Tampilkan postingan dengan label penyerahan total. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyerahan total. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Mei 2010

30 Mei ’10 – Ya Tuhan, ... Tetapi .....!



YA TUHAN, ... TETAPI .....!
Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi... ” (Lukas 9:61).
Seandainya Allah menyuruh Anda berbuat sesuatu yang merupakan ujian besar dan bertolak belakang dengan akal sehat Anda, apakah yang akan Anda lakukan? Menahan diri?
Jika Anda menjadi terbiasa melakukan sesuatu dalam hal jasmani, Anda akan melakukannya setiap kali sampai Anda mematahkan kebiasaan itu melalui tekad bulat. Hal serupa berlaku secara rohani. Berulang kali Anda ingin sampai pada apa yang Yesus inginkan, tetapi setiap kali Anda gagal, kembali ketitik awal keberadaan Anda, sampai Anda menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
Masalahnya kita cenderung berkilah, “Ya, tetapi - misalkan aku mematuhi Allah dalam hal ini, bagaimana dengan ......? “Atau kita berkata, “Ya, aku akan mematuhi Allah jika yang diminta-Nya tidak bertentangan dengan akal sehatku, tetapi jangan minta aku melangkah dalam gelap”.
Yesus Kristus menuntut semangat dan keberanian yang tak bersyarat pada orang yang menaruh iman percayanya pada Dia. Seperti halnya juga ditunjukkan orang-orang pada umumnya, jika ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat dan menyenangkan, adakalanya dia harus mempertaruhkan segala sesuatu termasuk kalau perlu ”melompat dalam gelap”. Dalam alam rohani, Yesus Kristus menuntut Anda mempertaruhkan segala sesuatu yang Anda genggam atau percayai melalui akal sehat, dan mengambil langkah iman untuk mengikuti firman-Nya. Sekali Anda patuh, Anda akan mendapati bahwa firman-Nya sungguh benar.
Dari segi akal sehat, pernyataan-pernyataan Yesus Kristus mungkin tampak mustahil, tetapi bila Anda mengujinya dalam “kemurnian imanmu (1 Petrus 1:7), temuan Anda akan memenuhi roh Anda dengan kenyataan yang mengagumkan bahwa perkataan-perkataan Tuhan sungguh benar. Percayalah diri Anda sepenuhnya kepada Allah, dan bila Dia membawa Anda kepada suatu kesempatan penjelajahan (rohani) baru, yang diberikan kepada Anda, pastikanlah bahwa Anda menerimanya.
Bertindaklah berani, walaupun sendirian ditengah-tengah orang banyak tetap maju mempertaruhkan imannya pada sifat Allah. (My Utmost for His Highest, 30 Mei 2010)

Jumat, 12 Maret 2010

PENYERAHAN TOTAL

RENUNGAN hari ini mengingatkan betapa sering alasan penyerahan kepada Allah salah - untuk mendapat imbalan. Betapa egoisnya kita bila datang kepada Allah untuk memperoleh sesuatu dari Dia, bukannya datang untuk (mendapatkan) Allah sendiri. Juga diingatkan, betapa mudah orang berbicara tentang penyerahan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengalami penyerahan. Selanjutnya dibawah ini:



PENYERAHAN TOTAL

Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau” (Markus 10:28).
Tuhan menanggapi pernyataan Petrus ini dengan berkata bahwa penyerahan ini adalah “karena Aku dan karena Injil” (Markus 10:29), bukan untuk memperoleh imbalan.

Waspadalah terhadap penyerahan berlatar-belakang keuntungan pribadi yang mungkin dihasilkan dari penyerahan. Misalnya, ”Aku akan menyerahkan diri kepada Allah karena aku ingin dibebaskan dari dosa, karena aku ingin menjadi suci.”Dibebaskan dari dosa dan menjadi suci adalah akibat dari dibenarkan oleh Allah, tetapi penyerahan yang dihasilkan dari pemikiran atau alasan seperti ini sesungguhnya bukan sifat kekristenan sejati.

Alasan dari penyerahan kita janganlah sama sekali untuk keuntungan pribadi. Betapa egoisnya kita bila kita datang kepada Allah untuk memperoleh sesuatu dari Dia, bukannya datang untuk Allah sendiri. Itu sama seperti berkata, ”Tidak, Tuhan, aku tidak menghendaki Engkau; aku menghendaki diriku sendiri. Tetapi aku sungguh ingin Engkau membersihkan aku dan memenuhi aku dengan Roh Kudus-Mu. Aku ingin ditampilkan dalam etalase-Mu agar aku dapat berkata, ”Inilah yang telah dikerjakan Allah bagiku.”

Alasan mendapatkan surga, dibebaskan dari dosa dan dijadikan berguna bagi Allah, merupakan hal-hal yang bahkan seharusnya jangan sekali-kali dipertimbangkan dalam penyerahan yang sungguh. Penyerahan total sejati adalah suatu pilihan terutama pribadi hanya untuk Yesus Kristus sendiri.

Di manakah tempat bagi Yesus Kristus ketika kita sampai pada kendala hubungan keluarga? Kebanyakan dari kita akan meninggalkan Dia dengan dalih, “Ya, Tuhan, aku mendengar Engkau memanggilku, tetapi keluargaku membutuhkan aku dan aku perlu dengan mereka. Aku tidak dapat meneruskan perjalananku lagi” (lihat Lukas 9:57- 62). Maka, “Kalau begitu,” ujar Yesus, ”engkau tidak dapat menjadi murid-Ku’’ (lihat Lukas 14:26-33).

Penyerahan yang benar akan selalu melampaui pengabdian lahiriah. Kalau saja kita mau berserah, Allah sendiri akan turun membereskan yang ada dibelakang kita dan akan memenuhi kebutuhan mereka, sehubungan dengan penyerahan kita. Waspadalah agar kita jangan berhenti dan tidak sampai pada berserah sepenuhnya kepada Allah. Kebanyakan kita hanya mempunyai pandangan tentang penyerahan ini tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengalami penyerahan. (My Utmost for His Highest, 12 Maret 2010)