RENUNGAN hari ini tentang kesucian (purity, Alkitab KJV) - topik yang mungkin dirasakan asing dewasa ini. Dikatakan, kesucian bukanlah keadaan tidak berdosa. Bukan hasil usaha kita. Tapi buah dari keserasian rohani bersinambungan dengan Allah. Kecucian menjadi prasyarat bagi visi rohani kita. Kesucian adalah pemberian Allah, memalui anugerah-Nya. Bagian kita berjaga. Lebih lanjut dibawah ini:
VISI ROHANI MELALUI KESUCIAN PRIBADI (1)
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8).
Kesucian (KJV, purity) bukanlah keadaan tidak bersalah atau tidak berdosa - kesucian jauh lebih dari hal itu. Kesucian adalah akibat keserasian rohani bersinambungan dengan Allah.
Kita harus tumbuh dalam kesucian. Hidup kita bersama Allah mungkin benar dan kesucian batin kita tidak bercela. Namun terkadang hidup lahiriah kita mungkin cacat dan ternoda. Allah sengaja tidak melindungi kita dari kemungkinan ini, karena inilah cara kita menyadari perlunya memelihara visi/penglihatan rohani kita melalui kesucian pribadi (personal purity).
Jika tingkat luar dari hidup rohani kita bersama Allah terganggu sedikit saja, kita harus terlebih dahulu membereskannya. Ingatlah bahwa visi/penglihatan rohani bergantung pada karakter kita – yaitu “orang yang suci hatinya” yang “melihat Allah”.
Allah membuat kita suci (pure) dengan tindakan anugerah-Nya yang berdaulat, tetapi kita harus selalu berjaga. Karena, melalui hidup lahiriah kita yang berhubungan dengan orang lain dan dengan sudut pandang lain maka kita cenderung untuk menjadi pudar. Bukan hanya “ruang suci batiniah” kita yang harus dipelihara benar di hadapan Allah, tetapi juga “pelataran luar” atau lahiriah kita harus dipelihara dalam keserasian sempurna dengan kesucian yang diberikan Allah kepada kita melalui anugerah-Nya.
Visi/penglihatan dan pengertian rohani kita segera menjadi kabur bila segi lahiriah kita tercemar. Jika kita ingin memelihara keakraban pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus, maka itu akan berarti menolak untuk melakukan atau bahkan memikirkan hal-hal tidak berkenan kepada-Nya. Termasuk beberapa hal yang acceptable (cukup baik) bagi orang lain, namun tidak acceptable untuk kita.
Petunjuk praktis dalam memelihara kesucian pribadi Anda tidak tercela dalam hubungan Anda dengan orang lain adalah mulai melihat mereka seperti Allah melihatnya. Katakanlah kepada diri Anda sendiri, “Dia, pria, atau wanita, itu sempurna dalam Kristus Yesus! Sahabat atau kerabat itu sempurna dalam Kristus Yesus!” (My Utmost for His Highest, 26 Maret 2010)
Tampilkan postingan dengan label kesucian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesucian. Tampilkan semua postingan
Jumat, 26 Maret 2010
Senin, 01 Februari 2010
Panggilan Allah
PENGANTAR. Renungan hari ini masih merupakan lanjutan dan menegaskan yang disampaikan kemarin mengenai penebusan Yesus Kristus. Ditekankan kembali antara lain, bahwa pengalaman penebusan boleh kita alami, tapi bukan pengalaman tersebut tujuan penebusan, apalagi tujuan pemberitaan. Dan dikatakan kalau saja kita menyadari fondasi yang mendasari realita/kenyataan Injil Allah, cara dan doa kita juga pasti berbeda! Lebih lanjut seperti dibawah ini:
Panggilan Allah
“Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil….” (1 Korintus 1:17).
Paulus menyatakan bahwa panggilan Allah adalah untuk memberitakan Injil. Akan tetapi, ingatlah yang dimaksud Paulus dengan “Injil”, yaitu realita/kenyataan dari penebusan dalam Tuhan kita Yesus Kristus.
Kita cenderung menjadikan pengudusan sebagai sasaran pemberitaan kita. (Kalau) Paulus mengacu pada pengalaman pribadi, itu hanya sebagai ilustrasi, bukan sebagai tujuan pemberitaan.
Kita tidak diamanatkan untuk memberitakan keselamatan atau pengudusan - kita diamanatkan untuk meninggikan Yesus Kristus (lthat Yohanes 12:32). Adalah sesuatu ketidak-adilan untuk menyatakan bahwa Yesus Kristus berjerih payah dalam penebusan untuk menjadikan saya seorang kudus. Yesus Kristus berjerih payah dalam penebusan untuk menebus seluruh dunia dan menempatkan dunia sepenuhnya utuh dan dipulihkan di hadapan takhta Allah. Kenyataan bahwa kita dapat mengalami penebusan mengilustrasikan kuasa dari realita/kenyataan penebusan, tetapi pengalaman itu adalah hasil-kemudian (byproduct), bukan tujuan dari penebusan.
Jika Allah itu manusia, betapa muak dan lelahnya Dia menghadapi permohonan gencar yang kita ajukan untuk keselamatan dan pengudusan kita. Kita membebani Dia sejak pagi hingga malam dengan memohon hal-hal bagi diri kita sendiri, atau bagi sesuatu yang dari mana kita perlu dilepasakan! Apabila akhirnya kita menyadari fondasi yang mendasari realita/kenyataan Injil Allah, kita takkan pernah lagi menyusahkan Dia dengan keluhan-keluhan pribadi kita yang sepele.
Satu-satunya hasrat dalam kehidupan Paulus adalah memberitakan Injil Allah. Dia “menyambut” kepedihan, kekecewaan dan kesengsaraan untuk satu alasan - hal-hal ini membuatnya tak-tergoyahkan dalam pengabdiannya kepada Injil Allah. (My Utmost for His Highest 1 Februari 2010)
Minggu, 31 Januari 2010
Sadarkah Anda Akan Panggilan Anda?
Renungan hari ini (dan besok) merupakan bagian yang sulit – tapi teramat dalam - dari penulisan Chambers. Tapi intinya jelas. Ditekankan bahwa kebaikan manusia, kesucian pribadi, adalah akibat dari penebusan, bukan untuk mendapatkan penebusan. Juga mengungkapkan adanya bahaya bahwa mata kita terpusat pada kesucian pribadi, dan menempatkannya diatas keinginan untuk mengenal Allah, sehingga kita tidak pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Lebih lanjut dapat kita ikuti dibawah ini:
Sadarkah Anda Akan Panggilan Anda?
”..... dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah (Roma 1:1).
Panggilan kita terutama bukanlah menjadi para pria dan wanita yang suci, melainkan untuk menjadi para pemberita Injil Allah. Satu hal yang maha-penting adalah Injil Allah harus dikenal sebagai satu-satunya realitas atau kenyataan yang kekal. Dan realitas ini bukanlah kebaikan manusia, atau kesucian, atau surga atau neraka, melainkan penebusan.
Hal ini dirasakan perlu menjadi kebutuhan utama dari pekerja Kristen masa kini. Sebagai pekerja, kita harus terbiasa dengan pernyataan atau penyingkapan bahwa penebusan adalah satu-satunya realitas. Kesucian pribadi/perorangan adalah akibat penebusan, bukan penyebab (untuk mendapatkan) penebusan. Jika kita menaruh iman kita pada kebaikan manusia, maka kita akan tenggelam bila pencobaan datang.
Paulus tidak menyatakan bahwa dia mengkhususkan dirinya sendiri, tetapi “ketika Allah berkenan, Dia memilih aku...” demikian kata Paulus (Galatia 1:15, NKJV). Paulus tidak secara berlebihan menaruh perhatian atas diri/karakaternya sendiri.
Selama mata kita terpusat pada kesucian pribadi kita sendiri, maka kita takkan pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Para pekerja Kristen gagal karena mereka menaruh hasrat atau keinginan pada kesucian mereka sendiri diatas hasrat mereka untuk mengenal Allah. Mungkin ada yang berkata: “Jangan meminta saya untuk dihadapkan dengan realitas penebusan yang kokoh ditengah kecemaran hidup manusia sebagaimana adanya, apa yang saya inginkan adalah apa yang dapat dilakukan Allah bagi saya agar saya menjadi semakin menarik dalam pandangan saya sendiri.”
Berbicara demikian merupakan tanda bahwa realitas Injil Allah belum menyentuh diri saya. Dalam hal seperti itu, tidak ada kerelaan meninggalkan segalanya dan memberikan diri secara sepenuhnya kepada Allah. Allah tidak dapat membebaskan saya selagi minat saya hanya tertuju pada diri atau karakter saya sendiri. Paulus tidak melihat ke dirinya sendiri. Dia sepenuhnya berhenti dan menyerahkan diri, dan dipisahkan oleh Allah untuk satu maksud - memberitakan Injil Allah (Roma 9:3). (My Utmost for His Highest 31 Januari 2010)
Sadarkah Anda Akan Panggilan Anda?
”..... dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah (Roma 1:1).
Panggilan kita terutama bukanlah menjadi para pria dan wanita yang suci, melainkan untuk menjadi para pemberita Injil Allah. Satu hal yang maha-penting adalah Injil Allah harus dikenal sebagai satu-satunya realitas atau kenyataan yang kekal. Dan realitas ini bukanlah kebaikan manusia, atau kesucian, atau surga atau neraka, melainkan penebusan.
Hal ini dirasakan perlu menjadi kebutuhan utama dari pekerja Kristen masa kini. Sebagai pekerja, kita harus terbiasa dengan pernyataan atau penyingkapan bahwa penebusan adalah satu-satunya realitas. Kesucian pribadi/perorangan adalah akibat penebusan, bukan penyebab (untuk mendapatkan) penebusan. Jika kita menaruh iman kita pada kebaikan manusia, maka kita akan tenggelam bila pencobaan datang.
Paulus tidak menyatakan bahwa dia mengkhususkan dirinya sendiri, tetapi “ketika Allah berkenan, Dia memilih aku...” demikian kata Paulus (Galatia 1:15, NKJV). Paulus tidak secara berlebihan menaruh perhatian atas diri/karakaternya sendiri.
Selama mata kita terpusat pada kesucian pribadi kita sendiri, maka kita takkan pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Para pekerja Kristen gagal karena mereka menaruh hasrat atau keinginan pada kesucian mereka sendiri diatas hasrat mereka untuk mengenal Allah. Mungkin ada yang berkata: “Jangan meminta saya untuk dihadapkan dengan realitas penebusan yang kokoh ditengah kecemaran hidup manusia sebagaimana adanya, apa yang saya inginkan adalah apa yang dapat dilakukan Allah bagi saya agar saya menjadi semakin menarik dalam pandangan saya sendiri.”
Berbicara demikian merupakan tanda bahwa realitas Injil Allah belum menyentuh diri saya. Dalam hal seperti itu, tidak ada kerelaan meninggalkan segalanya dan memberikan diri secara sepenuhnya kepada Allah. Allah tidak dapat membebaskan saya selagi minat saya hanya tertuju pada diri atau karakter saya sendiri. Paulus tidak melihat ke dirinya sendiri. Dia sepenuhnya berhenti dan menyerahkan diri, dan dipisahkan oleh Allah untuk satu maksud - memberitakan Injil Allah (Roma 9:3). (My Utmost for His Highest 31 Januari 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)