Jumat, 07 Mei 2010

7 Mei ‘10 - Membangun Untuk Kekekalan

RENUNGAN hari ini ”Membangun Untuk Kekekalan”. Itulah tugas menjadi murid Tuhan. Dikatakan, bahwa, orang yang akan dipakai Tuhan dalam pekerjaan besar ini adalah orang yang baginya Tuhan telah melakukan segalanya. Dengan menyadari hal inilah ia mengasihi Dia dengan pengabdian besar - syarat untuk dipakai-Nya. Namun diingatkan, sesungguhnya kita tidak pernah dapat bekerja bagi Allah ...... dan tidak seorangpun berhak menuntut di mana akan ditempatkan-Nya.

MEMBANGUN UNTUK KEKEKALAN
Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” (Lukas 14:28)
Dalam ayat ini Yesus tidak menunjuk pada harga yang harus kita bayar, melainkan pada harga yang telah dibayarkan-Nya. Harga tersebut adalah tiga puluh tahun di Nazaret, tiga tahun dengan popularitas, skandal, dan kebencian, penderitaan batin yang tidak terselami yang dialami-Nya di Getsemani, dan dera tubuh, jiwa dan roh yang hebat yang ditimpakan kepada-Nya di Golgota - titik pusat dimana seluruh waktu dan kekekalan berputar.
Yesus Kristus telah membayar harganya. Jadi, pada akhirnya orang takkan menertawakan Dia dengan berkata, “Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya” (Lukas 14:30).
Persyaratan menjadi murid yang dinyatakan Tuhan dalam Lukas 14:26, 27 dan 33, menunjukkan bahwa orang yang akan dipakai-Nya dalam pekerjaan pembangunan-Nya adalah orang-orang yang bagi mereka Ia telah melakukan segalanya.
Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:26). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang akan dipakai Tuhan dalam pekerjaan pembangunan-Nya yang agung hanyalah mereka yang mengasihi Dia secara pribadi, dengan penuh semangat dan dengan pengabdian besar – mereka yang mempunyai kasih pada-Nya jauh melampaui hubungan paling dekat apapun di bumi. Persyaratannya memang keras, tetapi mulia.


Semua yang kita bangun akan diperiksa dan diuji Allah. Bila Allah memeriksa kita dengan api-Nya yang menyelidiki dan memurnikan, apakah Dia akan menemukan bahwa kita telah membangun pekerjaan kita di atas landasan Yesus? (lihat 1 Korintus 3:10-15).
Kita sekarang ini hidup dalam masa ingin serba luar biasa, termasuk dalam hal ketika kita ingin bekerja untuk Allah, dan di situlah jebakannya.
Sesungguhnya dapatlah dikatakan, bahwa kita tidak pernah dapat bekerja bagi Allah. Yesus, sebagai Perencana dan Pembangun Agung, Dia-lah yang menempatkan kita sehingga Dia dapat mengarahkan dan mengendalikan sepenuhnya untuk pekerjaan besar dan rencana pembangunan-Nya; dan tidak seorangpun berhak menuntut di mana akan ditempatkan-Nya. (My Utmost for His Highest, 7 Mei 2010)

Kamis, 06 Mei 2010

6 Mei ’10 - Kemerdekaan dan Tolak Ukur Yesus

SERING kita tidak sabar dengan orang lain. Kita memaksakan pandangan kita. Menyalahkan mereka bila pandangannya tidak sama dengan pandangan kita. Renungan hari ini mengingatkan agar memperlakukan orang lain seperti Allah memperlakukan kita: penuh kesabaran dan kelemah-lembutan. Lebih baik kita memberi ruang bagi kebenaran Allah dinyatakan dalam hati nurani orang tersebut, yang menyanggupkannya melakukan hal yang benar.

KEMERDEKAAN DAN TOLAK UKUR YESUS
Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekaan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Galatia 5:1).
SESEORANG yang berpikiran rohani takkan pernah datang kepada Anda dengan tuntutan “Percayalah ini dan itu”: tetapi ia akan menuntut Anda untuk menyesuaikan hidup Anda dengan tolok ukur dari Yesus. Kita tidak diminta untuk mempercayai Alkitab, melainkan untuk mempercayai Dia yang dinyatakan oleh Alkitab (lihat Yohanes 5:39-40).
Kita dipanggil untuk menyatakan kemerdekaan hati nurani, bukan kemerdekaan bagi pandangan atau pikiran-pendapat. Dan jika kita sendiri bebas dalam kemerdekaan dari Kristus, maka orang lain juga akan memperoleh kemerdekaan yang sama, yaitu kemerdekaan yang berasal dari kesadaran akan pengendalian dan kuasa mutlak Yesus Kristus.
Ukurlah selalu hidup Anda hanya dengan tolok ukur Yesus. Kenakanlah kuk yang dari Kristus dan hanya itu; dan berhati-hatilah selalu agar jangan memasang kuk yang bukan kuk Kristus kepada orang lain. Allah membutuhkan waktu yang lama untuk membuat kita berhenti berpikir bahwa jika pandangan orang lain tidak sama seperti pandangan kita, maka mereka pasti salah. Allah tidak pernah berpandangan demikian. Hanya ada satu kemerdekaan sejati, yaitu kemerdekaan dari Yesus yang bekerja dalam hati nurani kita, yang menyanggupkan kita untuk melakukan hal yang benar.
Jangan kehilangan kesabaran terhadap orang lain. Ingatlah cara Allah memperlakukan Anda yang penuh dengan kesabaran dan kelemah-lembutan. Akan tetapi, jangan sekalikali mengurangi standar kebenaran Allah. Biarkan kebenaran Allah dinyatakan. Yesus bersabda, “Pergilah... jadikanlah murid-Ku... ”(Matius 28:19), bukan, ”Jadikanlah penganut pikiran dan pendapatmu sendiri”. (My Utmost for His Highest, 6 Mei 2010)

Rabu, 05 Mei 2010

5 Mei ’10 - Penghakiman dan Kasih Allah

RENUNGAN hari ini menekankan bahwa ujian terpenting dalam pemberitaan Firman: apakah hal itu akan membawa orang kepada penghakiman - berhadapan muka dengan muka dengan Allah sendiri. Kedua, bahwa kebersandaran pada diri sendiri harus mati, karena saat mengenali kelemahan dan ketergantungan kita kepada-Nyalah maka Roh Allah akan menyatakan kuasa-Nya. Selanjutnya dibawah ini:

PENGHAKIMAN DAN KASIH ALLAH
Telah tiba saatnya penghakiman dimulai dari rumah Allah... ” (1 Petrus 4.17).
Pelayan Kristen sekali-kali tidak boleh lupa bahwa keselamatan itu gagasan Allah, bukan gagasan manusia. Karena itu, keselamatan mempunyai kedalaman yang tidak terselami. Keselamatan adalah gagasan besar Allah, bukan suatu pengalaman. Pengalaman hanyalah pintu melalui mana keselamatan masuk ke tingkat kesadaran hidup kita, sehingga kita menyadari hal yang telah terjadi pada tingkat yang jauh lebih dalam.
Jangan sekalikali mengkhotbahkan pengalaman - khotbahkanlah keakbaran gagasan Allah di balik pengalaman. Bila kita berkhotbah, kita bukan hanya semata-mata menyatakan bagaimana manusia dapat diselamatkan dari neraka dan dijadikan bermoral dan suci, tetapi kita menyampaikan kabar baik tentang Allah.
Dalam ajaran Yesus Kristus unsur penghakiman selalu ditampilkan, dan itulah adalah tanda dan kasih Allah.
Jangan sekalikali bersimpati terhadap seseorang yang mengalami kesulitan untuk mendekati Allah. Bukanlah bagian kita untuk memikirkan alasan kesulitan itu. Bagian kita hanyalah menyatakan kebenaran Allah agar Roh Allah menyingkapkan apa yang salah.
Ujian terpenting dari mutu pemberitaan kita ialah apakah hal itu akan membawa setiap orang kepada penghakiman atau tidak. Bila kebenaran diberitakan, Roh Allah akan membawa setiap orang berhadapan muka dengan muka dengan Allah sendiri.
Jika Yesus pernah memerintahkan kita melakukan sesuatu yang Dia sendiri tidak sanggup melengkapi kita untuk melaksanakannya, Dia seorang pendusta. Dan jika kita membuat ketidak-sanggupan kita menjadi batu sandungan atau dalih untuk tidak taat, maka itu berarti kita memberitahukan Allah bahwa ada sesuatu yang belum diperhitungkan-Nya.
Setiap unsur kebersandaran pada diri sendiri harus dimatikan oleh kuasa Allah. Saat kita mengenali kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada-Nya, sungguh merupakan saat dimana Roh Allah akan menyatakan kuasa-Nya. (My Utmost for His Highest, 5 Mei 2010)

Selasa, 04 Mei 2010

4 Mei ‘10 - Doa Syafaat Bagi Orang Lain

MASIH lanjutan renungan kemarin, dengan penekanan pada rintangan utama doa syafaat, yaitu kekebalan rohani. Doa yang kita naikkan untuk orang lain adalah berdasarkan pemikiran atau pendapat kita – dan itu kita paksakan pada Tuhan. Bukan berdasarkan pikiran dan perhatian Allah tentang yang bersangkutan, pikiran yang hanya dapat kita ”lihat” dalam kesatuan hubungan dengan Dia. Selanjutnya dibawah ini:



DOA SYAFAAT BAGI ORANG LAIN
kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus ” (Ibrani 10:19)
Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa syafaat berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah, dan kemudian menuntut Dia agar melakukan seperti apa yang kita minta.
Kita diperkenan mendekati Allah bergantung sepenuhnya pada pengorbanan Tuhan sebagai pengganti dalam penebusan dosa. Kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus.
Kebebalan rohani adalah rintangan yang paling berpengaruh terhadap doa syafaat, karena kita mendasarkan kebutuhan penebusan Kristus atas penilaian kita berdasarkan “rasa” simpati akan hal-hal yang kita lihat pada diri kita dan pada orang lain. Kita mempunyai “keyakinan” bahwa ada beberapa hal-hal yang benar dan kebaikan di dalam diri kita yang tidak perlu didasarkan pada Penebusan salib Kristus.
Pemikiran semacam itu menghasilkan kelambanan rohani dan kurang perhatian yang membuat kita merasa tidak membutuhkan menaikkan doa syafaat. Hal ini juga menyebabkan kita tidak mempersatukan diri (identify ourself) dengan perhatian dan keperdulian Allah bagi orang lain, dan kita menggerutu terhadap Tuhan. Juga kita selalu mengedepankan pendapat kita sendiri, dan (kalaupun kita menaikkan) doa syafaat kita hanya menjadi pemuliaan atau pemujaan simpati lahiriah kita sendiri.
Kita harus menyadari bahwa penebusan Kristus atas dosa-dosa berarti suatu perubahan radikal pada semua rasa simpati dan perhatian kita. Berdoa syafaat bagi orang lain berarti dengan penuh kesadaran kita mengganti simpati lahiriah kita terhadap orang lain dengan perhatian Tuhan terhadap mereka.
Apakah saya berkeras pada pandangan saya atau saya mau diubahkan? Apakah saya membuang-buang waktu atau mau sempurna dalam hubungan saya dengan Allah? Apakah saya menggerutu pada Tuhan atau tunduk dan hormat roh dan jiwa saya? Apakah saya selalu memaksakan cara atau jalan saya atau bertekad untuk diubahkan menuju kesatuan dan keserupaan dengan Dia? (My Utmost for His Highest, 4 Mei 2010)

Senin, 03 Mei 2010

3 Mei ’10 – Doa Syafaat Yang Hidup

MUNGKIN “mudah” berdoa syafaat didepan orang lain. Tapi tidak ketika sendiri. Renungan ”Doa Syafaat Yang Hidup” hari ini menekankan bahwa kunci doa syafaat adalah kesatuan dengan perhatian dan keperdulian Allah, dimana oleh-Nya kita diberi ketajaman melihat kehidupan orang lain, panggilan berdoa safaat bagi mereka – suatu pengalaman yang luar biasa. Rintangannya? Selanjutnya dibawah ini:


DOA SYAFAAT YANG HIDUP

Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan .... dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang .... ”(Efesus 6:18)
Pada saat kita terus dalam doa syafaat kita untuk orang lain, kita mungkin menemukan bahwa ketaatan kita kepada Allah dalam berdoa syafaat akan merugikan mereka untuk siapa kita berdoa – suatu hal yang tidak kita sadari atau pernah pikirkan.

Bahayanya disini adalah bahwa kita mulai berdoa syafaat dalam bersimpati dengan orang yang oleh Allah diangkat secara bertahap diangkat ke tingkat yang secara total berbeda dengan doa yang kita naikkan.

Setiap kali kita melangkah mundur dari kesatuan dengan perhatian dan keperdulian Allah untuk orang lain dan masuk kedalam simpati emosional terhadap mereka, maka hubungan yang hidup dengan Allah akan hilang.
 Kita kemudian menempatkan simpati kita dan kepedulian bagi mereka didepan. Dan hal ini (menjadikan hal lain yang utama) menjadi penghalang dan sama dengan mengatakan Tuhan salah menjawab doa kita.

Adalah tidak mungkin bagi kita untuk memiliki hidup dan doa syafaat yang baik kecuali kita sungguh-sungguh dan benar-benar yakin akan Allah. Dan yang merongrong hubungan dengan Tuhan yang didasari keyakinan tersebut, adalah simpati pribadi dan prasangka yang sudah terbentuk sebelumnya.

Identifikasi atau kesatuan dengan (perhatian dan keperdulian) Allah adalah kunci untuk doa syafaat, dan setiap kali kita berhenti menyatu dengan-Nya, adalah karena mengedepannya dorongan simpati kita dengan orang tersebut dan oleh bukan dosa. Tampaknya bukan dosa yang akan menjadi penghalang dalam hubungan permohonan doa safaat kita dengan Allah, tetapi simpati. Adalah simpati dengan diri kita sendiri atau dengan orang lain yang membuat kita berkata, "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Dan dengan seketika kita keluar dari hubungan yang hidup dengan Allah.

Doa syafaat yang hidup akan meluputkan Anda baik dari masalah waktu maupun kecenderungan berdoa mengiba untuk diri sendiri Anda. Anda tidak harus berjuang untuk menjaga pikiran Anda jauh melayang-layang kesana kemari karena tidak ada yang mengalihkan pikiran Anda disana. Anda benar-benar dan sepenuhnya dipersatukan dengan maksud dan kehendak serta keprihatinan Allah dalam kehidupan orang lain (yang Anda doakan).
Allah memberi kita ketajaman melihat kehidupan orang lain untuk memanggil kita untuk berdoa syafaat bagi mereka, suatu pengalaman yang belum pernah sebelumnya, dalam mana membuat bahkan kita tidak menemukan kesalahan mereka. (My Utmost for His Highest, 3 Mei 2010)

Minggu, 02 Mei 2010

2 Mei ’10 Kesabaran Menantikan Visi dari Tuhan


RENUNGAN hari ini mengingatkan kita bahaya cepat puas secara rohani. Dan santai secara rohani. Dikatakan, jika kita memiliki apa yang telah kita alami, kita tidak punya apa-apa. Kita diajak untuk mendapatkan, memiliki visi dari Allah, yang olehnya, kita dimungkinkan mencapai lebih dari yang kita sudah pahami. Selanjutnya dibawah ini:

KESABARAN MENANTIKAN VISI DARI TUHAN
... apabila (penglihatan itu) berlambat-lambat, nantikanlah .... ” (Habakuk 2:3)
Kesabaran tidak sama dengan acuh tak acuh (indifference); kesabaran disini mengandung arti tentang seseorang yang sangat kuat dan mampu menahan semua serangan.
Memiliki visi Allah adalah sumber kesabaran karena memberikan kita inspirasi Allah yang benar dan tepat. Musa bertahan, bukan karena kesetiaan kepada prinsip-prinsip tentang apa yang benar, atau karena rasa kewajiban kepada Allah, tetapi karena ia memiliki visi dari Allah. "..... Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan". (Ibrani 11:27).
Seseorang yang memiliki visi dari Tuhan tidak mengabdi pada suatu alasan atau pada suatu pokok persoalan tertentu, tapi ia mengabdi kepada Allah.
Anda selalu tahu kapan visi itu adalah dari Allah karena inspirasi yang datang menyertainya. Yaitu hal-hal yang datang kepada Anda dengan keagungan dan menambah vitalitas hidup Anda, karena semuanya digerakkan oleh kekuatan Allah.
Jika Allah memberi Anda waktu secara rohani, dimana Allah sepertinya diam dengan tidak ada kata dari diri-Nya sama sekali, seperti halnya pengalaman Anak-Nya ketika dicobai di padang gurun, ketika Allah melakukan hal itu, bertahanlah, karena kekuatan untuk bertahan ada disana karena Anda melihat Tuhan.
... apabila (penglihatan itu) berlambat-lambat, nantikanlah ......” Bukti bahwa kita memiliki visi adalah bahwa kita mencapai lebih dari yang kita sudah pahami atau dapatkan.
Adalah suatu hal yang jelek cepat puas secara rohani. Pemazmur berkata, "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan ..." (Mazmur 116:12-13). Kita cenderung untuk mencari kepuasan dalam diri kita sendiri dan berkata, "Sekarang saya telah mendapatkannya! Sekarang saya benar-benar dikuduskan! Sekarang saya bisa kuat bertahan."
Pencapaian kita harus melampaui pemahaman kita. Paulus berkata, ”Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya.....” (Filipi 3:12).
Jika kita memiliki apa yang telah kita alami, kita tidak punya apa-apa. Tetapi jika kita memiliki inspirasi dari visi Allah, kita memiliki lebih dari yang dapat kita alami. Waspadalah terhadap bahaya kesantaian rohani atau spiritual. (My Utmost for is Highest, 2 Mei 2010)

Sabtu, 01 Mei 2010

1 Mei 2010 – Iman, Bukan Emosi

MENGAPA ada saat-saat dalam pekerjaan pelayanan Tuhan terasa dekat? Mengapa ada saat-saat Tuhan tampaknya menutup surga untuk kita, dan kita mulai kehilangan sukacita dan bicara hanya tentang cobaan dan kesulitan? Renungan hari ini mengatakan Allah membiarkannya terjadi. Untuk apa? Selanjutnya dibawah ini:






IMAN, BUKAN EMOSI

sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Korintus 5:7)

Ada saat-saat kita sangat menyadari perhatian Allah bagi kita. Tapi kemudian, ketika Allah mulai menggunakan kita dalam pekerjaan-Nya, kita mulai kehilangan sukacita, dan bicara hanya tentang cobaan dan kesulitan.

Dan semuanya itu dibiarkan Allah terjadi karena Ia sedang mencoba membuat kita melakukan pekerjaan pelayanan kita sebagai orang yang tersembunyi, yang tidak dalam sorotan. Tak satu pun dari kita akan mengalami hal demikian secara rohani jika kita berjalan menurut emosi kita.

Dapatkan kita melakukan pekerjaan pelayanan kita ketika tampaknya Allah telah menutup surga?
Beberapa dari kita selalu ingin menjadi orang-orang percaya yang cerah bercahaya, membayangkan diri kita seperti orang-orang kudus dengan lingkaran cahaya emas diatas kepala, dengan terang ilham atau inspirasi yang terus-menerus, dan memiliki orang-orang percaya lainnya yang selalu mendukung kita sepanjang waktu.

Seorang percaya yang percaya-diri dan bersandar pada diri sendiri tidak berguna bagi Allah. Orang percaya seperti itu tidak normal, tidak layak untuk kehidupan pelayanan sehari-hari, dan sama sekali tidak seperti Allah kehendaki.

Kita dimaksudkan Allah disini, bukan sebagai “malaikat yang bulu sayapnya belum penuh”, tapi sebagai pria dan wanita, untuk melakukan pekerjaan-Nya dunia ini. Dan kita percaya melakukan itu dengan kekuatan yang jauh lebih besar untuk menahan berbagai perjuangan karena kita telah lahir dari atas.

Jika kita terus mencoba untuk mengembalikan balik saat-saat inspirasi yang luar biasa itu, itu merupakan pertanda bahwa bukan Allah yang kita inginkan. Tapi kita terobsesi dengan saat-saat ketika Allah sungguh dirasakan datang dan berbicara dengan kita, dan lalu kita mengasak agar Ia melakukannya dan melakukannya kembali. Namun apa yang Allah ingin kita lakukan adalah untuk "berjalan dengan iman."

Berapa banyak dari kita telah membuang waktu berputar-putar disini berpikir, "Aku tidak dapat melakukan hal lain sampai Allah menyatakan diri kepadaku"?

Allah tidak akan pernah melakukan hal itu. Kita sendiri harus bangkit, tanpa inspirasi apapun dan tanpa sentuhan sekonyong-konyong dari Allah. Maka, kemudian datang kejutan dan kita terhenyak, dan kita berseru, "Wah, mengapa Dia ada di sana sepanjang waktu, dan aku tidak pernah tahu!"

Jangan pernah hidup untuk saat-saat yang khusus seperti disebutkan diatas. Hal itu akan datang dengan tanpa bisa diduga. Allah akan memberi kita sentuhan inspirasi-Nya hanya ketika Ia melihat bahwa kita tidak dalam bahaya kita terseret oleh saat-saat seperti itu.

Kita jangan pernah mempertimbangkan saat saat inspirasi sebagai cara patokan atau norma hidup kristiani atau pelayanan. Pekerjaan itu sendirilah menjadi patokan kita. (My Utmost for His Highest, 1 Mei 2010)