Tampilkan postingan dengan label bersandar pada hidup kebangkitan Yesus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bersandar pada hidup kebangkitan Yesus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Mei 2010

28 Mei ’10 - Penyingkapan Yang Tidak Dipertanyakan

DALAM alam keterbukaan seperti saat ini, kita semakin dicecari hal-hal yang dapat mempengaruhi iman percaya kita. Bukan saja dari luar – seperti Da Vinci Code dan sebangsanya, tapi dari dalam – masalah dogma misalnya, atau yang lain - dari dalam diri kita sendiri. Yang manapun itu, Renungan hari ini menegaskan, tidak ada hal yang patut kita ragukan, kalau Allah sendiri mengungkapkan kebenaran-Nya kepada kita pribadi.


PENYINGKAPAN YANG TIDAK DIPERTANYAKAN
... pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-ku”(Yohanes 16:23).
Kapankah "hari itu"? "Hari itu" ialah ketika Tuhan yang telah naik ke surga itu menjadikan kita satu dengan Bapa sama seperti Yesus menjadi satu dengan Bapa, dan Yesus berkata, "Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. "
Sampai hidup kebangkitan Yesus sepenuhnya dinyatakan dalam diri Anda, Anda masih mempunyai banyak pertanyaan tentang banyak hal. Kemudian setelah itu Anda mendapati semua pertanyaan sirna – agaknya Anda tidak mempunyai pertanyaan lagi untuk diajukan. Anda telah sampai pada titik sepenuhnya mengadalkan diri pada hidup kebangkitan Yesus, yang membawa Anda pada kesatuan yang sempurna dengan maksud Allah.
"Pada hari itu" mungkin ada beberapa hal yang masih tersembunyi dari pengertian Anda, tetapi hal-hal itu takkan menjadi ganjalan antara hati Anda dengan Allah "Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku", artinya Anda tidak perlu bertanya karena Anda merasa pasti bahwa Allah akan menyingkapkan hal-hal yang sesuai dengan kehendak-Nya. Iman dan sejahtera seperti dalam Yohanes 14:1 (Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku) telah memenuhi hati Anda, sehingga memang tidak ada lagi pertanyaan yang perlu diajukan.
Namun, jika sesuatu merupakan suatu rahasia atau misteri bagi Anda dan mengganjal di hati Anda, jangan sekali-kali mencari penjelasan dalam akal pikiran Anda, tetapi carilah itu dalam roh Anda, yaitu sifat batiniah Anda yang sebenarnya - di situlah letak masalah tersebut.
Sekali Anda bersedia menyerahkan diri kepada kehidupan Yesus, pengertian Anda akan menjadi sangat jelas, dan Anda akan mencapai tempat dimana tidak ada jarak antara Bapa dan Anda, anak-Nya, karena Tuhan telah menjadikan Anda menjadi satu dengan-Nya. "Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku". (My Utmost for His Highest, 28 Mei 2010)

Minggu, 28 Februari 2010

Percayakah Kamu Sekarang?


SUNGGUH renungan hari ini merupakan peringatan bagi pekerja Kristen, yg telah meninggalkan Yesus .... namun berusaha melayani-Nya sebagai kewajiban atau karena merasa perlu menurut penilaian sendiri. Yang terjadi, bukan mencari pimpinan-Nya, tapi mengambil keputusan sendiri berdasarkan akal sehat, lalu meminta Tuhan memberkatinya - keputusan yg justru terlepas dari realita (Tuhan). Selanjutnya dibawah ini:

Percayakah kamu sekarang?
Karena itu kami percaya...” Jawab Yesus kepada mereka: ”Percayakah kamu sekarang?” (Yohanes 16.30-31).
Sekarang kami percaya...” Tetapi Yesus bertanya, “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang ..... ketika kamu meninggalkan Aku seorang diri” (Yohanes l6:31-32).
Banyak pekerja Kristen telah meninggalkan Yesus seorang diri namun berusaha melayani-Nya karena merasa sebagai kewajiban atau karena merasa perlu sebagai akibat dari penilaian mereka sendiri.
Alasan terjadinya hal ini sebenarnya adalah karena tidak adanya hidup kebangkitan dari Yesus. Jiwa kita telah lepas dari keakraban hubungan dengan Allah karena mengandalkan pengertian keagamaan kita sendiri (lihat Amsal 3:5-6).
Ini bukan dosa kesengajaan dan tidak ada hukuman yang berkaitan dengannya. Akan tetapi, pada saat seseorang menyadari betapa dia telah merintangi pengertiannya tentang Yesus Kristus, dan menyebabkan kebingungan, dukacita dan kesulitan bagi dirinya, maka dia harus segera kembali (kepada-Nya) dengan malu dan penyesalan.
Kita perlu bersandar pada hidup kebangkitan Yesus pada taraf yang lebih mendalam ketimbang yang kita lakukan sekarang ini. Kita harus terus-menerus terbiasa mencari pimpinan-Nya dalam setiap hal, bukannya mengambil keputusan kita sendiri berdasarkan akal sehat kita, lalu meminta Dia memberkati keputusan itu. Dia tidak dapat memberkati keputusan itu; itu bukan cara-Nya untuk berbuat demikian, dan keputusan tersebut terlepas dari realita atau kenyataan.
Jika kita berbuat sesuatu semata-mata karena merasa wajib, maka kita mencoba hidup menurut tolok ukur lain selain yang bersumber dari Yesus Kristus. Kita menjadi orang yang sombong dan arogan, menyangka bahwa kita tahu tindakan yang harus dilakukan dalam setiap situasi. Kita telah mendudukkan kewajiban di atas takhta kehidupan kita, bukannya mengutamakan hidup kebangkitan Yesus.
Kita tidak diperintah untuk “hidup di dalam terang” dari nurani kita atau di dalam terang dari kewajiban kita, melainkan “hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang...” (1 Yohanes 1:7).
Bila kita berbuat sesuatu berdasarkan kewajiban, maka mudah untuk memberikan argumen atau alasan dari tindakan kita kepada orang lain. Akan tetapi, bila kita berbuat sesuatu dalam ketaatan kepada Tuhan, maka takkan ada penjelasan atau argumen lain – kecuali ketaatan. Itulah sebabnya seorang kudus dapat mudah diejek dan disalah-mengerti. (My Utmost for His Highest, 28 Februari 2010)