Minggu, 09 Mei 2010

9 Mei ’10 - Meraih Di Luar Jangkauan Kita

BICARA visi umumnya asosiasi kita adalm perusahaan atau institusi besar. Mereka harus ada visi. Tetapi renungan hari ini berbicara tentang visi, yang mutlak bagi setiap orang percaya, bahkan dalam hal-hal yang kecil Tanpa visi Allah, atau mengesampingkannya, maka kita akan sembrono, ngawur. Renungan ini mempertanyakan apakah sikap kita saat ini, mengalir dari visi kita tentang Allah?

MERAIH DI LUAR JANGKAUAN KITA
”Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. ” (Amsal 29:18)
ADA PERBEDAAN antara berpegang pada prinsip dengan mendapat visi. Prinsip tidak timbul dari ilham atau inspirasi moral, sedangkan visi mengandung ilham moral. Orang yang sepenuhnya tenggelam dalam prinsip idealistik jarang berbuat sesuatu. Gagasan seseorang tentang Allah dan atribut (sifat-sifat)-Nya dapat digunakannya untuk membenarkan dan memberi dalih atas kelalaiannya dalam menunaikan kewajibannya. Yunus mencoba berdalih atas ketidak-taatannya dengan berkata, ”aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih serta yang rnenyesal karena malapetaka yang hendak didatangkanNya” (Yunus 4:2).
Saya juga mungkin mempunyai gagasan atau konsepsi yang benar tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, akan tetapi hal itu mungkin menjadi alasan mengapa saya tidak melakukan kewajiban saya. Akan tetapi, di mana ada visi, terdapat juga kehidupan yang jujur dan integritas, karena visi yang berimpartasi memberi saya dorongan moral.
Prinsip idealistik kita dapat membuat kita lengah, terlena, yang membawa pada kehancuran. Periksalah kerohanian Anda, apakah Anda hanya mempunyai ideal atau apakah Anda mempunyai visi.
          Oh, bukankah apa yang dicapai seseorang harus melebihi jangkauannya. Atau, untuk apa surga?

”Bila tidak ada wahyu .... ”. Yang dimaksud wahyu dalam ayat ini adalah visi nabiah. Sekali kita mengalihkan pandangan dari Allah, kita akan mulai sembrono. Kita menyingkirkan penghambat tertentu dari kegiatan yang kita tahu salah. Kita juga mengesampingkan doa dan mengesampingkan mempunyai visi Allah dalam hal-hal kecil dalam hidup kita. Dan kita mulai bertindak sesuai kehendak kita sendiri.
Jika kita hanya berusaha sendiri dan melakukan segala sesuatu hanya berdasar prakarsa kita sendiri tanpa mengharapkan campur tangan Allah, maka kita sedang berada pada jalan yang menurun kebawah. Kita telah kehilangan visi.
Apakah sikap kita saat ini, dewasa ini, merupakan sikap yang mengalir dari visi kita tentang Allah? Apakah kita berharap Allah akan melakukan hal-hal yang lebih besar ketimbang yang telah dilakukan-Nya sebelumnya? Adakah suatu kesegaran dan vitalitas dalam cakrawala spiritual kita? (My Utmost for His Highest, 9 Mei 2010)

Sabtu, 08 Mei 2010

8 Mei ’10- Iman Untuk Bertekun

RENUNGAN hari ini ”Iman Untuk Bertekun” menekankan iman sebagai ”keyakinan yang kuat dan penuh semangat yang dibangun berdasarkan kenyataan bahwa Allah itu kasih yang suci, yang walaupun kita tidak dapat melihat-Nya sekarang dan tidak dapat memahami hal yang sedang dilakukan-Nya, tetapi kita mengenal-Nya. Dan, mengenal Allah, adalah hidup kekal: hidup yang mampu menghadapi apa pun yang harus dihadapi tanpa bimbang. Selanjutnya dibawah ini:

IMAN UNTUK BERTEKUN

“Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun ……” (Wahyu 3:10)
Ketekunan berarti lebih daripada daya tahan – lebih dari sekedar bertahan sampai akhir. Hidup seorang percaya ada di tangan Allah, seperti busur dan anak panah di tangan seorang pemanah. Allah mengarahkannya ke sasaran tertentu yang tidak dapat dilihat oleh orang tersebut, tapi Ia terus rnerentangkan dan menegangkan, dan sebentar-sebentar orang percaya itu mengeluh, “Aku tidak sanggup lagi menanggungnya”. Namun Allah tidak mengindahkannya. Dia terus merentangkannya sampai sasaran-Nya terlihat, lalu dilepaskan-Nya anak panah itu.
Percayakan diri Anda di tangan Allah. Adakah sesuatu dalam hidup Anda untuk mana Anda membutuhkan ketekunan sekarang? Pertahankan hubungan yang akrab dengan Yesus Kristus melalui ketekunan iman. Berserulah seperti Ayub, “Jika Allah hendak membunuhku, aku berserah saja” (Ayub 13:15, LAI-BIS).
Iman bukanlah perasaan tak berdaya, lemah dan iba diri, melainkan keyakinan yang kuat dan penuh semangat yang dibangun berdasarkan kenyataan bahwa Allah itu kasih yang suci. Dan walaupun Anda tidak dapat melihat-Nya sekarang dan tidak dapat memahami hal yang sedang dilakukan-Nya, tetapi Anda mengenal-Nya.
Bencana akan terjadi dalam hidup Anda bila Anda tidak memiliki ketenangan mental yang tumbuh dari ketetapan hati atas kebenaran kekal bahwa Allah itu kasih yang suci. Iman adalah menyerahkan diri dengan penuh keyakinan kepada Allah.
Allah memberikan semua milik-Nya dalam Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita, dan sekarang Dia ingin kita memberikan semua yang kita miliki dengan yakin sepenuhnya kepadaNya. Ada segi-segi dalam hidup kita dimana iman belum bekerja dalam kita – tempat-tempat yang belum disentuh oleh kehidupan Allah.
Dalam kehidupan Yesus Kristus tidak ada tempat seperti itu, dan seharusnya demikian juga dalam hidup kita. Yesus berdoa, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau... ” (Yohanes 17:3).
Arti sesungguhnya dari hidup kekal ialah hidup yang mampu menghadapi apa pun yang harus dihadapi tanpa bimbang. Jika kita mau menerima pandangan ini, hidup kita akan menjadi suatu yang penuh kegembiraan setiap waktu. Allah mendisiplin kita untuk mengantar kita memasuki pusat kuasa hidup ini. (My Utmost for His Highest, 8 Mei 2010)

Jumat, 07 Mei 2010

7 Mei ‘10 - Membangun Untuk Kekekalan

RENUNGAN hari ini ”Membangun Untuk Kekekalan”. Itulah tugas menjadi murid Tuhan. Dikatakan, bahwa, orang yang akan dipakai Tuhan dalam pekerjaan besar ini adalah orang yang baginya Tuhan telah melakukan segalanya. Dengan menyadari hal inilah ia mengasihi Dia dengan pengabdian besar - syarat untuk dipakai-Nya. Namun diingatkan, sesungguhnya kita tidak pernah dapat bekerja bagi Allah ...... dan tidak seorangpun berhak menuntut di mana akan ditempatkan-Nya.

MEMBANGUN UNTUK KEKEKALAN
”Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” (Lukas 14:28)
Dalam ayat ini Yesus tidak menunjuk pada harga yang harus kita bayar, melainkan pada harga yang telah dibayarkan-Nya. Harga tersebut adalah tiga puluh tahun di Nazaret, tiga tahun dengan popularitas, skandal, dan kebencian, penderitaan batin yang tidak terselami yang dialami-Nya di Getsemani, dan dera tubuh, jiwa dan roh yang hebat yang ditimpakan kepada-Nya di Golgota - titik pusat dimana seluruh waktu dan kekekalan berputar.
Yesus Kristus telah membayar harganya. Jadi, pada akhirnya orang takkan menertawakan Dia dengan berkata, “Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya” (Lukas 14:30).
Persyaratan menjadi murid yang dinyatakan Tuhan dalam Lukas 14:26, 27 dan 33, menunjukkan bahwa orang yang akan dipakai-Nya dalam pekerjaan pembangunan-Nya adalah orang-orang yang bagi mereka Ia telah melakukan segalanya.
“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:26). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang akan dipakai Tuhan dalam pekerjaan pembangunan-Nya yang agung hanyalah mereka yang mengasihi Dia secara pribadi, dengan penuh semangat dan dengan pengabdian besar – mereka yang mempunyai kasih pada-Nya jauh melampaui hubungan paling dekat apapun di bumi. Persyaratannya memang keras, tetapi mulia.


Semua yang kita bangun akan diperiksa dan diuji Allah. Bila Allah memeriksa kita dengan api-Nya yang menyelidiki dan memurnikan, apakah Dia akan menemukan bahwa kita telah membangun pekerjaan kita di atas landasan Yesus? (lihat 1 Korintus 3:10-15).
Kita sekarang ini hidup dalam masa ingin serba luar biasa, termasuk dalam hal ketika kita ingin bekerja untuk Allah, dan di situlah jebakannya.
Sesungguhnya dapatlah dikatakan, bahwa kita tidak pernah dapat bekerja bagi Allah. Yesus, sebagai Perencana dan Pembangun Agung, Dia-lah yang menempatkan kita sehingga Dia dapat mengarahkan dan mengendalikan sepenuhnya untuk pekerjaan besar dan rencana pembangunan-Nya; dan tidak seorangpun berhak menuntut di mana akan ditempatkan-Nya. (My Utmost for His Highest, 7 Mei 2010)

Kamis, 06 Mei 2010

6 Mei ’10 - Kemerdekaan dan Tolak Ukur Yesus

SERING kita tidak sabar dengan orang lain. Kita memaksakan pandangan kita. Menyalahkan mereka bila pandangannya tidak sama dengan pandangan kita. Renungan hari ini mengingatkan agar memperlakukan orang lain seperti Allah memperlakukan kita: penuh kesabaran dan kelemah-lembutan. Lebih baik kita memberi ruang bagi kebenaran Allah dinyatakan dalam hati nurani orang tersebut, yang menyanggupkannya melakukan hal yang benar.

KEMERDEKAAN DAN TOLAK UKUR YESUS
“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekaan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Galatia 5:1).
SESEORANG yang berpikiran rohani takkan pernah datang kepada Anda dengan tuntutan “Percayalah ini dan itu”: tetapi ia akan menuntut Anda untuk menyesuaikan hidup Anda dengan tolok ukur dari Yesus. Kita tidak diminta untuk mempercayai Alkitab, melainkan untuk mempercayai Dia yang dinyatakan oleh Alkitab (lihat Yohanes 5:39-40).
Kita dipanggil untuk menyatakan kemerdekaan hati nurani, bukan kemerdekaan bagi pandangan atau pikiran-pendapat. Dan jika kita sendiri bebas dalam kemerdekaan dari Kristus, maka orang lain juga akan memperoleh kemerdekaan yang sama, yaitu kemerdekaan yang berasal dari kesadaran akan pengendalian dan kuasa mutlak Yesus Kristus.
Ukurlah selalu hidup Anda hanya dengan tolok ukur Yesus. Kenakanlah kuk yang dari Kristus dan hanya itu; dan berhati-hatilah selalu agar jangan memasang kuk yang bukan kuk Kristus kepada orang lain. Allah membutuhkan waktu yang lama untuk membuat kita berhenti berpikir bahwa jika pandangan orang lain tidak sama seperti pandangan kita, maka mereka pasti salah. Allah tidak pernah berpandangan demikian. Hanya ada satu kemerdekaan sejati, yaitu kemerdekaan dari Yesus yang bekerja dalam hati nurani kita, yang menyanggupkan kita untuk melakukan hal yang benar.
Jangan kehilangan kesabaran terhadap orang lain. Ingatlah cara Allah memperlakukan Anda yang penuh dengan kesabaran dan kelemah-lembutan. Akan tetapi, jangan sekalikali mengurangi standar kebenaran Allah. Biarkan kebenaran Allah dinyatakan. Yesus bersabda, “Pergilah... jadikanlah murid-Ku... ”(Matius 28:19), bukan, ”Jadikanlah penganut pikiran dan pendapatmu sendiri”. (My Utmost for His Highest, 6 Mei 2010)

Rabu, 05 Mei 2010

5 Mei ’10 - Penghakiman dan Kasih Allah

RENUNGAN hari ini menekankan bahwa ujian terpenting dalam pemberitaan Firman: apakah hal itu akan membawa orang kepada penghakiman - berhadapan muka dengan muka dengan Allah sendiri. Kedua, bahwa kebersandaran pada diri sendiri harus mati, karena saat mengenali kelemahan dan ketergantungan kita kepada-Nyalah maka Roh Allah akan menyatakan kuasa-Nya. Selanjutnya dibawah ini:

PENGHAKIMAN DAN KASIH ALLAH
“Telah tiba saatnya penghakiman dimulai dari rumah Allah... ” (1 Petrus 4.17).
Pelayan Kristen sekali-kali tidak boleh lupa bahwa keselamatan itu gagasan Allah, bukan gagasan manusia. Karena itu, keselamatan mempunyai kedalaman yang tidak terselami. Keselamatan adalah gagasan besar Allah, bukan suatu pengalaman. Pengalaman hanyalah pintu melalui mana keselamatan masuk ke tingkat kesadaran hidup kita, sehingga kita menyadari hal yang telah terjadi pada tingkat yang jauh lebih dalam.
Jangan sekalikali mengkhotbahkan pengalaman - khotbahkanlah keakbaran gagasan Allah di balik pengalaman. Bila kita berkhotbah, kita bukan hanya semata-mata menyatakan bagaimana manusia dapat diselamatkan dari neraka dan dijadikan bermoral dan suci, tetapi kita menyampaikan kabar baik tentang Allah.
Dalam ajaran Yesus Kristus unsur penghakiman selalu ditampilkan, dan itulah adalah tanda dan kasih Allah.
Jangan sekalikali bersimpati terhadap seseorang yang mengalami kesulitan untuk mendekati Allah. Bukanlah bagian kita untuk memikirkan alasan kesulitan itu. Bagian kita hanyalah menyatakan kebenaran Allah agar Roh Allah menyingkapkan apa yang salah.
Ujian terpenting dari mutu pemberitaan kita ialah apakah hal itu akan membawa setiap orang kepada penghakiman atau tidak. Bila kebenaran diberitakan, Roh Allah akan membawa setiap orang berhadapan muka dengan muka dengan Allah sendiri.
Jika Yesus pernah memerintahkan kita melakukan sesuatu yang Dia sendiri tidak sanggup melengkapi kita untuk melaksanakannya, Dia seorang pendusta. Dan jika kita membuat ketidak-sanggupan kita menjadi batu sandungan atau dalih untuk tidak taat, maka itu berarti kita memberitahukan Allah bahwa ada sesuatu yang belum diperhitungkan-Nya.
Setiap unsur kebersandaran pada diri sendiri harus dimatikan oleh kuasa Allah. Saat kita mengenali kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada-Nya, sungguh merupakan saat dimana Roh Allah akan menyatakan kuasa-Nya. (My Utmost for His Highest, 5 Mei 2010)

Selasa, 04 Mei 2010

4 Mei ‘10 - Doa Syafaat Bagi Orang Lain

MASIH lanjutan renungan kemarin, dengan penekanan pada rintangan utama doa syafaat, yaitu kekebalan rohani. Doa yang kita naikkan untuk orang lain adalah berdasarkan pemikiran atau pendapat kita – dan itu kita paksakan pada Tuhan. Bukan berdasarkan pikiran dan perhatian Allah tentang yang bersangkutan, pikiran yang hanya dapat kita ”lihat” dalam kesatuan hubungan dengan Dia. Selanjutnya dibawah ini:



DOA SYAFAAT BAGI ORANG LAIN
”kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus ” (Ibrani 10:19)
Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa syafaat berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah, dan kemudian menuntut Dia agar melakukan seperti apa yang kita minta.
Kita diperkenan mendekati Allah bergantung sepenuhnya pada pengorbanan Tuhan sebagai pengganti dalam penebusan dosa. “Kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus. ”
Kebebalan rohani adalah rintangan yang paling berpengaruh terhadap doa syafaat, karena kita mendasarkan kebutuhan penebusan Kristus atas penilaian kita berdasarkan “rasa” simpati akan hal-hal yang kita lihat pada diri kita dan pada orang lain. Kita mempunyai “keyakinan” bahwa ada beberapa hal-hal yang benar dan kebaikan di dalam diri kita yang tidak perlu didasarkan pada Penebusan salib Kristus.
Pemikiran semacam itu menghasilkan kelambanan rohani dan kurang perhatian yang membuat kita merasa tidak membutuhkan menaikkan doa syafaat. Hal ini juga menyebabkan kita tidak mempersatukan diri (identify ourself) dengan perhatian dan keperdulian Allah bagi orang lain, dan kita menggerutu terhadap Tuhan. Juga kita selalu mengedepankan pendapat kita sendiri, dan (kalaupun kita menaikkan) doa syafaat kita hanya menjadi pemuliaan atau pemujaan simpati lahiriah kita sendiri.
Kita harus menyadari bahwa penebusan Kristus atas dosa-dosa berarti suatu perubahan radikal pada semua rasa simpati dan perhatian kita. Berdoa syafaat bagi orang lain berarti dengan penuh kesadaran kita mengganti simpati lahiriah kita terhadap orang lain dengan perhatian Tuhan terhadap mereka.
Apakah saya berkeras pada pandangan saya atau saya mau diubahkan? Apakah saya membuang-buang waktu atau mau sempurna dalam hubungan saya dengan Allah? Apakah saya menggerutu pada Tuhan atau tunduk dan hormat roh dan jiwa saya? Apakah saya selalu memaksakan cara atau jalan saya atau bertekad untuk diubahkan menuju kesatuan dan keserupaan dengan Dia? (My Utmost for His Highest, 4 Mei 2010)

Senin, 03 Mei 2010

3 Mei ’10 – Doa Syafaat Yang Hidup

MUNGKIN “mudah” berdoa syafaat didepan orang lain. Tapi tidak ketika sendiri. Renungan ”Doa Syafaat Yang Hidup” hari ini menekankan bahwa kunci doa syafaat adalah kesatuan dengan perhatian dan keperdulian Allah, dimana oleh-Nya kita diberi ketajaman melihat kehidupan orang lain, panggilan berdoa safaat bagi mereka – suatu pengalaman yang luar biasa. Rintangannya? Selanjutnya dibawah ini:


DOA SYAFAAT YANG HIDUP

”Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan .... dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang .... ”(Efesus 6:18)
Pada saat kita terus dalam doa syafaat kita untuk orang lain, kita mungkin menemukan bahwa ketaatan kita kepada Allah dalam berdoa syafaat akan merugikan mereka untuk siapa kita berdoa – suatu hal yang tidak kita sadari atau pernah pikirkan.

Bahayanya disini adalah bahwa kita mulai berdoa syafaat dalam bersimpati dengan orang yang oleh Allah diangkat secara bertahap diangkat ke tingkat yang secara total berbeda dengan doa yang kita naikkan.

Setiap kali kita melangkah mundur dari kesatuan dengan perhatian dan keperdulian Allah untuk orang lain dan masuk kedalam simpati emosional terhadap mereka, maka hubungan yang hidup dengan Allah akan hilang.
 Kita kemudian menempatkan simpati kita dan kepedulian bagi mereka didepan. Dan hal ini (menjadikan hal lain yang utama) menjadi penghalang dan sama dengan mengatakan Tuhan salah menjawab doa kita.

Adalah tidak mungkin bagi kita untuk memiliki hidup dan doa syafaat yang baik kecuali kita sungguh-sungguh dan benar-benar yakin akan Allah. Dan yang merongrong hubungan dengan Tuhan yang didasari keyakinan tersebut, adalah simpati pribadi dan prasangka yang sudah terbentuk sebelumnya.

Identifikasi atau kesatuan dengan (perhatian dan keperdulian) Allah adalah kunci untuk doa syafaat, dan setiap kali kita berhenti menyatu dengan-Nya, adalah karena mengedepannya dorongan simpati kita dengan orang tersebut dan oleh bukan dosa. Tampaknya bukan dosa yang akan menjadi penghalang dalam hubungan permohonan doa safaat kita dengan Allah, tetapi simpati. Adalah simpati dengan diri kita sendiri atau dengan orang lain yang membuat kita berkata, "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Dan dengan seketika kita keluar dari hubungan yang hidup dengan Allah.

Doa syafaat yang hidup akan meluputkan Anda baik dari masalah waktu maupun kecenderungan berdoa mengiba untuk diri sendiri Anda. Anda tidak harus berjuang untuk menjaga pikiran Anda jauh melayang-layang kesana kemari karena tidak ada yang mengalihkan pikiran Anda disana. Anda benar-benar dan sepenuhnya dipersatukan dengan maksud dan kehendak serta keprihatinan Allah dalam kehidupan orang lain (yang Anda doakan).
Allah memberi kita ketajaman melihat kehidupan orang lain untuk memanggil kita untuk berdoa syafaat bagi mereka, suatu pengalaman yang belum pernah sebelumnya, dalam mana membuat bahkan kita tidak menemukan kesalahan mereka. (My Utmost for His Highest, 3 Mei 2010)