Tampilkan postingan dengan label memandang kepada allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memandang kepada allah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Maret 2010

Mengambil Langkah Selanjutnya


BEKERJA melayani tanpa visi dari Allah? Renungan hari ini mengatakan, jika kita tidak mempunyai visi dari Allah, tidak ada semangat, dan tidak ada dorongan, maka diperlukan anugerah Allah untuk mengambil langkah selanjutnya dalam devosi kepada-Nya, dalam membaca dan mempelajari firman-Nya, dalam kehidupan keluarga, atau dalam kewajiban kepada-Nya. Lebih lanjut dibawah ini:

Mengambil Langkah Selanjutnya
….. dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesengsaraan dan kesukaran” (2 Korintus 6:4).
Jika Anda tidak mempunyai visi (penglihatan) dari Allah, tidak ada semangat dalam hidup Anda, dan tidak seorang pun memperhatikan serta menyemangati Anda, maka, diperlukan anugerah Allah Yang Mahakuasa, untuk mengambil langkah selanjutnya dalam devosi (pengabdian) Anda kepada-Nya, dalam membaca dan mempelajari firman-Nya, dalam kehidupan keluarga Anda, atau dalam kewajiban Anda kepada-Nya. Dibutuhkan lebih banyak anugerah Allah dan lebih besar kesadaran mendekat pada-Nya untuk mengambil langkah tersebut, dari pada yang dibutuhkan untuk memberitakan Injil.
Setiap orang Kristen harus mengalami esensi dari inkarnasi, yaitu kedatangan Yesus kedunia, dengan membawa langkah berikut tersebut ke dalam lingkungan terdekat Anda dan melaksanakannya secara nyata. Kita akan kehilangan minat dan menyerah bila kita tidak mempunyai visi, tidak ada semangat, dan tidak ada kemajuan, tetapi hanya mengalami hidup sehari-hari dengan tugas-tugas sepele dan tidak penting.
Hal yang sungguh akan menjadi kesaksian bagi Allah dan umat-Nya dalam jangka panjang adalah ketekunan yang ajek, bahkan ketika pekerjaannya tidak dilihat/diperhatikan orang lain.
Dan satu-satunya cara untuk menghayati kehidupan yang tak-terkalahkan adalah hidup memandang kepada Allah. Mohonlah kepada Allah agar tetap membuka mata rohani Anda terhadap Kristus yang telah bangkit, maka pekerjaan yang membosankan tidak mungkin menawarkan hati Anda. Jangan biarkan diri Anda berpikir bahwa sebagian dari tugas itu merendahkan martabat Anda atau terlampau remeh untuk Anda lakukan, dan ingatkan diri Anda akan teladan Kristus dalam Yohanes 13:1-17. (My Utmost for His Highest, 6 Maret 2010)

Jumat, 22 Januari 2010

Adakah Saya Memandang kepada Allah?

SERING tidak disadari bahwa kita lebih mudah terfokus pada berkat, bukan pada Sumber berkat, Allah sendiri. Malah, renungan hari ini mengatakan, kesulitan rohani terbesar yaitu memusatkan perhatian pada Allah. Lebih lanjut dibawah ini: 



“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan …(Yesaya 45:22)
Kata ”berpalinglah kepada-Ku” dalam Alkitab King James adalah ”look unto me”, artinya ”pandanglah kepada-Ku”.

Apakah kita berharap Allah datang kepada kita dengan berkat-berkat-Nya dan menyelamatkan kita? Dia bersabda, “Pandanglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan”.
 Kesulitan rohani terbesar adalah memusatkan perhatian kepada Allah, dan berkat-berkat-Nya itulah justru yang membuat hal ini menjadi sangat sulit. Kesukaran hampir selalu membuat kita memandang kepada Allah, tetapi berkat-berkat-Nya cenderung mengalihkan perhatian kita ke arah yang lain. Pelajaran dasar dari Khotbah di Bukit adalah mempersempit semua perhatian Anda sampai pikiran, hati dan tubuh Anda terpusat kepada Yesus Kristus, “Pandanglah kepada-Ku...”

Banyak di antara kita mempunyai gambaran dalam benak kita mengenai bagaimana seharusnya citra seorang Kristen, dan “mencari” citra ini pada diri orang Kristen lain akan menjadi penghalangan dalam pemusatan perhatian kita kepada Allah. Sering masalahnya menjadi tidak sederhana. Dia sebenarnya mengatakan, “Pandanglah kepada-Ku maka engkau diselamatkan – saat itu juga!” bukan, “Engkau akan diselamatkan pada suatu hari kelak”. Kita akan menjumpai hal yang kita cari jika kita mau memusatkan perhatian kepada-Nya. Tetapi, oleh banyak hal membuat perhatian kita teralihkan dari Allah dan kemudian kita merasa tidak diperdulikan-Nya, sementara Dia terus berkata kepada kita, ”Pandanglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan”.

Semua kesulitan, pencobaan dan kecemasan kita tentang hari esok akan lenyap bila kita memandang kepada Allah. Bangunlah dan pandanglah Allah. Bangunlah harapan Anda di atas Dia. Betapa pun banyaknya hal yang tampaknya menekan Anda, bertekadlah untuk mengenyahkannya, lalu pandanglah Dia. “Pandanglah kepada-Ku...” Keselamatan menjadi milik Anda pada saat Anda memandang Dia. (My Utmost for His Highest, 22 Januari 2010).