 1:15, NKJV). Paulus tidak secara berlebihan menaruh perhatian atas diri/karakaternya sendiri.
Selama mata kita terpusat pada kesucian pribadi kita sendiri, maka kita takkan pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Para pekerja Kristen gagal karena mereka menaruh hasrat atau keinginan pada kesucian mereka sendiri diatas hasrat mereka untuk mengenal Allah. Mungkin ada yang berkata: “Jangan meminta saya untuk dihadapkan dengan realitas penebusan yang kokoh ditengah kecemaran hidup manusia sebagaimana adanya, apa yang saya inginkan adalah apa yang dapat dilakukan Allah bagi saya agar saya menjadi semakin menarik dalam pandangan saya sendiri.”
Berbicara demikian merupakan tanda bahwa realitas Injil Allah belum menyentuh diri saya. Dalam hal seperti itu, tidak ada kerelaan meninggalkan segalanya dan memberikan diri secara sepenuhnya kepada Allah. Allah tidak dapat membebaskan saya selagi minat saya hanya tertuju pada diri atau karakter saya sendiri. Paulus tidak melihat ke dirinya sendiri. Dia sepenuhnya berhenti dan menyerahkan diri, dan dipisahkan oleh Allah untuk satu maksud - memberitakan Injil Allah (Roma 9:3). (My Utmost for His Highest 31 Januari 2010)
Sabtu, 30 Januari 2010
Dilema atau Pilihan Berat dari Kepatuhan
Pengantar.”Benarkah itu suara Tuhan”? Samuel belajar untuk mengenali suara Tuhan. Tapi, sesudah jelas suara Tuhan, Samuel sang pelayan muda itu dihadapkan dengan pilihan berat, menyampaikan firman teguran kepada Eli, yang dia hormati? Bagaimana kita seharusnya bersikap dalam situasi seperti itu? Itulah ingin yang dikemukakan dalam renungan dengan judul Dilema atau Pilihan Berat dari Kepatuhan seperti dibawah ini:
Dilema atau Pilihan Berat dari Kepatuhan
“Samuel segan memberitahukan penglihatan itu kepada Eli” (1 Samuel 3:15).
Allah tidak pernah berbicara kepada kita dengan cara yang dramatis (seperti kepada Samuel), tetapi dengan cara yang mudah disalah-pahami. Kemudian kita berkata, “Benarkah itu suara Allah?”
Yesaya berkata bahwa Tuhan berbicara kepadanya “dengan tangan yang kuat” yaitu dengan tekanan situasi yang dialaminya (Yesaya 8:11, NKJV). Tanpa tangan Allah yang berkuasa itu sendiri, tidak ada yang dapat menyentuh hidup kita. Apakah kita mengenali tangan-Nya yang sedang bekerja, atau kita hanya melihat segala sesuatu sebagai rangkaian peristiwa semata-mata?
Biasakanlah untuk berkata, “Berbicaralah, Tuhan”, maka kehidupan akan menjadi menyenangkan (romantis) (1 Samuel 3:9). Setiap kali situasi mengimpit Anda, katakanlah, “Berbicaralah, Tuhan,” dan luangkan waktu untuk mendengar. Teguran/hajaran (dari Tuhan), itu lebih dari sekadar sarana disiplin - itu dimaksudkan untuk mendorong kita berkata, “Berbicaralah, Tuhan.” Kenanglah kembali saat-saat Tuhan berbicara kepada Anda di masa lalu. Adakah Anda mengingat apa yang diucapankan-Nya? Apakah itu berupa Lukas 11:13 atau 1 Tesalonika 5:23? Selagi kita mendengar, telinga kita menjadi semakin peka, dan seperti Yesus, kita akan mendengar Allah berbicara sepanjang waktu.
”Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "….. bahwa Aku akan menghukum keluarganya (Eli) untuk selamanya karena ................ anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!” (Samuel 3:13). Tapi, ”Samuel segan memberitahukan penglihatan itu kepada Eli” (3:15). Haruskah saya mengatakan kepada “Eli” saya tentang hal yang ditunjukkan Allah kepada saya? Di sinilah dilema atau letak pilihan berat dari kepatuhan itu. Kita tidak patuh kepada Allah karena menjadi ”berbuat kebaikan bagi orang lain” dan kita berpikir, “Aku harus melindungi ‘Eli”, yang melambangkan orang terbaik yang kita kenal.
Memang (dalam nats) Allah tidak menyuruh Samuel untuk memberitahukan kepada Eli, tapi dia harus memutuskan hal itu sendiri. Pesan Allah kepada Anda, apabila disampaikan, mungkin akan menyakiti ‘Eli’ Anda, tetapi berusaha merintangi penderitaan dalam hidup orang lain akan menjadi rintangan antara jiwa Anda dan Allah. Anda menanggung akibatnya sendiri bila merintangi ”pemenggalan tangan kanan” dan ”pencungkilan mata kanan seseorang” (lihat Matius 5:29-30).
Jangan sekali-kali meminta nasihat orang lain tentang apa pun yang dikehendaki Allah untuk Anda putuskan di hadapanNya. Jika Anda meminta nasihat, maka Anda hampir selalu berpihak kepada iblis. Seperti sikap Paulus, “maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia (Galatia 1:16). (My Utmost for His Highest 30 Januari 2010).
Label:
my utmost for his highest,
suara Tuhan
Jumat, 29 Januari 2010
Bagaimana Seseorang (Pelayan) Bisa Begitu Bodoh
BAGAIMANA Seseorang (Pelayan) Bisa Begitu Bodoh? Itulah judul renungan hari ini. Cukup keras. Antara lain mengingatkan apakah ”kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya”, kita berbicara dengan kata-kata yang terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh, melayani dengan menggebu-gebu, tapi menurut cara saya sendiri, untuk kepuasan diri sendiri. Lebih lanjut lihat dalam Notes.
“Siapa Engkau Tuhan?” (Kisah 26:15).
”Beginilah firman Tuhan kepadaku”, kata Yesaya, ”ketika tangan-Nya menguasai aku... (Yesaya 8:11). Firman Tuhan ini menyatakan, tidak ada tempat untuk melarikan diri bila Tuhan berbicara. Dia selalu datang dengan menggunakan otoritas-Nya dan menguasai pengertian kita.
Sudahkah suara Allah mendatangi Anda secara langsung? Jika sudah, Anda tidak akan dapat salah dengan suasana keakraban yang mengiringinya yang disampaikan kepada Anda. Karena Allah berbicara dengan bahasa yang paling Anda kenal - bukan melalui telinga Anda, melainkan rnelalui situasi yang Anda alami.
Allah harus menghancurkan kepercayaan kita terhadap keyakinan atau pendirian kita sendiri. Kita berkata, “Aku tahu bahwa inilah yang harus kulakukan!” - lalu tiba-tiba Allah berbicara dalam cara yang meliputi kita dengan menyingkapkan kebodohan dan ketidak-acuhan kita. Kita memperlihatkan kebodohan kita tentang Dia dalam cara kita membuat keputuskan untuk melayani Dia. Kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya, dan menyakiti Dia melalui pembelaan kita terhadap Dia. Kita mengesampingkan tuntutan-Nya dalam roh iblis; kata-kata kita terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh. ”Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka” (Lukas 9:55), Yesus menegor murid-murida-Nya karena ada roh lain pada mereka. Roh Tuhan di dalam para pengikut-Nya tertulis dalam 1 Korintus 13.
Adakah saya telah menganiaya Yesus dengan tekad yang menggebu-gebu untuk melayani Dia menurut cara saya sendiri? Jika saya merasa telah melakukan kewajiban saya, namun telah menyakiti Dia dalam cara saya melayani, saya dapat memastikan yang saya lakukan bukanlah kewajiban saya. Cara saya takkan mengembangkan roh yang lemah lembut dan tenang, melainkan hanya roh kepuasan diri sendiri. Kita menyangka bahwa apa pun yang tidak menyenangkan adalah kewajiban kita. Adakah seperti itu Roh Tuhan kita? “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku (Mazmur 40:9). Itulah seharusnya roh pelayanan kita. (My Utmost for His Highest 29 Januari 2010).
“Siapa Engkau Tuhan?” (Kisah 26:15).
”Beginilah firman Tuhan kepadaku”, kata Yesaya, ”ketika tangan-Nya menguasai aku... (Yesaya 8:11). Firman Tuhan ini menyatakan, tidak ada tempat untuk melarikan diri bila Tuhan berbicara. Dia selalu datang dengan menggunakan otoritas-Nya dan menguasai pengertian kita.
Sudahkah suara Allah mendatangi Anda secara langsung? Jika sudah, Anda tidak akan dapat salah dengan suasana keakraban yang mengiringinya yang disampaikan kepada Anda. Karena Allah berbicara dengan bahasa yang paling Anda kenal - bukan melalui telinga Anda, melainkan rnelalui situasi yang Anda alami.
Allah harus menghancurkan kepercayaan kita terhadap keyakinan atau pendirian kita sendiri. Kita berkata, “Aku tahu bahwa inilah yang harus kulakukan!” - lalu tiba-tiba Allah berbicara dalam cara yang meliputi kita dengan menyingkapkan kebodohan dan ketidak-acuhan kita. Kita memperlihatkan kebodohan kita tentang Dia dalam cara kita membuat keputuskan untuk melayani Dia. Kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya, dan menyakiti Dia melalui pembelaan kita terhadap Dia. Kita mengesampingkan tuntutan-Nya dalam roh iblis; kata-kata kita terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh. ”Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka” (Lukas 9:55), Yesus menegor murid-murida-Nya karena ada roh lain pada mereka. Roh Tuhan di dalam para pengikut-Nya tertulis dalam 1 Korintus 13.
Adakah saya telah menganiaya Yesus dengan tekad yang menggebu-gebu untuk melayani Dia menurut cara saya sendiri? Jika saya merasa telah melakukan kewajiban saya, namun telah menyakiti Dia dalam cara saya melayani, saya dapat memastikan yang saya lakukan bukanlah kewajiban saya. Cara saya takkan mengembangkan roh yang lemah lembut dan tenang, melainkan hanya roh kepuasan diri sendiri. Kita menyangka bahwa apa pun yang tidak menyenangkan adalah kewajiban kita. Adakah seperti itu Roh Tuhan kita? “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku (Mazmur 40:9). Itulah seharusnya roh pelayanan kita. (My Utmost for His Highest 29 Januari 2010).
Rabu, 27 Januari 2010
Lihatlah Kembali dan Renungkan
27 JANUARI 2010
Menarik, bahwa ancaman terhadap ”kehidupan Allah dalam diri kita” adalah kekhawatiran, yang dikipas-kipas oleh apa yang disebut oleh Oswald Chambers sebagai setan kecil (little devil) – karena mungkin karena kelihatannya tidak berbahaya! Bagaimana kita bebas dari serbuan ancaman ini? Lebih lanjut dalam renungan hari ini dengan judul "Lihatlah Kembali dan Renungkan": “Janganlah khawatir tentang hidupmu (Matius 6:25)
“Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu...” Dengan perkataan tersebut Yesus menekankan agar kita hanya berhati-hati tentang satu hal, yaitu hubungan kita dengan Dia. Akan tetapi, akal sehat kita berteriak keras dan berkata, “Itu konyol, aku harus dong bmemperhatikan bagaimana aku akan hidup, dan aku harus memikirkan apa yang aku harus makan dan minurn”.
Yesus berkata, tidak harus demikian. Jangan sekali-kali berpikir bahwa Dia mengucapkan hal ini tanpa memahami situasi Anda. Yesus Kristus lebih mengetahui situasi kita ketimbang kita sendiri memahaminya, dan Dia melarang kita jangan memikirkan hal-hal ini sehingga menjadi perhatian utama dalam hidup kita. Jika ada berbagai masalah yang bertumpuk dalam hidup Anda, pastikanlah bahwa Anda selalu menempatkan hubungan Anda dengan Kristus di atas semuanya.
Kata Yesus, ”Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Berapa banyakkah kesusahan yang telah mulai mengancam Anda hari ini? Lihatlah upaya iblis kecil yang telah mengintai hidup Anda sambil berujar, “Apakah rencanamu untuk bulan depan – atau musim yang adang datang?” Yesus mengatakan agar kita tidak usah khawatir semua hal ini. Lihatlah kembali dan renungkanlah. Arahkanlah pikiran Anda kepada janji ”terlebih lagi” dari Bapa surgawi Anda (Matius 6:30).(My Utmost for His Highest 27 Januari 2010).
Langganan:
Postingan (Atom)