Tampilkan postingan dengan label panggilan allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label panggilan allah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Agustus 2010

5 Agu ’10 - Panggilan Allah Yang Membingungkan

RENUNGAN hari ini, tentang Panggilan Allah - seperti apa Dia maksudkan dan inginkan kita ikutserta didalamnya - tidak pernah dapat dipahami kecuali secara batiniah. Bahkan Oswald Chambers menyebutnya sebagai panggilan yang membingungkan: Tapi tidak bagi orang-orang yang benar-benar percaya bahwa Allah tahu akan hal yang diinginkan-Nya dari kita, Dia yang menjadikan kita sahabat-Nya untuk menggenapi maksud-Nya.
PANGGILAN ALLAH YANG MEMBINGUNGKAN
...dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.... Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu (Lukas 18:31,34).
Allah memanggil Yesus Kristus untuk mengalami hal yang tampaknya merupakan bencana dahsyat. Dan Yesus Kristus memanggil para murid-Nya untuk melihat Dia dibunuh, membawa mereka pada pengalaman yang menghancurkan hati. Hidup-Nya merupakan kegagalan mutlak dilihat dari setiap sudut pandang, kecuali sudut pandang Allah. Akan tetapi, hal yang tampaknya berupa kegagalan dan sudut pandang manusia justru merupakan kemenangan dan sudut pandang Allah, karena maksud Allah tidak pernah sama dengan maksud manusia.
Panggilan Allah yang membingungkan ini juga datang dalam kehidupan kita. Panggilan Allah tidak pernah dapat dipahami sepenuhnya atau dijelaskan secara lahiriah, tetapi hanya dapat dirasakan dan dipahami secara batiniah kita yang terdalam.
Tujuan panggilan Allah kepada kita tidak dapat dinyatakan secara definit atau pasti, karena panggilan-Nya itu hanya untuk menjadi sahabat-Nya untuk menggenapi maksud-Nya sendiri.
Cara kita mengujinya ialah dengan benar-benar percaya bahwa Allah tahu akan hal yang diinginkan-Nya. Segala sesuatu yang terjadi tidaklah terjadi secara kebetulan – hal itu terjadi sepenuhnya oleh keputusan Allah. Allah berdaulat untuk melaksanakan maksud-Nya.
Jika ada dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah dan menyadari bahwa Dia mengikutsertakan kita ke dalam maksud-Nya, maka kita tidak akan berjuang lagi untuk mengetahui maksud-Nya. Sementara kita bertumbuh dalam kehidupan Kristen, hal itu menjadi lebih “sederhana” bagi kita, dan  kita tidak lagi dengan mudahnya berkata, “Mengapa Allah mengizinkan hal ini atau hal itu terjadi?” Dan kita mulai melihat bahwa maksud Allah yang sesungguhnya ada di balik segala sesuatu dalam kehidupan, dan Allah secara ilahi membentuk kita kedalam kesatuan dengan maksud tersebut.
Seorang Kristen ialah seseorang yang mempercayai pengetahuan dan hikmat Allah, bukan mempercayai kemampuannya/kecakapannya sendiri. Jika kita mempunyai maksud sendiri, hal itu merusak langkah sederhana dan tenang yang seharusnya menjadi ciri khas anak-anak Allah. (My Utmost for His Highest, 5 Agustus)

Rabu, 10 Maret 2010

MENJADI TELADAN DARI AMANAT-NYA

SALAH SATU KEBENARAN dalam renungan hari ini, bahwa Allah mampu membawa pekerja Kristen melampaui aspirasi dan gagasannya sendiri, dan membentuk dia untuk maksud tujuan-Nya, seperti yang dikerjakan-Nya dalam kehidupan para murid setelah Pentakosta. Asalkan kita mengizinkan Allah mendapat kebebasan penuh, mengerjakan pembebasan-Nya pertama-tama menjadi nyata dalam hidup kita. Selanjutnya dibawah ini


MENJADI TELADAN DARI AMANATNYA

Beritakanlah Firman” (2 Timotius 4: 2).

Kita bukan hanya diselamatkan hanya untuk menjadi alat bagi Allah, melainkan untuk menjadi Anak-anak-Nya. Dia tidak menjadikan kita menjadi sekedar petugas rohani tetapi menjadi pembawa amanat rohani, dan amanat tersebut harus menjadi bagian dari diri kita. Anak Allah sendiri merupakan amanat Allah sendiri - “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yohanes 6:63).

Sebagai murid-Nya, hidup kita harus menjadi teladan suci dan realita dari amanat yang kita sampaikan. Memang hati seseorang yang belum diselamatkan dapat juga melayani karena penugasan menghendaki demikian, tetapi diperlukan hati yang remuk oleh keinsyafan dosa, dibaptis oleh Roh Kudus dan ditaklukkan ke dalam kendali maksud tujuan Allah untuk menjadikan hidup seseorang sebagai teladan yang suci dari amanat Allah.

Ada perbedaan antara memberikan kesaksian dan berkhotbah. Seorang pengkhotbah adalah seseorang yang telah menerima panggilan Allah dan dengan tekun memakai seluruh tenaganya untuk menyatakan kebenaran Allah. (Tetapi) Allah membawa kita melampaui aspirasi dan gagasan kita sendiri, dan membentuk dan menempa kita untuk maksud tujuan-Nya bagi kita, seperti yang dikerjakan-Nya dalam kehidupan para murid setelah Pentakosta. Maksud dari Pentakosta bukanlah untuk mengajarkan sesuatu kepada para murid, melainkan membuat mereka menjadi inkarnasi atau penjelmaan dari khotbah mereka sehingga mereka secara harfiah menjadi amanat Allah dalam rupa manusia “...kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku...” (Kisah Para Rasul 1:8).

Izinkanlah Allah mendapat kebebasan penuh dalam hidup Anda bila Anda berbicara. Sebelum amanat Allah dapat membebaskan orang lain, pertama-tama pembebasan-Nya harus menjadi nyata dalam diri Anda. Kumpulkan bahan Anda dengan cermat, dan kemudian izinkan Allah untuk “membakar kata-kata Anda” bagi kemuliaan-Nya. (My Utmost for His Highest, 10 Maret 2010)

Rabu, 03 Februari 2010

Menjadi “Sampah Dunia”


PENGANTAR. Tidak mudah menerima “menjadi sampah dunia”. Pertama, karena tidak mudah memahami kebenarannya. Kedua, karena kita terlalu perhatian tentang diri kita dan tidak mau risiko ditolak, dll. Kita tidak dipaksa. Kita dapat menolak untuk “dikhususkan (Allah) untuk memberitakan Injil”. Tapi, seorang hamba Yesus Kristus sejati adalah orang yang bersedia menjadi martir untuk kenyataan Injil Allah. Dan tujuan Allah memanggil kita bukan untuk dijadikan manusia hebat oleh Allah, melainkan untuk “menyatakan Anak-Nya di dalam aku...”. Selanjutnya kita ikuti dibawah ini:

Menjadi “Sampah Dunia”
Kami telah menjadi sama dengan sampah dunia” (1 Korintus 4:13).
Pernyataan Paulus tersebut tidak berlebihan. Satu-satunya alasan bahwa pernyataan itu boleh jadi tidak benar mengenai kita sebagai pelayan Injil bukanlah bahwa Paulus lupa atau salah paham tentang kebenarannya, melainkan bahwa kita terlalu perhatian tentang diri kita dan tidak mau risiko membiarkan diri kita menjadi “sampah dunia”.
Apa yang dikatakan Paulus “menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus ....” (Kolose 1:24) bukan bukti dari penyucian, melainkan bukti dari menjadi ‘dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah...’ (Roma 1:1).
“Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian...” (1 Petrus 4:12). Jika kita merasa heran akan hal-hal yang kita hadapi, itu disebabkan kita penakut dan pengecut. Kita terlalu mempedulikan kepentingan dan hasrat kita sendiri sehingga kita menghindar dari kesulitan dan berkata, ”Aku tidak akan takluk; aku tidak akan menyerah, aku tidak akan tunduk”. Dan Anda tidak perlu melakukannya, Anda dapat menyelamatkan diri jika Anda mau. Anda dapat menolak untuk membiarkan Allah memperhitungkan Anda sebagai orang yang “dikhususkan untuk memberitakan Injil..”
Atau (sebaliknya) Anda dapat berkata, “Aku tidak peduli diperlakukan seperti ”sampah dunia” asalkan Injil diberitakan. Seorang hamba Yesus Kristus yang sejati adalah orang yang bersedia menjadi martir untuk kenyataan Injil Allah.
Bila seseorang bermoral dihadapkan pada penghinaan, immoralitas, ketidaksetiaan, atau ketidakjujuran, dia sedemikian terusik dengan pelanggaran itu sehingga dia menutup diri dan menutup hatinya terhadap si pelanggar/pelaku.
Akan tetapi, keajaiban dari realitas penebusan Allah adalah bahwa pelanggar atau orang bersalah yang terburuk dan terhina sekalipun tidak pernah kehabisan Kasih-Nya yang begitu dalam. Paulus tidak mengatakan bahwa Allah mengkhususkan dia untuk menunjukkan bagaimana Allah akan menjadikannya manusia hebat, melainkan untuk “menyatakan Anak-Nya di dalam aku...” (Galatia 1:16). (My Utmost for His Highest 3 Februari 2010).

Selasa, 02 Februari 2010

Kekuatan Mendesak Panggilan Allah

Pengantar Panggilan untuk memberitakan Injil, bagi Paulus bukan sekedar panggilan begitu saja. Tetapi merupakan suatu kekuatan yang membuatnya merasa teramat sangat sedih, terkutuk, ”jika aku tidak memberitakan Injil”. Dan ketika seseorang mendengar panggilan itu, maka mulailah proses kematian diri, dan hanya satu hal yang tertinggal, suara panggilan - “... dikhususkan untuk memberitakan Injil”. Lagi, beberapa bagian renungan ini terasa sulit karena kedalaman materi maupun penyajiannya, namun intinya jelas, seperti dapat kita ikuti dibawah ini:


Kekuatan Mendesak Panggilan Allah

“Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Korintus 9:16).

Waspadalah terhadap penolakan untuk mendengar panggilan Allah. Setiap orang yang diselamatkan dipanggil untuk bersaksi mengenai fakta keselamatan yang diperolehnya, namun, hal itu (panggilan bersaksi) tidak sama dengan panggilan untuk berkhotbah, bersaksi lebih merupakan suatu ilustrasi dalam khotbah.

Dalam ayat diatas, Paulus menunjuk pada rasa sedih yang dalam, yang timbul dalam dirinya oleh kekuatan yang mengasak atau mendesak dari panggilan untuk memberitakan Injil. Jangan pernah menerapkan apa yang dikatakan Paulus dalam hubungan ini kepada jiwa-jiwa yang dipanggil kepada Allah untuk menerima keselamatan. Tidak ada yang lebih mudah ketimbang diselamatkan, karena hal itu semata-mata merupakan karya kuasa Allah, seperti firman yang mengatakan: ”pandanglah kepada-Ku dan selamatlah ...” (Yesaya 45:22). Tuhan tidak pernah menetapkan syarat yang sama bagi pemuridan dengan syarat bagi keselamatan. Kita terbebas dari kutuk dan mendapat keselamatan hanya oleh Salib Kristus. Akan tetapi, pemuridan mengandung pilihan atau syarat: “Jikalau seorang …...“ (Lukas 14:26).

Ucapan Paulus berkenaan dengan hal kita menjadi hamba Yesus Kristus, dimana kita tidak pernah diminta persetujuan mengenai tindakan yang akan kita lakukan atau ke mana kita akan pergi. Allah menjadikan kita sebagai roti yang dipecah-pecahkan dan anggur yang dicurahkan untuk menyenangkan-Nya. “Dikhususkan untuk memberitakan Injil” berarti mendengar panggilan Allah (Roma 1:1).

Dan ketika seseorang mulai mendengar panggilan itu, maka mulailah penderitaan karena nama Kristus: Setiap ambisi dipotong sebelum kuncup, setiap hasrat hidup dihentikan, setiap pandangan dipadamkan dan tidak lagi tampak. Hanya satu hal yang tertinggal - “... dikhususkan untuk memberitakan Injil”.

Celakalah jiwa yang mencoba menempatkan kakinya ke arah lain sekali panggilan itu datang kepadanya. Keberadaan Sekolah Alkitab bertujuan agar setiap orang dapat mengetahui apakah memang ada pria atau wanita di tempat tersebut yang benar-benar peduli akan pemberitaan Injil Allah dan melihat apakah Allah “menangkap” Anda untuk maksud ini.

Waspadalah terhadap suara panggilan-panggilan lain jika panggilan Allah ditujukan kepada Anda. (My Utmost for His Highest 2 Februari 2010).

Minggu, 31 Januari 2010

Sadarkah Anda Akan Panggilan Anda?

Renungan hari ini (dan besok) merupakan bagian yang sulit – tapi teramat dalam - dari penulisan Chambers. Tapi intinya jelas. Ditekankan bahwa kebaikan manusia, kesucian pribadi, adalah akibat dari penebusan, bukan untuk mendapatkan penebusan. Juga mengungkapkan adanya bahaya bahwa mata kita terpusat pada kesucian pribadi, dan menempatkannya diatas keinginan untuk mengenal Allah, sehingga kita tidak pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Lebih lanjut dapat kita ikuti dibawah ini:

Sadarkah Anda Akan Panggilan Anda?

..... dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah (Roma 1:1).

Panggilan kita terutama bukanlah menjadi para pria dan wanita yang suci, melainkan untuk menjadi para pemberita Injil Allah. Satu hal yang maha-penting adalah Injil Allah harus dikenal sebagai satu-satunya realitas atau kenyataan yang kekal. Dan realitas ini bukanlah kebaikan manusia, atau kesucian, atau surga atau neraka, melainkan penebusan.

Hal ini dirasakan perlu menjadi kebutuhan utama dari pekerja Kristen masa kini. Sebagai pekerja, kita harus terbiasa dengan pernyataan atau penyingkapan bahwa penebusan adalah satu-satunya realitas. Kesucian pribadi/perorangan adalah akibat penebusan, bukan penyebab (untuk mendapatkan) penebusan. Jika kita menaruh iman kita pada kebaikan manusia, maka kita akan tenggelam bila pencobaan datang.

Paulus tidak menyatakan bahwa dia mengkhususkan dirinya sendiri, tetapi “ketika Allah berkenan, Dia memilih aku...” demikian kata Paulus (Galatia 1:15, NKJV). Paulus tidak secara berlebihan menaruh perhatian atas diri/karakaternya sendiri.

Selama mata kita terpusat pada kesucian pribadi kita sendiri, maka kita takkan pernah sampai pada realitas sepenuhnya dari penebusan. Para pekerja Kristen gagal karena mereka menaruh hasrat atau keinginan pada kesucian mereka sendiri diatas hasrat mereka untuk mengenal Allah. Mungkin ada yang berkata: “Jangan meminta saya untuk dihadapkan dengan realitas penebusan yang kokoh ditengah kecemaran hidup manusia sebagaimana adanya, apa yang saya inginkan adalah apa yang dapat dilakukan Allah bagi saya agar saya menjadi semakin menarik dalam pandangan saya sendiri.”

Berbicara demikian merupakan tanda bahwa realitas Injil Allah belum menyentuh diri saya. Dalam hal seperti itu, tidak ada kerelaan meninggalkan segalanya dan memberikan diri secara sepenuhnya kepada Allah. Allah tidak dapat membebaskan saya selagi minat saya hanya tertuju pada diri atau karakter saya sendiri. Paulus tidak melihat ke dirinya sendiri. Dia sepenuhnya berhenti dan menyerahkan diri, dan dipisahkan oleh Allah untuk satu maksud - memberitakan Injil Allah (Roma 9:3). (My Utmost for His Highest 31 Januari 2010)

Minggu, 17 Januari 2010

Panggilan Kehidupan Yang Hakiki

BAGAIMANAKAH mengetahui panggilan Allah? Dan bagaimana saya dapat mengerti dan menyadarinya serta mewujudkannya dalam pelayanan. Pertanyaan yang tidak mudah! Jawabannya, terletak pada hubungan yang benar dengan Allah, seperti diuraikan dalam renungan hari ini berjudul Panggilan Kehidupan Yang Hakiki.



“... waktu Ia (Allah) ... berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku” (Galatia 1:15-16).

PANGGILAN ALLAH Allah bukanlah suatu panggilan untuk melayani Dia dengan cara khusus. Hubungan saya dengan sifat hakiki (nature) Allah akan membentuk pengertian saya mengenai panggilan-Nya dan akan membantu saya menyadari hal-hal yang benar-benar ingin saya lakukan bagi-Nya. Panggilan Allah adalah ekspresi dari sifat-Nya, dan pelayanan yang dihasilkan (dalam hidup saya) merupakan sesuatu yang menyatu dengan saya dan merupakan ekpresi dari sifat saya.

Inilah panggilan dari kehidupan yang hakiki, yang disebutkan oleh rasul Paulus “ ...waktu Ia (Allah) ..... berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi...”. ”Memberitakan Dia” artinya secara murni dan sungguh-sungguh mengeskpresikan Dia.

Pelayanan adalah limpahan dari kehidupan yang penuh dengan kasih dan pengabdian. Tegasnya, pelayanan adalah buah, bukan panggilan pelayanan demi pelayanan. Pelayanan adalah hal yang dihasilkan dari hubungan dengan Allah dan merupakan refleksi dari kesatuan atau identifikasi saya dengan sifat hakiki Allah. Pelayanan menjadi bagian yang menyatu dengan hidup saya. Allah membawa saya ke dalam hubungan yang benar dengan diri-Nya sehingga saya dapat memahami panggilan-Nya, dan kemudian saya melayani Dia berlandaskan kasih yang mutlak. Pelayanan kepada Allah adalah merupakan pemberian-kasih yang sungguh dari hakikat telah mendengar panggilan Allah. Pelayanan adalah ekspresi dari hakikat saya, dan panggilan Allah adalah ekspresi dari kahikat-Nya.

Oleh karena itu, ketika saya menerima sifat-Nya dan mendengar panggilan-Nya, suara ilahi-Nya bergaung di seluruh hakikat-Nya dan saya, dan keduanya menjadi satu dalam pelayanan. Anak Allah menyatakan diri-Nya di dalam saya, dan dari pengabdian kepada-Nya, pelayanan menjadi jalan hidup saya setiap hari. (My Utmost for His Highest 17 Januari 2010).

Sabtu, 16 Januari 2010

Panggilan Allah


RENUNGAN "My Utmost for His Highest" hari ini mengenai panggilan Allah, dimana dikatakan Allah mengerjakan panggilan-Nya melalui hidup kita, dan hanya kita yang dapat membedakannya. Selama saya masih memikirkan kelebihan atau kebolehan saya sendiri dan hanya memikirkan hal-hal yang sesuai dengan diri saya, maka saya takkan pernah mendengar panggilan Allah. Lebih jauh kita ikuti dibawah ini:



Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yesaya 6:8).
Bila kita berbicara tentang panggilan Allah, kita sering melupakan hal yang terpenting, yaitu sifat hakiki atau nature Dia yang memanggil. Ada banyak hal yang memanggil kita masing-masing saat ini. Sebagian dari panggilan itu akan dijawab, sedangkan lainnya bahkan tidak akan terdengar. Panggilan adalah ungkapan atau ekspresi dari sifat sang Pemanggil, dan kita hanya dapat mengenali panggilan itu jika sifat yang sama ada dalam diri kita. Panggilan Allah adalah ungkapan dari sifat Allah, bukan sifat kita. Allah mengerjakan panggilan-Nya melalui hidup kita, dan hanya kita yang dapat membedakannya. Panggilan itu merupakan suara Allah yang ditujukan langsung kepada kita mengenai kehendaknya atas sesuatu hal tertentu, dan tidak ada gunanya untuk mencari pendapat orang lain tentang hal itu. Respon kita mengenai panggilan Allah semata-mata merupakan urusan pribadi kita sendiri dengan Allah.
Panggilan Allah bukanlah suatu refleksi sifat saya. Hasrat dan watak pribadi saya (walaupun bagus) sama sekali tidak dapat jadi pertimbangan. Selama saya masih memikirkan kelebihan atau kebolehan saya sendiri dan hanya memikirkan hal-hal yang sesuai dengan diri saya, maka saya takkan pernah mendengar panggilan Allah. Akan tetapi, ketika Allah membawa saya pada hubungan yang benar dengan Dia, saya akan berada dalam keadaan yang sama dengan Yesaya. Yesaya telah sedemikian terbiasa dengan Allah, sebagai akibat dan krisis besar yang baru saja dihadapinya, sehingga panggilan Allah merasuk menembus jiwanya.

Sebagian besar kita tidak dapat mendengar apa pun kecuali diri kita sendiri. Dan kita tidak dapat mendengar apapun yang diucapkan oleh Allah. Akan tetapi, dibawa ke tempat dimana kita dapat mendengar panggilan Allah berarti kita diubahkan secara mendalam. (My Utmost for His Highest 16 Januari 2010)

&&&


Tuhan, biarlah saya mengetahu dengan jelas pekerjaaan untuk mana Engkau memanggil saya untuk dikerjakan dalam hidup ini. Dan berikanlah saya kasih karuniamu yang saya butuhkan untuk menjawab panggilan-Mu dengan keberanian dan kasih serta pengabdian yang bertahan kepada kehendak-Mu” - "Vocation Prayer," Saint Meinrad Prayer Book

Panggilan Allah Yang Sesungguhnya

Hari ini renungan dari My Utmost for His Highest mengenai panggilan Allah, dimana dikatakan Allah mengerjakan panggilan-Nya melalui hidup kita, dan hanya kita yang dapat membedakannya. Selama saya masih memikirkan kelebihan atau kebolehan saya sendiri dan hanya memikirkan hal-hal yang sesuai dengan diri saya, maka saya takkan pernah mendengar panggilan Allah. Lebih jauh kita ikuti dibawah ini:



Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yesaya 6:8).

Bila kita berbicara tentang panggilan Allah, kita sering melupakan hal yang terpenting, yaitu sifat atau nature Dia yang memanggil. Ada banyak hal yang memanggil kita masing-masing saat ini. Sebagian dari panggilan itu akan dijawab, sedangkan lainnya bahkan tidak akan terdengar. Panggilan adalah ungkapan atau ekspresi dari sifat sang Pemanggil, dan kita hanya dapat mengenali panggilan itu jika sifat yang sama ada dalam diri kita. Panggilan Allah adalah ungkapan dari sifat Allah, bukan sifat kita. Allah mengerjakan panggilan-Nya melalui hidup kita, dan hanya kita yang dapat membedakannya. Panggilan itu merupakan suara Allah yang ditujukan langsung kepada kita mengenai kehendaknya atas sesuatu hal tertentu, dan tidak ada gunanya untuk mencari pendapat orang lain tentang hal itu. Respon kita mengenai panggilan Allah semata-mata merupakan urusan pribadi kita sendiri dengan Allah.

Panggilan Allah bukanlah suatu refleksi sifat saya. Hasrat dan watak pribadi saya (walaupun bagus) sama sekali tidak dapat jadi pertimbangan. Selama saya masih memikirkan kelebihan atau kebolehan saya sendiri dan hanya memikirkan hal-hal yang sesuai dengan diri saya, maka saya takkan pernah mendengar panggilan Allah. Akan tetapi, ketika Allah membawa saya pada hubungan yang benar dengan Dia, saya akan berada dalam keadaan yang sama dengan Yesaya. Yesaya telah sedemikian terbiasa dengan Allah, sebagai akibat dan krisis besar yang baru saja dihadapinya, sehingga panggilan Allah merasuk menembus jiwanya.

Sebagian besar kita tidak dapat mendengar apa pun kecuali diri kita sendiri. Dan kita tidak dapat mendengar apapun yang diucapkan oleh Allah. Akan tetapi, dibawa ke tempat dimana kita dapat mendengar panggilan Allah berarti kita diubahkan secara mendalam. (My Utmost for His Highest 16 Januari 2010).

Kamis, 14 Januari 2010

Panggilan Allah


Renungan hari ini tentang “Panggilan Allah”. Dikatakan, panggilan Allah sesungguhnya tidak tertuju hanya kepada segelintir orang pilihan melainkan kepada setiap orang. Soalnya, apakah saya mendengar panggilan Allah atau tidak. Tergantung pada pendengaran saya, dan pendengaran saya sesungguhnya tergantung pada sikap rohani saya. Lalu bagaimana dengan ”Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih”? Lebih lanjut dibawah ini:


Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untukAku. Maka sahutku, ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8).

Menarik bahwa Allah tidak memanggil langsung kepada Yesaya. Tetapi Yesaya mendengar suara Allah berkata, “...siapakah yang mau pergi untuk Aku”.

Panggilan Allah tidak tertuju hanya kepada segelintir orang pilihan melainkan kepada setiap orang. Soalnya, apakah saya mendengar panggilan Allah atau tidak. Tergantung pada pendengaran saya, dan pendengaran saya sesungguhnya tergantung pada sikap rohani saya.

Yesus berkata ....”Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih” (Matius 22:14). Maksudnya, hanya sedikit yang membuktikan bahwa mereka adalah orang pilihan. Orang pilihan adalah mereka yang telah menjalin hubungan dengan Allah melalui Yesus Kristus dan keadaan rohani mereka telah diubah serta telinga mereka telah dibuka. Kemudian mereka mendengar “suara Tuhan” yang terus-menerus bertanya, “...siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Namun Allah tidak menyisihkan seseorang secara terpisah lalu berkata, “Nah, engkaulah yang pergi.” Dia tidak memaksakan kehendak-Nya kepada Yesaya. Yesaya berada di hadirat Allah, dan dia mendengar suara panggilan itu. Tanggapannya, yang dicetuskan dengan penuh kerelaan, hanya berbunyi, “Inilah aku, utuslah aku!”

Singkirkan pendapat dan pikiran Anda yang mengharapkan Allah datang memaksa Anda atau memohon kepada Anda. Ketika Tuhan memanggil para murid-Nya, Dia melakukannya tanpa tekanan dan pihak luar. Panggilan-Nya yang tenang, penuh semangat dan wibawa ”Ikutlah Aku”, diucapkan kepada mereka yang seluruh indranya siap untuk menerima (Matius 4:19). Jika kita mengizinkan Roh Kudus membawa kita ”muka dengan muka” dengan Allah, maka kita juga akan mendengar suara yang didengar oleh Yesaya - “suara Tuhan”. Dengan penuh kebebasan kita juga akan berkata, “Inilah aku, utuslah aku!” (My Utmost for His Highest 14 Januari 2010).