Tampilkan postingan dengan label ikut Yesus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikut Yesus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juni 2010

13 Jun ’10 - Maju Menuju ke Sana (3)



RENUNGAN hari ini “Maju Menuju ke Sana” merupakan rangkaian hari sebelumnya, yang mengajak kita membiarkan Allah mengerjakan karya kreatif-Nya didalam hidup kita, kehidupan dimana ada Sumur ajaib yang tiada habis-habisnya yang bersumber dari Roh Allah, sehingga kita dapat menjadi berkat bagi orang lain. Akan tetapi karya Allah tersebut hanya dapat dimulai dari penyerahan hak kita atas diri kita sendiri kepada Tuhan.

MAJU MENUJU KE SANA (3)
...datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Lukas 18:22).
Ketika keinginan atau hasrat kita pribadi mati maka penyerahan yang dikuduskan menjadi hidup. Salah satu rintangan terbesar untuk datang kepada Yesus ialah dalih tentang temperamen atau tabiat kita sendiri. Kita menjadikan tabiat kita dan hasrat lahiriah kita sebagai penghalang untuk datang kepada Yesus.
Namun hal pertama yang kita sadari bila kita sungguh datang kepada Yesus ialah bahwa Dia tidak menghiraukan sama sekali hasrat lahiriah. Kita berpendapat bahwa kita dapat mendedikasikan atau menyerahkan bakat kita kepada Allah. Namun Anda tidak dapat mendedikasikan sesuatu yang bukan milik Anda. Hanya ada satu hal yang dapat Anda dedikasikan kepada Allah, dan itu adalah hak Anda atas diri Anda sendiri (lihat Roma 12:1).
Jika Anda mau memberi kepada Allah hak Anda atas diri Anda sendiri, maka Dia akan membuat diri Anda menjadi sebuah karya kudus ditangan-Nya, dan karya-Nya selalu berhasil.
Tanda sejati dari orang kudus Allah ialah kreatifitas batiniah yang mengalir dari penyerahan sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Dalam kehidupan seorang kudus ada Sumur ajaib, yang merupakan Sumber yang tiada habis-habisnya dari kehidupan sejati. Roh Allah adalah Sumur air segar yang mengalir abadi.
Seorang kudus menyadari bahwa adalah Allah yang merancang situasinya; akibatnya tiada keluhan, yang ada hanyalah penyerahan yang bebas, tidak terkekang, kepada Yesus. Jangan sekali-kali menjadikan pengalaman Anda sebagai prinsip bagi orang lain; tetapi biarkan Allah mengerjakan karya kreatif-Nya sendiri atas orang lain seperti yang dilakukan-Nya dalam diri Anda.
Jika Anda menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus, dan datang ketika Dia berkata, “Datanglah” maka selanjutnya melalui Anda Dia akan berkata, “Datanglah”. Anda akan pergi ke dunia menyerukan kembali gema panggilan Kristus ” Datanglah”. Itulah hasil karya Allah dalam setiap jiwa yang telah menyerahkan semua dan datang kepada Yesus.
Sudahkah saya datang kepada-Nya? Maukah saya datang sekarang? (My Utmost for His Highest, 13 Juni)

Minggu, 30 Mei 2010

30 Mei ’10 – Ya Tuhan, ... Tetapi .....!



YA TUHAN, ... TETAPI .....!
Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi... ” (Lukas 9:61).
Seandainya Allah menyuruh Anda berbuat sesuatu yang merupakan ujian besar dan bertolak belakang dengan akal sehat Anda, apakah yang akan Anda lakukan? Menahan diri?
Jika Anda menjadi terbiasa melakukan sesuatu dalam hal jasmani, Anda akan melakukannya setiap kali sampai Anda mematahkan kebiasaan itu melalui tekad bulat. Hal serupa berlaku secara rohani. Berulang kali Anda ingin sampai pada apa yang Yesus inginkan, tetapi setiap kali Anda gagal, kembali ketitik awal keberadaan Anda, sampai Anda menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
Masalahnya kita cenderung berkilah, “Ya, tetapi - misalkan aku mematuhi Allah dalam hal ini, bagaimana dengan ......? “Atau kita berkata, “Ya, aku akan mematuhi Allah jika yang diminta-Nya tidak bertentangan dengan akal sehatku, tetapi jangan minta aku melangkah dalam gelap”.
Yesus Kristus menuntut semangat dan keberanian yang tak bersyarat pada orang yang menaruh iman percayanya pada Dia. Seperti halnya juga ditunjukkan orang-orang pada umumnya, jika ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat dan menyenangkan, adakalanya dia harus mempertaruhkan segala sesuatu termasuk kalau perlu ”melompat dalam gelap”. Dalam alam rohani, Yesus Kristus menuntut Anda mempertaruhkan segala sesuatu yang Anda genggam atau percayai melalui akal sehat, dan mengambil langkah iman untuk mengikuti firman-Nya. Sekali Anda patuh, Anda akan mendapati bahwa firman-Nya sungguh benar.
Dari segi akal sehat, pernyataan-pernyataan Yesus Kristus mungkin tampak mustahil, tetapi bila Anda mengujinya dalam “kemurnian imanmu (1 Petrus 1:7), temuan Anda akan memenuhi roh Anda dengan kenyataan yang mengagumkan bahwa perkataan-perkataan Tuhan sungguh benar. Percayalah diri Anda sepenuhnya kepada Allah, dan bila Dia membawa Anda kepada suatu kesempatan penjelajahan (rohani) baru, yang diberikan kepada Anda, pastikanlah bahwa Anda menerimanya.
Bertindaklah berani, walaupun sendirian ditengah-tengah orang banyak tetap maju mempertaruhkan imannya pada sifat Allah. (My Utmost for His Highest, 30 Mei 2010)

Senin, 15 Maret 2010

Disiplin Kecemasan


PERNAH merasa asing, merasa tidak kenal, merasa cemas dalam ikut Tuhan? Renungan hari ini berbicara hal ini, yang tampaknya juga menjadi bagian pengalaman hidup rohani penulisnya Oswald Chambers. Seperti juga pernah dialami oleh murid Yesus. Apa yang sesungguhnya terjadi, melalui hal itu, Yesus Kristus harus menggali dalam-dalam setiap dosa dan dukacita yang dapat kita alami, sebagai bagian disiplin-Nya!

Disiplin Kecemasan
“.... orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut” (Markus 10:32).
SETIAP orang pernah seperti murid dalam ayat diatas, dalam ikut Yesus cemas dan takut. Pada awal kehidupan kita dengan Yesus Kristus, kita yakin bahwa kita mengetahui semua hal tentang ikut Yesus. Saat itu sesuatu yang menyenangkan “meninggalkan segala sesuatu” dan menyandarkan diri pada-Nya dalam suatu pernyataan kasih yang tidak mengenal rasa takut. Akan tetapi, kemudian ada saat, kita tidak begitu yakin atau pasti. Yesus sepertinya berada jauh di depan kita dan tampaknya berbeda dan rasanya tidak kenal, asing dengan Dia. Seperti digambarkan dalam ayat diatas - “Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas” (Markus 10:32)*).
Memang ada satu aspek tentang Yesus yang menjadikan bahkan seorang murid tawar hati dan membuat seluruh kehidupan rohaninya mengap-mengap. Jesus, Pribadi yang luar biasa ini, yang wajah-Nya “seperti batu api” (Yesaya 50:7, NKJV) melangkah melesat di depan saya, dan menimbulkan rasa takut pada diri saya. Dia tidak lagi seperti Penasihat dan Sahabat saya. Dia sepertinya mempunyai sudut pandang yang tentangnya saya tidak mengetahui apa-apa. Yang dapat saya lakukan hanyalah berdiri dan menatap-Nya dengan rasa heran bukan main. Pada mulanya saya yakin saya memahami-Nya, tetapi kini saya tidak pasti. Saya mulai menyadari adanya jarak antara Yesus dan saya, dan rasanya saya tidak lagi akrab dengan Dia. Saya tidak tahu kemana Dia pergi, dan tujuan-Nya menjadi terasa jauh dan asing.
Melalui hal itu, Yesus Kristus harus menggali dalam-dalam setiap dosa dan dukacita yang dapat dialami manusia, dan itulah yang membuat Dia tampaknya kita tidak kenal? Bila kita melihat aspek ini tentang Dia, kita menyadari bahwa kita sesungguhnya tidak mengenal-Nya. Kita tidak mengenal bahkan satupun sifat hidup-Nya, dan kita tidak mengetahui bagaimana cara untuk mulai mengikut Dia. Dia berada jauh di depan kita, seorang Pemimpin yang tampaknya benar-benar tidak kita kenal, dan kita tidak mempunyai persahabatan dengan Dia.
Semuanya itu adalah bagian dari disiplin kecemasan/ketakutan dari Tuhan, suatu pelajaran penting yang harus dipelajari oleh seorang murid. Bahayanya adalah kita cenderung menoleh kebelakang pada saat-saat kepatuhan kita (dulu) dan pada pengorbanan-pengorbanan yang pernah kita berikan kepada Allah, dalam usaha membangkitkan kembali semangat kita kepada-Nya agar tetap kuat (lihat Yesaya 1: 10-11). Akan tetapi, ketika awan gelap kecemasan datang, hadapilah itu sampai berakhir, karena dari situ akan timbul kesanggupan untuk mengikuti Yesus dengan sungguh-sungguh, yang akan mendatangkan sukacita yang ajaib dan tidak terkatakan. (My Utmost for His Highest, 15 Maret 2010)

*) Selengkapnya Markus 10:31: “Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya”