SERING tidak disadari bahwa kita lebih mudah terfokus pada berkat, bukan pada Sumber berkat, Allah sendiri. Malah, renungan hari ini mengatakan, kesulitan rohani terbesar yaitu memusatkan perhatian pada Allah. Lebih lanjut dibawah ini:
“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan …(Yesaya 45:22)
Kata ”berpalinglah kepada-Ku” dalam Alkitab King James adalah ”look unto me”, artinya ”pandanglah kepada-Ku”.
Apakah kita berharap Allah datang kepada kita dengan berkat-berkat-Nya dan menyelamatkan kita? Dia bersabda, “Pandanglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan”.
Kesulitan rohani terbesar adalah memusatkan perhatian kepada Allah, dan berkat-berkat-Nya itulah justru yang membuat hal ini menjadi sangat sulit. Kesukaran hampir selalu membuat kita memandang kepada Allah, tetapi berkat-berkat-Nya cenderung mengalihkan perhatian kita ke arah yang lain. Pelajaran dasar dari Khotbah di Bukit adalah mempersempit semua perhatian Anda sampai pikiran, hati dan tubuh Anda terpusat kepada Yesus Kristus, “Pandanglah kepada-Ku...”
Banyak di antara kita mempunyai gambaran dalam benak kita mengenai bagaimana seharusnya citra seorang Kristen, dan “mencari” citra ini pada diri orang Kristen lain akan menjadi penghalangan dalam pemusatan perhatian kita kepada Allah. Sering masalahnya menjadi tidak sederhana. Dia sebenarnya mengatakan, “Pandanglah kepada-Ku maka engkau diselamatkan – saat itu juga!” bukan, “Engkau akan diselamatkan pada suatu hari kelak”. Kita akan menjumpai hal yang kita cari jika kita mau memusatkan perhatian kepada-Nya. Tetapi, oleh banyak hal membuat perhatian kita teralihkan dari Allah dan kemudian kita merasa tidak diperdulikan-Nya, sementara Dia terus berkata kepada kita, ”Pandanglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan”.
Semua kesulitan, pencobaan dan kecemasan kita tentang hari esok akan lenyap bila kita memandang kepada Allah. Bangunlah dan pandanglah Allah. Bangunlah harapan Anda di atas Dia. Betapa pun banyaknya hal yang tampaknya menekan Anda, bertekadlah untuk mengenyahkannya, lalu pandanglah Dia. “Pandanglah kepada-Ku...” Keselamatan menjadi milik Anda pada saat Anda memandang Dia. (My Utmost for His Highest, 22 Januari 2010).
Tampilkan postingan dengan label keselamatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keselamatan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Januari 2010
Senin, 11 Januari 2010
Mata Yang Terbuka
Dalam renungan hari ini ditegaskan oleh Chambers bahwa pertobatan bukanlah kelahiran baru. Pertobatan lebih merupakan usaha manusia yang disadarkan. Sebaliknya kelahiran baru bukan karena keputusan orang bersangkutan. Ketika seseorang dilahirkan kembali, dia menerima sesuatu sebagai karunia dari Allah Yang Mahakuasa didalam Yesus Kristus. Keselamatan berarti kita dibawa pada suatu tempat yang menyanggupkan kita menerima sesuatu dari Allah didalam Yesus Kristus, yaitu pengampunan dosa. Ini diikuti oleh karya anugerah Allah yang kedua. Apakah itu? Kita lihat lebih lanjut dibawah ini.
“Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka... supaya mereka... memperoleh pengampunan dosa... “ (Kisah Para Rasul 26.17-18).
Ayat ini merupakan contoh terbesar dari esensi amanat seorang murid Yesus Kristus dalam seluruh Perjanjian Baru. Karya anugerah Allah yang pertama dapat diringkaskan dengan kata-kata, ”Supaya mereka memperoleh pengampunan dosa”. Bila seseorang gagal dalam kehidupannya sebagai orang Kristen, biasanya itu disebabkan dia tidak pernah menerima apapun. Tanda satu-satunya bahwa seseorang diselamatkan adalah bahwa dia telah menerima sesuatu dari Yesus Kristus.
Tugas kita sebagai pekerja untuk Allah adalah membuka mata manusia agar mereka dapat berpaling dari kegelapan kepada terang. Akan tetapi, itu bukanlah keselamatan; itu adalah pertobatan – yang lebih merupakan usaha dari seorang manusia yang disadarkan. Tidaklah pernyataan yang terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa sebagian besar orang yang disebut Kristen adalah seperti ini: mata mereka terbuka, tetapi mereka tidak menerima apa-apa.
Pertobatan bukanlah kelahiran baru. Inilah kenyataan yang diabaikan dalam pemberitaan kita masa kini. Ketika seseorang dilahirkan kembali, dia mengetahui hal itu karena dia telah menerima sesuatu sebagai karunia dari Allah Yang Mahakuasa. Kelahiran baru bukan karena keputusannya sendiri. Orang boleh membuat nazar dan janji, dan mungkin bertekad untuk melaksanakannya, tetapi hal ini bukanlah keselamatan. Keselamatan berarti kita dibawa pada suatu tempat yang menyanggupkan kita menerima sesuatu dari Allah atas wewenang Yesus Kristus, yaitu pengampunan dosa.
Ini diikuti oleh karya anugerah Allah yang kedua: ”mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.” Dalam pengudusan, orang yang telah lahir baru dengan penuh kesadaran memutuskan menyerahkan hak atas dirinya sendiri kepada Yesus Kristus, dan mempersatukan diri sepenuhnya dengan pelayanan Allah kepada orang lain. (My Utmost for His Highest, 10 Januari 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)
