Tampilkan postingan dengan label memberitakan injil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memberitakan injil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Juli 2010

17 Jul ’10 - Kepercayaan Kepada Yesus Adalah Mukjizat

SERING orang bicara tentang kehebatan seorang penghotbah. Tapi renungan hari ini menegaskan, bahwa kepercayaan kepada Yesus adalah mukjizat yang timbul dari karya Penebusan Yesus, dari kuasa Allah. Bukan karena kepribadian sang pengkhotbah. Bahkan dalam penghujung renungan ini dikatakan, jika hanya karena pemberitaan seseorang orang lain berhasrat menjadi lebih baik, maka mereka takkan pernah datang dekat kepada Yesus.
KEPERCAYAAN KEPADA YESUS ADALAH MUKJIZAT
Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan .... ” (1 Korintus 2:4).
Paulus adalah seorang cendekiawan dan orator terkemuka. Disini (dalam ayat di atas) apa yang ia mau katakan ialah bahwa bila ia memberitakan Injil dengan berusaha mempengaruhi para pendengarnya dengan kefasihan bicaranya, dia akan menyelubungi kuasa Allah.
Kepercayaan kepada Yesus adalah mukjizat yang timbul dari karya Penebusan, bukan dari pidato atau khotbah yang mengesankan atau bujuk rayu dan ajakan, melainkan semata-mata dari kuasa Allah yang tidak membutuhkan bantuan apapun. Kuasa penebusan yang kreatif datang melalui pemberitaan Injil, bukan karena kepribadian sang pengkhotbah atau pemberitanya.
Puasa yang benar dan sesungguhnya dari seorang pemberita Injil bukanlah puasa dari makanan, melainkan puasa dari kefasihan berbicara, dan gaya bicara yang mengesankan, dan dari segala sesuatu lainnya yang dapat merintangi Injil Allah yang sedang disampaikan. Pemberita Injil ada disana sebagai wakil Allah - “... seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami(2 Korintus 5:20). Dia berdiri untuk menyajikan Injil Allah.
Jika hanya karena pemberitaan atau khotbah saya orang-orang berhasrat untuk menjadi lebih baik, maka mereka takkan pernah datang dekat kepada Yesus Kristus. Karena, apa pun yang membuat saya tersanjung dalam pemberitaan Injil yang saya lakukan, akan menjadikan saya seorang pengkhianat kepada Yesus, dan akan merintangi kuasa penebusan-Nya. Karena, seperti kata Yesus, “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan... akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yohanes 12:32). (My Utmost for His Highest, 17 Juli)

Selasa, 02 Februari 2010

Kekuatan Mendesak Panggilan Allah

Pengantar Panggilan untuk memberitakan Injil, bagi Paulus bukan sekedar panggilan begitu saja. Tetapi merupakan suatu kekuatan yang membuatnya merasa teramat sangat sedih, terkutuk, ”jika aku tidak memberitakan Injil”. Dan ketika seseorang mendengar panggilan itu, maka mulailah proses kematian diri, dan hanya satu hal yang tertinggal, suara panggilan - “... dikhususkan untuk memberitakan Injil”. Lagi, beberapa bagian renungan ini terasa sulit karena kedalaman materi maupun penyajiannya, namun intinya jelas, seperti dapat kita ikuti dibawah ini:


Kekuatan Mendesak Panggilan Allah

“Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Korintus 9:16).

Waspadalah terhadap penolakan untuk mendengar panggilan Allah. Setiap orang yang diselamatkan dipanggil untuk bersaksi mengenai fakta keselamatan yang diperolehnya, namun, hal itu (panggilan bersaksi) tidak sama dengan panggilan untuk berkhotbah, bersaksi lebih merupakan suatu ilustrasi dalam khotbah.

Dalam ayat diatas, Paulus menunjuk pada rasa sedih yang dalam, yang timbul dalam dirinya oleh kekuatan yang mengasak atau mendesak dari panggilan untuk memberitakan Injil. Jangan pernah menerapkan apa yang dikatakan Paulus dalam hubungan ini kepada jiwa-jiwa yang dipanggil kepada Allah untuk menerima keselamatan. Tidak ada yang lebih mudah ketimbang diselamatkan, karena hal itu semata-mata merupakan karya kuasa Allah, seperti firman yang mengatakan: ”pandanglah kepada-Ku dan selamatlah ...” (Yesaya 45:22). Tuhan tidak pernah menetapkan syarat yang sama bagi pemuridan dengan syarat bagi keselamatan. Kita terbebas dari kutuk dan mendapat keselamatan hanya oleh Salib Kristus. Akan tetapi, pemuridan mengandung pilihan atau syarat: “Jikalau seorang …...“ (Lukas 14:26).

Ucapan Paulus berkenaan dengan hal kita menjadi hamba Yesus Kristus, dimana kita tidak pernah diminta persetujuan mengenai tindakan yang akan kita lakukan atau ke mana kita akan pergi. Allah menjadikan kita sebagai roti yang dipecah-pecahkan dan anggur yang dicurahkan untuk menyenangkan-Nya. “Dikhususkan untuk memberitakan Injil” berarti mendengar panggilan Allah (Roma 1:1).

Dan ketika seseorang mulai mendengar panggilan itu, maka mulailah penderitaan karena nama Kristus: Setiap ambisi dipotong sebelum kuncup, setiap hasrat hidup dihentikan, setiap pandangan dipadamkan dan tidak lagi tampak. Hanya satu hal yang tertinggal - “... dikhususkan untuk memberitakan Injil”.

Celakalah jiwa yang mencoba menempatkan kakinya ke arah lain sekali panggilan itu datang kepadanya. Keberadaan Sekolah Alkitab bertujuan agar setiap orang dapat mengetahui apakah memang ada pria atau wanita di tempat tersebut yang benar-benar peduli akan pemberitaan Injil Allah dan melihat apakah Allah “menangkap” Anda untuk maksud ini.

Waspadalah terhadap suara panggilan-panggilan lain jika panggilan Allah ditujukan kepada Anda. (My Utmost for His Highest 2 Februari 2010).