Rabu, 07 Juli 2010

7 Jul ’10 – Semua Hal Yang Mulia Adalah Sukar

JALAN kehidupan kristen, memang sukar tapi mulia – melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak. Namun Renungan hari ini menekankan, kesukaran yang dihadapi jangan membuat kita tawar hati. Allah akan menolong kita dengan mengerjakan di dalam kita baik ”kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya”. Asalkan kita mengambil bagian kita “mengerjakan” keselamatan itu – menerapkannya - dalam kehidupan kita sehari-hari.

SEMUA HAL YANG MULIA ADALAH SUKAR
 Masuklah melalui pintu yang sempit ... karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan” (Matius 7: 13-14).
JIKA kita mau hidup sebagai murid Yesus, kita harus ingat hahwa semua hal yang mulia – yang layak dan sangat baik - adalah sukar. Kehidupan kristen itu sukar tetapi mulia, namun kesukaran yang dihadapi tidak membuat kita tawar hati dan jatuh. Justru sebaliknya, hal itu mendorong kita untuk menang.
Apakah kita sungguh menghargai keselamatan ajaib dari Yesus Kristus dan kita tunjukkan dalam pengabdian kita bagi kemuliaan-Nya – yang paling baik dari kita untuk memuliaan-Nya?
Allah menyelamatkan manusia oleh anugerah-Nya yang berkuasa melalui penebusan oleh Yesus dan “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13). Akan tetapi, kita harus “mengerjakan” keselamatan itu dalam kehidupan kita sehari-hari (Filipi 2:12).
Jika saja kita mau memulai dengan landasan penebusan-Nya untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya, maka kita akan mendapati bahwa kita dapat melakukannya. Jika kita gagal, maka penyebabnya ialah kita belum menerapkan hal yang Tuhan tempatkan di dalam diri kita. Datangnya krisis akan mengungkapkan apakah kita sudah menerapkannya atau tidak.
Jika kita mau mematuhi Roh Allah dan mempraktekkan dalam hidup jasmani kita hal yang telah ditaruhkan Allah di dalam kita oleh Roh-Nya, maka ketika krisis datang kita akan mendapati bahwa sifat (nature) kita demikian juga anugerah Allah siap menghadapinya.
Syukur kepada Allah bahwa Dia memberikan hal-hal yang sulit untuk kita lakukan! Keselamatan-Nya merupakan hal yang menyukakan, tetapi juga merupakan sesuatu yang membutuhkan keberanian, ketabahan dan kesucian. Keselamatan-Nya menguji seluruh kelayakan kita (dalam keberanian, ketabahan dan kesucian tersebut).
Yesus “membawa banyak orang kepada kemuliaan” (Ibrani 2:10), dan Allah takkan meluputkan kita dari tuntutan-tuntutan kepada kita sebagai anak-anakNya. Anugerah Allah menghasilkan kaum pria dan wanita yang memiliki keserupaan dengan Yesus Kristus, bukannya orang-orang yang lemah dan memperturutkan hati.
Dibutuhkan disiplin yang sangat besar untuk menghidupi hidup mulia sebagai seorang murid Yesus dalam kenyataan-kenyataan hidup. Dan kita selalu perlu untuk berupaya menghidupi hidup yang mulia. (My Utmost for His Highest, 7 Juli)

Selasa, 06 Juli 2010

6 Jul ’10 –Penglihatan Menjadi Kenyataan

RENUNGAN hari ini tentang satu hal yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya: visi atau penglihatan tentang menjadi apa kita di dunia ini yang diinginkan oleh Allah.
Lalu mengapa walau menyadari bahwa penglihatan itu sebagai suatu yang riel, tetapi belum nyata di dalam kita?
Mengapa dalam prosesnya Allah harus terlebih dahulu membawa kita ke dalam lembah, melalui api dan banjir? Apa yang menjadi kepastian kita? Selanjutnya dibawah ini:


PENGLIHATAN MENJADI KENYATAAN
Tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam” (Yesaya 35:7).
KITA selalu mempunyai visi atau penglihatan tentang sesuatu sebelum hal itu menjadi kenyataan bagi kita. Bila kita menyadari bahwa penglihatan itu sebagai suatu yang riel, tetapi belum nyata di dalam kita, iblis mulai datang dengan godaan-godaannya dan kita condong berkata bahwa tidak ada gunanya untuk berusaha melangkah terus. Lalu, bukannya penglihatan itu menjadi nyata bagi kita, kita malah telah masuk kedalam suatu lembah kehinaan.

Hidup bukanlah bekas galian tambang terlantar
Tetapi besi yang digali dari perut kegelapan bumi
Dan dihentak oleh berbagai petaka
Untuk dapat dibentuk dan digunakan
Allah memberikan kepada kita suatu penglihatan, dan kemudian Dia mengantar kita ke lembah untuk membentuk kita sesuai dengan penglihatan itu. Di lembah itulah banyak di antara kita yang menyerah kalah dan tawar hati.
Setiap penglihatan yang diberikan Allah akan menjadi nyata asalkan kita mau bersabar. Pikirkanlah betapa Allah yang tidak dikungkung waktu itu tidak pernah terburu-buru, sedangkan kita selalu kalut dan terburu-buru.
Selagi masih dalam terang kemuliaan penglihatan itu, kita langsung melakukan berbagai hal, tetapi penglihatan itu belum nyata di dalam kita. Karena Allah harus terlebih dahulu membawa kita ke dalam lembah, melalui api dan banjir untuk membentuk kita, sampai kita mencapai titik dimana Dia dapat mempercayakan kita dengan realitas penglihatan tersebut. Yang pasti, sejak Allah memberi kita penglihatan itu, Dia terus bekerja. Dia membawa kita, membentuk kita menurut sasaran yang telah ditentukan-Nya. Masalahnya sering berkali-kali kita mencoba meloloskan diri dari tangan Pemahat Agung itu dalam suatu upaya untuk membentuk diri kita sesuai kehendak kita sendiri.
Penglihatan yang diberikan Allah kepada kita bukanlah suatu impian tentang “istana di langit yang tidak mungkin dicapai”, tetapi penglihatan tentang menjadi apa kita di dunia ini yang diinginkan oleh Allah. Biarkan sang Penjunan meletakkan Anda pada pelarikan-Nya dan memutar-mutar Anda seturut kehendak-Nya. Kemudian sepasti Allah adalah Allah, dan Anda itu Anda, Anda akan menjadi serupa dengan penglihatan tersebut. Akan tetapi, jangan tawar hati selagi dalam proses pembentukan Allah.
Jika Anda pernah mendapat penglihatan dari Allah, Anda mungkin mencoba menjadi puas pada tingkat yang lebih rendah, tetapi Allah takkan pernah membiarkan hal itu. (My Utmost for His Highest, 6 Juli)

Senin, 05 Juli 2010

5 Jul ’10 - Jangan Membuat Rencana Tanpa Allah

ADA 3 HAL utama yang disampaikan dalam renungan hari ini: (1) Jangan membuat renana tanpa Allah, tapi masukkanlah Dia sebagai faktor penentu. (2) Jangan membuat perencanaan dengan memperhitungkan hal jahat yang dihadapi, karena kasih mengatasi semua hal jahat. (3) Jangan membuat rencana dengan pikiran akan ada ”hari-hari hujan”, karena usaha yang dilakukan bisa dari ketidak percayaan akan Tuhan.

JANGAN MEBUAT RENCANA TANPA ALLAH
Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya dan Ia akan bertindak” (Mazmur 37.5,).
Jangan membuat rencana tanpa Allah. Allah tampaknya mengambil jalan membuyarkan rencana yang telah kita buat, bila tidak melibatkan Dia dalam rencana kita. Ketika kita terjebak sendiri dalam situasi yang tidak dipilih oleh Allah, tiba-tiba kita sadar bahwa kita telah membuat rencana tanpa Dia. Bahwa kita bahkan tidak memasukkan Dia sebagai faktor penting (vital), unsur penentu, dalam perencanaan hidup kita. Satu-satunya hal yang dapat mencegah kita dari kemungkinan rasa cemas ialah memasukkan Allah sebagai faktor penentu/terbesar ke dalam semua rencana kita.
Dalam masalah rohani memang biasa bagi kita untuk menempatkan Allah yang pertama, tetapi kita cenderung berpikir bahwa tidak cocok dan tidak perlu untuk menempatkan Dia pertama dalam urusan hidup kita sehari-hari. Jika kita berpendapat bahwa kita harus memakai “wajah rohani” terlebih dahulu sebelum kita dapat mendekati Allah, maka kita takkan pernah mendekat kepadaNya. Kita harus datang sebagaimana kita ada.
Jangan membuat perencanaan dengan memperhitungkan hal jahat yang dihadapi . Apakah Allah bersungguh-sungguh menuntut kita agar membuat perencanaan tanpa memperhitungkan hal jahat yang ada di sekitar kita? Kasih, seperti dalam 1 Korintus 13:4-5, tidak memikirkan hal-hal jahat seperti cemburu, memegahkan diri, sombong, tidak sopan dan mencari keuntungan diri sendiri, pemarah, menyimpan kesalahan.  Kasih bukannya mengabaikan keberadaan hal jahat, tetapi kasih tidak pernah memperhitungkan hal jahat sebagai unsur penentu dalam perencanaan. Bila kita terpisah dari Allah, kita memperhitungkan hal jahat dengan melakukan semua perencanaan kita dan kita mencoba memperbincangkan semua pekerjaan kita dari sudut pandang hal jahat tersebut.
Jangan membuat rencana dengan pikiran akan ada ”hari-hari hujan” . Anda tidak perlu menimbun barang-barang untuk ”hari-hari hujan” jika Anda benar-benar mempercayai Kristus. Yesus berkata, “Janganlah gelisah hatimu (Yohanes 14:1). Allah tidak akan menjaga hati Anda agar tidak merasa gelisah. Ia itu berupa sebuah perintah - “Janganlah ...” Untuk mematuhi perintah itu, hendaklah Anda terus-menerus bangkit kembali, walaupun Anda jatuh seratus kali sehari, sampai Anda terbiasa menempatkan Allah yang pertama dan membuat perencanaan dengan Dia dalam gerak hidup Anda. (My Utmost for His Highest, 5 Juli)

Minggu, 04 Juli 2010

4 Jul ’10 - Salah Satu Larangan Besar Allah

MUNGKIN tidak banyak disadari bahwa marah, gusar dan khawatir (Ing., fret) sebagai suatu yang jahat, seperti dikatakan oleh Renungan hari ini. Bukan saja hal itu menjadikan kita tidak puas mental dan rohani, tapi mengakibatkan dosa. Renungan ini mengajak kita bukan saja ”Jangan marah”, tapi mempunyai sifat tidak dapat marah dengan menghidupi ”berdiam diri dihadapan Tuhan” – yang tidak tergantung pada situasi yang kita hadapi.
SALAH SATU LARANGAN BESAR ALLAH
Jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan” (Mazmur 37:8).
Marah atau tepatnya gusar, menjadikan diri kita tidak puas secara mental atau rohani. Mengatakan “Jangan marah” adalah satu hal, tetapi mempunyai sifat tidak dapat marah merupakan hal lain yang berbeda.
Memang mudah untuk mengatakan, “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan” dan ” nantikanlah Dia” (Mazmur 37:7), sampai ”dunia kecil” kita terjungkir dan kita terpaksa hidup dalam kebingungan dan penderitaan seperti yang dialami banyak orang. Mungkinkah dalam saat seperti itu untuk “berdiam diri di hadapan Tuhan”?
Jika, “Jangan” ini tidak berlaku dalam hal seperti itu, maka itu takkan berlaku dalam hal lainnya. ”Jangan” ini  harus berlaku pada hari-hari sulit dan dalam ketidakpastian, seperti juga pada hari-hari kedamaian kita, atau itu takkan pernah berlaku dimanapun. Dan jika itu tidak berlaku dalam kasus yang Anda hadapi, maka itu takkan berlaku pada siapa pun lainnya.
Berdiam diri di hadapan Tuhan adalah tidak bergantung pada keadaan atau situasi luar Anda, melainkan pada hubungan Anda dengan Allah.
Kekhawatiran selalu mengakibatkan dosa. Kita cenderung berpikir bahwa sedikit khawatir dan cemas merupakan pertanda betapa bijaksananya kita (memikirkan hidup ini), namun sebenarnya kekhawatiran lebih menunjukkan betapa buruknya kita secara moral.
Kemarahan timbul dari keinginan untuk memaksakan kehendak kita. Yesus tidak pernah cemas atau khawatir, karena tujuan-Nya bukan untuk melaksanakan rencana-Nya sendiri, melainkan untuk menggenapkan rencana Allah. Kemarahan adalah suatu hal yang jahat bagi seorang anak Allah.
Apakah Anda mengiyakan jiwa Anda yang bodoh yang berpendapat bahwa situasi Anda terlalu sulit bagi Allah ? Kesampingkan semua pendapat dan spekulasi Anda dan “tinggallah di bawah naungan Yang Mahakuasa” (Mazmur 91:1, NKJV). Pikirkanlah baik-baik dan katakan kepada Allah bahwa Anda tidak mau marah atau gusar tentang apa pun yang menyangkut diri Anda. Semua kemarahan dan kekhawatiran kita disebabkan oleh karena perencanaan tanpa Allah. (My Utmost for His Highest, 4 Juli) 
*******
Catatan: Kata marah dalam ayat Mazmur 37: 8 diatas diterjemahkan dari kata fret, yang lebih berarti gusar dan khawatir. Kata marah dalam Mazmur 37:7 (Jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya ....), juga dari kata fret." Ada 12 kali kata ini digunakan dalam Alkitab King James Version. (Admin)

Sabtu, 03 Juli 2010

3 Jul ’10 - Pemusatan Dosa Pribadi


SESUNGGUHNYA tidak mudah sunguh-sungguh menyadari bahwa saya seorang berdosa, yang membutuhkan mutlak pengampunan dan keselamatan. Seseorang dengan mudah dapat berkata, “Oh ya, aku tahu aku seorang berdosa.” Tetapi ketika seseorang sungguh-sungguh masuk dalam hadirat Allah, disanalah kita menyadari siapa kita sesungguhnya dihadapan Allah – seperti pengakuan Jesaya.

PEMUSATAN DOSA PRIBADI
 Celakalah aku! Aku binasa; sebab aku, aku ini seorang yang najis bibir :.. ” (Yesaya 6:5).
KETIKA saya memasuki maha hadirat Allah, maka tiba-tiba saya sadar dan fokus perhatian saya tertuju pada pemusatan (konsentrasi) dosa dalam aspek tertentu dalam kehidupan saya, tidak sekedar mengaku sebagai seorang berdosa tapi tanpa merasakan ada sesuatu membebani diri saya.
Seseorang dengan mudah berkata, “Oh ya, aku tahu aku seorang berdosa,” tetapi pada saat dia memasuki hadirat Allah, dia tidak dapat meloloskan diri dengan pernyataan yang tidak jelas semacam itu. Keinsafan kita terfokus pada dosa tertentu, dan seperti Yesaya, kita menyadari siapa kita sesungguhnya dihadapan Allah.
Ini selalu menjadi tanda bahwa seseorang berada di hadirat Allah. Dalam hal ini tidak pernah ada kesan samar-samar akan dosa, melainkan perhatian yang terarah pada pemusatan dosa dalam segi tertentu dalam kehidupan pribadi kita. Allah mulai menginsafkan kita akan suatu dosa tertentu dalam diri kita secara jelas, yang dikerjakan oleh Rohnya dalam hati pikiran kita. Jika kita mau menyerah pada penginsafan-Nya mengenai dosa tertentu tersebut, maka Dia akan membawa kita lebih jauh dimana Dia akan menyingkapkan keberadaan sifat dosa yang luar biasa dan mendasar dalam diri kita. Itulah cara Allah berurusan dengan kita bila kita sadar sepenuhnya akan hadirat-Nya.
Pengalaman tentang perhatian kita yang diarahkan pada pemusatan dosa pribadi ini berlaku dalam kehidupan setiap orang, dan orang kudus terbesar sampai kepada pendosa yang terburuk. Bila seseorang mulai menaiki tangga pengalaman ini, dia mungkin berkata, “Aku tidak tahu di mana aku telah menyimpang,” tetapi Roh Allah akan menunjukkan dengan jelas dan pasti dalam hal mana ia telah berdosa.
Akibat dari penglihatan Yesaya tentang kesucian Tuhan ialah pengarahan perhatiannya kepada fakta bahwa dia “seorang yang najis bibir”. “Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni”. (Yesaya 6:7). Api yang menyucikan harus dikenakan di mana dosa telah dipusatkan. (My Utmost for His Highest, 3 Juli)

Jumat, 02 Juli 2010

2 Jul ’10 - Syarat Menjadi Murid

RENUNGAN hari ini, ”Syarat Menjadi Murid”, mengatakan, menjadi murid berarti pengabdian penuh kesungguhan secara pribadi kepada satu Pribadi - Tuhan Yesus Kristus, bkan pengabdian pada suatu doktrin atau kredo, atau alasan lainnya. Tapi, tidak seorang pun di dunia ini mampu mengabdi, memiliki kasih yang bergelora bagi Tuhan Yesus jika Roh Kudus tidak memberikan kasih itu kepadanya.


SYARAT MENJADI MURID
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya ……, bahkan nyawanya sendiri …. tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,     tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku (Lukas 14:26-27,33).
Jika hubungan terakrab dalam kehidupan seorang murid konflik dengan pernyataan atau claim Yesus Kristus, maka Tuhan menuntut ketaatan saat itu juga kepada diri-Nya. Menjadi murid berarti pengabdian penuh kesungguhan secara pribadi kepada satu Pribadi - Tuhan Yesus Kristus.
Ada perbedaan besar antara pengabdian kepada seseorang dengan pengabdian kepada suatu asas atau alasan tertentu. Tuhan tidak pernah menyatakan suatu alasan atau sebab tertentu - Dia menyatakan pengabdian pribadi kepada diri-Nya sendiri. Menjadi murid berarti mengabdi seperti menjadi hamba yang digerakkkan oleh kasih kepada Tuhan Yesus.
Banyak di antara kita yang mengaku sebagai orang Kristen tetapi tidak sungguh-sungguh mengabdi kepada Yesus Kristus. Tidak seorang pun di dunia ini memiliki kasih yang bergelora bagi Tuhan Yesus jika Roh Kudus tidak memberikan kasih itu kepadanya.
Kita mungkin mengagumi, menghargai dan menghormati-Nya, tetapi kita tidak dapat mengasihi-Nya dengan kekuatan kita sendiri. Pribadi satu-satunya yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus adalah Roh Kudus, dan Dialah yang telah mencurahkan ke dalam hati kita kasih Allah itu (lihat Roma 5:5). Bila Roh Kudus melihat peluang untuk memuliakan Yesus melalui Anda, Dia akan mengambil seluruh diri Anda dan membuat Anda berkobar-kobar dengan pengabdian yang menyala kepada Yesus Kristus.
Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang ditandai oleh kreativitas sejati dan spontan. Akibatnya, seorang murid menjadi orang yang terhadapnya ditujukan tuduhan serupa dengan yang ditujukan terhadap Yesus Kristus, yaitu tuduhan ketidakkonsistenan (inconsintency).
Akan tetapi, Yesus Kristus selalu konsisten dalam hubungan-Nya dengan Allah, dan seorang Kristen harus konsisten dalam hubungan-Nya dengan Allah, dan dalam hubungannya dengan kehidupan Anak Allah di dalam dirinya, bukan konsiten kepada doktrin yang keras, kaku. Orang-orang yang mencurahkan diri mereka ke dalam doktrin atau credo mereka sendiri, oleh Allah akan menghancurkan dan memaksa mereka keluar dari prasangka atau gagasan-gagasan yang telah dibentuk dalam diri mereka (proconceived ideas), sebelum mereka dapat mengabdi kepada Yesus Kristus. (My Utmost for His Highest, 2 Juli)

Kamis, 01 Juli 2010

1 Jul ’10 - Hukuman Yang Tidak Terelakkan

PERNAHKAH bertanya pada diri sendiri mengapa tidak bertumbuh secara rohani? Renungan hari ini mengatakan, pertanyakanlah apakah Anda telah melunasi utang-utang Anda dari sudut pandang Allah – yaitu kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan “sekarang juga”, sesuai dengan tuntunan atau teguran Roh Kudus yang terus mengikuti hidup kita. Kalau tidak, Ia akan ”melakukan sejauh apapun untuk menolong Anda mengambil jalan yang benar”.

HUKUMAN YANG TIDAK TERELAKKAN

Sesungguhnya Engkau tidak akan keluar dan sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas” (Matius 5:26).
TIDAK ada surga yang di dalamnya terdapat sudut neraka. Allah bermaksud untuk menjadikan Anda murni, suci dan benar dan Dia tidak akan membiarkan Anda luput dari pengamatan cermat dari Roh Kudus walaupun hanya sesaat. Dia mendesak Anda untuk mengambil keputusan segera saat Dia menegur Anda, tetapi Anda tidak taat. Lalu proses yang tidak terelakkan mulai berlangsung dengan membawa hukuman yang tidak terelakkan. Kini Anda telah “dilemparkan ke dalam penjara (dan) ... engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas” (Matius 5:25-26). Lalu Anda terkejut dan bertanya, “Apa inikah Allah yang penuh rahmat dan kasih?
Bila dilihat dari perspektif Allah, ini adalah pelayanan kasih yang mulia. Allah berhendak membawa Anda keluar dalam keadaan suci, tidak bercacat dan tidak bercela, tetapi Dia ingin Anda (terlebih dahulu) mengenal sifat (nature) yang Anda yang sesungguhnya dan yang Anda pertunjukkan - sifat yang menuntut hak Anda kepada diri Anda sendiri.
Pada saat Anda bersedia mempersilakan Allah mengubah sifat (nature)Anda, kuasa penciptaan kembali Allah akan mulai bekerja. Dan saat Anda menyadari bahwa maksud Allah ialah agar Anda masuk dalam hubungan yang benar dengan Dia dan (kemudian) dengan orang lain, Dia akan melakukan sejauh apapun untuk menolong Anda mengambil jalan yang benar.
Putuskanlah untuk melakukan itu sekarang dengan berkata, “Ya Tuhan, aku akan mengerjakan apa yang aku harus kerjakan saat ini juga”, Aku menulis surat itu sekarang juga,” atau “Aku akan berdamai dengan orang itu sekarang juga.”
Khotbah-khotbah Yesus Kristus ini ditujukan untuk kehendak/kemauan Anda dan hati nurani Anda, bukan untuk pemikiran Anda. Jika Anda memperdebatkan ayat-ayat dari Khotbah di Bukit ini dengan penalaran Anda, Anda akan menumpulkan seruan yang disampaikan ke dalam hati Anda.
Jika Anda heran atas diri Anda dan mempertanyakan, “Mengapa ya, aku tidak bertumbuh secara rohani dengan Allah?”, maka tanyailah diri Anda apakah Anda telah melunasi utang-utang Anda dari sudut pandang Allah? Lakukanlah sekarang hal yang harus Anda lakukan, lakukanlah itu kapan saja. Setiap pertanyaan atau panggilan moral datang dengan tuntutan “wajib” dibelakangnya pengetahuan tentang mengetahui apa yang wajib kita lakukan. (My Utmost for His Highest, 1 Juli)

* * * *

Note: Menarik, pernyataan bahwa ”Allah akan melakukan sejauh apapun untuk menolong Anda mengambil jalan yang benar”, dalam teks aslinya dinyatakan dalam ungkapan bahasa Inggris Britain yang indah sekali: He (God) will reach to the very limits of the universe to help you take the right road”.