Tampilkan postingan dengan label ketergantungan mutlak pada Yesus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketergantungan mutlak pada Yesus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

5 Mei ’10 - Penghakiman dan Kasih Allah

RENUNGAN hari ini menekankan bahwa ujian terpenting dalam pemberitaan Firman: apakah hal itu akan membawa orang kepada penghakiman - berhadapan muka dengan muka dengan Allah sendiri. Kedua, bahwa kebersandaran pada diri sendiri harus mati, karena saat mengenali kelemahan dan ketergantungan kita kepada-Nyalah maka Roh Allah akan menyatakan kuasa-Nya. Selanjutnya dibawah ini:

PENGHAKIMAN DAN KASIH ALLAH
Telah tiba saatnya penghakiman dimulai dari rumah Allah... ” (1 Petrus 4.17).
Pelayan Kristen sekali-kali tidak boleh lupa bahwa keselamatan itu gagasan Allah, bukan gagasan manusia. Karena itu, keselamatan mempunyai kedalaman yang tidak terselami. Keselamatan adalah gagasan besar Allah, bukan suatu pengalaman. Pengalaman hanyalah pintu melalui mana keselamatan masuk ke tingkat kesadaran hidup kita, sehingga kita menyadari hal yang telah terjadi pada tingkat yang jauh lebih dalam.
Jangan sekalikali mengkhotbahkan pengalaman - khotbahkanlah keakbaran gagasan Allah di balik pengalaman. Bila kita berkhotbah, kita bukan hanya semata-mata menyatakan bagaimana manusia dapat diselamatkan dari neraka dan dijadikan bermoral dan suci, tetapi kita menyampaikan kabar baik tentang Allah.
Dalam ajaran Yesus Kristus unsur penghakiman selalu ditampilkan, dan itulah adalah tanda dan kasih Allah.
Jangan sekalikali bersimpati terhadap seseorang yang mengalami kesulitan untuk mendekati Allah. Bukanlah bagian kita untuk memikirkan alasan kesulitan itu. Bagian kita hanyalah menyatakan kebenaran Allah agar Roh Allah menyingkapkan apa yang salah.
Ujian terpenting dari mutu pemberitaan kita ialah apakah hal itu akan membawa setiap orang kepada penghakiman atau tidak. Bila kebenaran diberitakan, Roh Allah akan membawa setiap orang berhadapan muka dengan muka dengan Allah sendiri.
Jika Yesus pernah memerintahkan kita melakukan sesuatu yang Dia sendiri tidak sanggup melengkapi kita untuk melaksanakannya, Dia seorang pendusta. Dan jika kita membuat ketidak-sanggupan kita menjadi batu sandungan atau dalih untuk tidak taat, maka itu berarti kita memberitahukan Allah bahwa ada sesuatu yang belum diperhitungkan-Nya.
Setiap unsur kebersandaran pada diri sendiri harus dimatikan oleh kuasa Allah. Saat kita mengenali kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada-Nya, sungguh merupakan saat dimana Roh Allah akan menyatakan kuasa-Nya. (My Utmost for His Highest, 5 Mei 2010)

Selasa, 09 Maret 2010

BERBALIK ATAU BERJALAN BERSAMA YESUS?


RENUNGAN hari ini mengatakan, banyak orang masa kini mencurahkan hidup mereka dan bekerja untuk Yesus Kristus, tetapi mereka sebenarnya tidak sungguh-sungguh berjalan ikut Dia, karena tidak mau risiko. Tetapi masing-masing harus menjawab pertanyaan Yesus bagi diri kita sendiri bukan bagi orang lain: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Selanjutnya dibawah ini:
Berbalik Atau Berjalan Bersama Yesus?
Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yohanes 6:67).
Alangkah tajamnya pertanyaan itu! Kata-kata Tuhan kita sering menerpa kita ketika Dia berbicara dengan cara yang paling sederhana. Walaupun kita tahu siapa Yesus itu, Dia bertanya, Apakah kamu tidak mau pergi juga? Kita harus terus-menerus mempertahankan suatu sikap berani ambil risiko terhadap Tuhan, apa pun kemungkinan bahaya yang menantikan kita secara pribadi.
“Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (Yohanes 6:66). Mereka berbalik dari berjalan bersama Yesus; bukan berjalan ke dalam dosa, melainkan berjalan menjauhi Dia.
Banyak orang masa kini mencurahkan hidup mereka dan bekerja untuk Yesus Kristus, tetapi mereka sebenarnya tidak sungguh-sungguh berjalan dengan Dia. Satu hal yang selalu dituntut Allah dan kita adalah kesatuan dengan Yesus Kristus. Setelah dipisahkan melalui pengudusan, kita harus mendisiplin hidup rohani kita untuk mempertahankan kesatuan yang erat ini.
Bila Allah memberi Anda suatu ketetapan hati yang jelas mengenai kehendak-Nya, semua usaha keras Anda untuk mempertahankan hubungan itu dengan cara tertentu tidak perlu sama sekali. Yang dibutuhkan hanyalah menjalani hidup dengan ketergantungan mutlak pada Yesus Kristus. Jangan sekali-kali berusaha menjalani kehidupan Anda bersama Allah dengan cara yang lain dari cara-Nya. Dan cara-Nya berarti pengabdian mutlak kepada-Nya. Rahasia untuk berjalan bersama Yesus adalah tidak mempedulikan ketidak-pastian yang ada dihadapan Anda.
Petrus melihat Yesus hanya sebagai Seorang yang dapat memberikan keselamatan kepadanya dan kepada dunia. Akan tetapi, Tuhan menghendaki kita menjadi kawan sekerja untuk Dia.
Dalam Yohanes 6:70, Yesus dengan kasih mengingatkan Petrus bahwa dia dipilih untuk pergi bersama Dia. Dan kita masing-masing harus menjawab pertanyaan ini bagi diri kita sendiri bukan bagi orang lain: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (My Utmost for His Highest, 9 Maret 2010)