Selasa, 13 April 2010

13 Apr ’10 – Bila Beban Anda Teramat Berat

RENUNGAN hari ini bicara tentang beban dalam pelayanan. Apa yang membuat pelayanan menjadi beban yang teramat berat dan membuat kita terkalahkan dan lesu? Padahal pelayanan dimulai dengan semangat dan keteguhan hati yang besar, dan dengan motif yang benar. Apa jalan keluarnya? Selanjutnya dibawh ini:


BILA BEBAN ANDA TERAMAT BERAT

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN ... ” (Mazmur 55:23).

Kata ”kuatir” dalam ayat diatas dalam Alkitab King James Version diterjemahkan ”beban”. Kita harus mengetahui perbedaan antara beban yang patut untuk kita tanggung dan beban yang salah kita tanggung. Kita seharusnya jangan menanggung beban dosa atau kebimbangan, tetapi menanggung beban yang diletakkan Allah atas kita. Allah menginginkan kita menyerahkannya kembali kepada-Nya - secara harfiah “serahkanlah bebanmu”, yang telah diberikan-Nya kepada Anda, “kepada Tuhan...”

Jika kita bermaksud melayani Allah dan melakukan pekerjaan-Nya, kehilangan hubungan yang berlanjut dengan Dia, tanggung jawab yang kita rasakan akan terlampau berat dan mengalahkan kita. Akan tetapi, jika kita menyerahkan kembali hanya kepada Allah beban-beban yang diletakkan-Nya ke atas kita, Dia akan mengambil rasa tanggung jawab yang besar tersebut, menggantikannya dengan kesadaran dan pengertian akan diri-Nya dan hadirat-Nya.

Banyak pelayan memulai melayani Allah dengan keteguhan hati yang besar dan dengan motif yang benar. Akan tetapi, tanpa persekutuan yang akrab dengan Yesus Kristus, mereka akan segera terkalahkan. Mereka tidak tahu tindakan yang harus dilakukan terhadap beban mereka, dan itu membuat hidup mereka menjadi lesu. Orang lain akan melihat ini dan berkata, “Alangkah sedihnya akhir dari sesuatu yang mempunyai awal yang hebat!

Serahkanlah bebanmu kepada Tuhan ..“ Anda telah menanggungnya semua, tetapi Anda perlu menaruhkan salah satu ujungnya ke atas bahu Allah, yang “... lambang pemerintahan ada di atas bahu-Nya” (Yesaya 9:5). Serahkanlah kepada Allah apa pun beban yang telah ditaruhkan-Nya di atas Anda. Jangan hanya melemparkannya ke samping, tetapi serahkan semuanya kepada-Nya dan tempatkan diri Anda sendiri di sana bersama beban itu. Anda akan melihat bahwa beban itu terasa ringan oleh keyakinan pendampingan dan penyertaan-Nya. Akan tetapi, Anda jangan berusaha memisahkan diri dan beban Anda. (My Utmost for His Highest 12 April 2010)

Senin, 12 April 2010

12 Apr ’10 - Kuasa-Nya Yang Penuh Dalam Kita


BARANGKALI sering menjadi pertanyaan, mengapa kuasa yang begitu sangat nyata dalam diri Yesus, tidak nyata didalam diri kita? Renungan ini menyatakan, salah satu sebabnya karena kita belum mengambil keputusan yang sungguh-sungguh dan efektif tentang dosa. Dan ada yang kita tidak mau lepas dari genggaman kita, yang tetap ingin kita pertahankan. Selanjutnya dibawah ini:


KUASA-NYA YANG PENUH DALAM KITA
Maut tidak berkuasa lagi atas Dia.. namun Ia hidup, yakni hidup bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah (Roma 6:9-11).
Hidup kekal adalah hidup yang diperlihatkan Yesus pada tingkat kemanusiaan. Dan hidup yang sama seperti inilah, bukan “copy”-nya, yang dijadikan nyata dalam hidup fana kita ketika kita dilahirkan kembali. Hidup kekal bukanlah pemberian dari Allah; hidup kekal adalah pemberian Allah.
Daya dan kuasa yang sangat begitu nyata dalam diri Yesus akan diperlihatkan dalam diri kita oleh tindakan anugerah Allah yang berdaulat mutlak, pada saat kita mengambil keputusan yang sungguh-sungguh dan efektif tentang dosa.
Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus telah turun ke atas kamu...” (Kisah Para Rasul 1:8). – ini bukanlah kuasa sebagai pemberian Roh Kudus; kuasa itu ialah Roh Kudus sendiri. Hidup yang ada di dalam Yesus menjadi milik kita karena Salib-Nya, pada saat kita mengambil keputusan untuk dipersatukan dengan Dia.
Jika kita sukar sejalan dengan kehendak Allah, itu karena kita menolak mengambil keputusan moral tentang dosa. Akan tetapi, pada saat kita mengambil keputusan, kehidupan Allah yang penuh masuk seketika. Yesus datang untuk memberi kita persediaan hidup yang tiada habis-habisnya - “.. .supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Efesus 3:19). Hidup kekal tiada kaitannya dengan waktu. Itu adalah hidup yang dijalani Yesus ketika Dia turun ke dunia, dan satu-satunya Sumber kehidupan ialah Tuhan Yesus Kristus.
Bahkan orang kudus yang paling lemah dapat mengalami kuasa keilahian Anak Allah, ketika dia rela melepas apa yang digenggamnya. Akan tetapi, usaha apa pun untuk bertahan pada hal terkecil dari kekuatan kita sendiri hanya akan mengurangi kehidupan Kristus yang ada di dalam kita. Kita harus terus melepaskan kebiasaan itu, dan lambat laun, tetapi pasti, kehidupan Allah yang penuh akan datang, masuk ke dalam setiap bagian dan diri kita. Kemudian Yesus akan mendapat kekuasaan penuh dan berhasil guna di dalam kita, dan orang-orang akan memperhatikan bahwa kita telah bersama-sama dengan Dia. (My Utmost for His Highest 12 April 2010)

12 Apr ’10 - Kuasa-Nya Yang Penuh Dalam Kita


BARANGKALI sering menjadi pertanyaan, mengapa kuasa yang begitu sangat nyata dalam diri Yesus, tidak nyata didalam diri kita? Renungan ini menyatakan, salah satu sebabnya karena kita belum mengambil keputusan yang sungguh-sungguh dan efektif tentang dosa. Dan ada yang kita tidak mau lepas dari genggaman kita, yang tetap ingin kita pertahankan. Selanjutnya dibawah ini:

KUASA-NYA YANG PENUH DALAM KITA
Maut tidak berkuasa lagi atas Dia.. namun Ia hidup, yakni hidup bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah (Roma 6:9-11).
Hidup kekal adalah hidup yang diperlihatkan Yesus pada tingkat kemanusiaan. Dan hidup yang sama seperti inilah, bukan “copy”-nya, yang dijadikan nyata dalam hidup fana kita ketika kita dilahirkan kembali. Hidup kekal bukanlah pemberian dari Allah; hidup kekal adalah pemberian Allah.
Daya dan kuasa yang sangat begitu nyata dalam diri Yesus akan diperlihatkan dalam diri kita oleh tindakan anugerah Allah yang berdaulat mutlak, pada saat kita mengambil keputusan yang sungguh-sungguh dan efektif tentang dosa.
Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus telah turun ke atas kamu...” (Kisah Para Rasul 1:8). – ini bukanlah kuasa sebagai pemberian Roh Kudus; kuasa itu ialah Roh Kudus sendiri. Hidup yang ada di dalam Yesus menjadi milik kita karena Salib-Nya, pada saat kita mengambil keputusan untuk dipersatukan dengan Dia.
Jika kita sukar sejalan dengan kehendak Allah, itu karena kita menolak mengambil keputusan moral tentang dosa. Akan tetapi, pada saat kita mengambil keputusan, kehidupan Allah yang penuh masuk seketika. Yesus datang untuk memberi kita persediaan hidup yang tiada habis-habisnya - “.. .supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Efesus 3:19). Hidup kekal tiada kaitannya dengan waktu. Itu adalah hidup yang dijalani Yesus ketika Dia turun ke dunia, dan satu-satunya Sumber kehidupan ialah Tuhan Yesus Kristus.
Bahkan orang kudus yang paling lemah dapat mengalami kuasa keilahian Anak Allah, ketika dia rela melepas apa yang digenggamnya. Akan tetapi, usaha apa pun untuk bertahan pada hal terkecil dari kekuatan kita sendiri hanya akan mengurangi kehidupan Kristus yang ada di dalam kita. Kita harus terus melepaskan kebiasaan itu, dan lambat laun, tetapi pasti, kehidupan Allah yang penuh akan datang, masuk ke dalam setiap bagian dan diri kita. Kemudian Yesus akan mendapat kekuasaan penuh dan berhasil guna di dalam kita, dan orang-orang akan memperhatikan bahwa kita telah bersama-sama dengan Dia. (My Utmost for His Highest 12 April 2010)

Minggu, 11 April 2010

11 Apr ’10 - Keilahian Yang Sempurna dan Berhasil-Guna



RENUNGAN hari ini masih lanjutan dari yang kemarin. Dimana dikatakan, sekali saya mengambil keputusan penting tentang dosa, maka adalah mudah untuk memandang bahwa saya sesungguhnya “mati terhadap dosa”, karena saya menemukan kehidupan Yesus di dalam diri saya sepanjang waktu. Hidup kebangkitan Yesus menembus ke dalam setiap bagian dan sifat manusia saya. Selanjutnya dibawah ini:

KEILAHIAN YANG SEMPURNA DAN BERHASIL-GUNA
Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya (Roma 6:5).
Kebangkitan Bersama Kristus. Bukti bahwa saya telah mengalami penyaliban dengan Yesus adalah bahwa saya mempunyai keserupaan dengan Dia. Roh Yesus masuk dan membentuk kembali hidup pribadi saya di hadapan Allah. Kebangkitan Yesus telah memberi Dia wewenang untuk memberi kehidupan Allah kepada saya, dan pengalaman hidup saya sekarang harus dibangun di atas dasar kehidupanNya. Saya dapat memiliki hidup kebangkitan Yesus disini dan sekarang ini, dan hal itu akan terlihat dengan sendirinya melalui kesucian.
Gagasan yang terbentang di seluruh tulisan Paulus adalah bahwa sesudah kita dipersatukan dengan Yesus dalam kematian-Nya, hidup kebangkitan Yesus menembus ke dalam setiap bagian dan sifat manusia kita. Dibutuhkan kemahakuasaan Allah - keilahian-Nya yang sempurna dan berhasil-guna - untuk menjalankan kehidupan Anak Allah dalam tubuh manusia.
Roh Kudus tidak dapat diterima sebagai seorang tamu yang tinggal hanya dalam sebuah kamar saja di rumah - Dia mengisi dan menguasai seluruh rumah; dan sekali saya memutuskan bahwa “manusia lama” saya (yaitu dosa turunan saya) harus disatukan dengan kematian Yesus, maka Roh Kudus mengisi dan menguasai saya. Dia mengambil alih pimpinan dalam segala sesuatu. Bagian saya adalah berjalan dalam terang dan mematuhi semua yang dinyatakan-Nya kepada saya.
Sekali saya mengambil keputusan penting tentang dosa itu, maka adalah mudah untuk memandang bahwa saya sesungguhnya “mati terhadap dosa”, karena saya menemukan kehidupan Yesus di dalam diri saya sepanjang waktu (Roma 6:11).
Sama seperti hanya ada satu jenis kemanusiaan, maka hanya ada satu jenis kekudusan – kekudusan Yesus. Dan adalah kekudusan-Nya yang telah diberikan kepada saya. Allah menaruh kekudusan Anak-Nya ke dalam diri saya, dan saya masuk dalam sebuah tata kehidupan rohani yang baru. (My Utmost fo His Highest, 11 April 2010)

Sabtu, 10 April 2010

10 Apr ’10 - Keputusan Yang Sungguh-Sungguh Tentang Dosa


TIDAK SEDIKIT orang berpikir bahwa dosa harus dikekang, ditekan atau dilawan. Renungan hari ini mengatakan, tidak sekedar demikian itu. Kita harus disalibkan - disalibkan dengan Kristus, sampai yang tersisa dalam daging dan darah Anda hanyalah kehidupan-Nya. Dan hal itu membutuhkan keputusan kita. Selanjutnya dalam Notes:

KEPUTUSAN YANG SUNGGUH-SUNGGUH TENTANG DOSA
 “ … manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Roma 6:6).
Disalibkan Dengan Kristus. Sudahkah Anda mengambil keputusan bahwa dosa harus sepenuhnya dimatikan dalam diri Anda? Dibutuhkan waktu untuk mengambil keputusan yang sungguh-sungguh dan efektif tentang dosa. Meskipun demikian, itu merupakan saat terbesar dalam hidup Anda ketika Anda memutuskan bahwa dosa harus mati dalam diri Anda - bukan sekadar dikekang, ditekan atau dilawan, melainkan disalibkan - seperti halnya Yesus Kristus mati bagi dosa dunia.
Tidak seorang pun dapat mengantar orang lain untuk mengambil keputusan ini. Kita mungkin dapat diyakinkan secara mental dan rohani, tetapi yang perlu kita lakukan adalah benar-benar mengambil keputusan yang ditekankan Paulus kepada kita dalam nas ini.
Berhentilah sejenak, luangkan waktu untuk menyendiri dengan Allah, dan ambillah keputusan penting ini, seraya berkata, “Tuhan, persatukan aku dengan kematian-Mu sampai aku tahu bahwa dosa itu telah mati dalam diriku”. Ambillah keputusan moral bahwa dosa dalam diri Anda harus dimatikan.
Bagi Paulus, hal ini bukanlah semacam harapan masa depan ilahi atau rohani, tetapi sebuah pengalaman yang sangat radikal dan pasti dalam hidup Paulus.
Siapkah Anda untuk mengizinkan Roh Allah menyelidiki Anda sampai Anda tahu seberapa tingkat dan sifat/nature dari dosa yang ada dalam hidup Anda - untuk melihat hal-hal yang sungguh bertentangan dengan Roh Allah dalam diri Anda?
Jika demikian, maukah Anda sepakat dengan putusan Allah mengenai sifat dosa - bahwa itu harus dipersatukan dengan kematian Yesus? Anda tidak dapat “memandangnya bahwa kamu telah mati terhadap dosa” (Roma 6: 1) kecuali Anda telah secara sungguh-sungguh menyelesaikan masalah kehendak Anda di hadapan Allah
Sudahkah masuk kedalam hak istimewa yang mulia disalibkan dengan Kristus, sampai yang tersisa dalam daging dan darah Anda hanyalah kehidupan-Nya? “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku... ” (Galatia 2:19-20) (My Utmost for His Highest, 10 April 2010)

Jumat, 09 April 2010

9 Apr ’10 - Sudahkah Anda Melihat Yesus?

RENUNGAN hari ini sungguh menggelitik ”Sudahkah Anda Melihat Yesus?”. Dikatakan, diselamatkan dan melihat Yesus bukanlah hal yang sama. .... Dan sekali melihat Dia, kita takkan pernah menjadi orang yang sama, ... dan akan ada kerinduan agar orang lain melihat Dia. Lebih lanjut dibawah ini:

SUDAHKAH ANDA MELIHAT YESUS?

Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dan mereka...” (Markus 16:12).


Diselamatkan dan melihat Yesus bukanlah hal yang sama. Banyak orang yang tidak pernah melihat Yesus telah menerima dan membagikan anugerah Allah. Akan tetapi, sekali Anda melihat Dia. Anda takkan pernah menjadi orang yang sama. Hal-hal lain tidak lagi mempunyai daya tarik seperti sebelumnya.

Anda seharusnya mengenal perbedaan antara pribadi Yesus dan karya-Nya bagi Anda. Jika Anda hanya melihat karya-Nya bagi Anda, maka Allah Anda tidak cukup besar. Akan tetapi, jika Anda mendapat suatu visi, melihat Yesus dalam kepribadian-Nya sebagaimana yang sesungguhnya, pengalaman dapat datang dan pergi, namun Anda akan bertahan ” seolah-olah ia sudah melihat Allah yang tidak kelihatan” (Ibrani 11:27, BIS). Orang yang buta sejak lahir itu tidak mengenal Yesus sampai Kristus muncul dan menyatakan diri-Nya kepadanya (lihat Yohanes 9). Yesus memperlihatkan diri-Nya kepada mereka yang telah menerima pelayanan-Nya, tetapi kita tidak dapat mengatur atau minta atau memperkirakan waktu kedatanganNya. Dia bisa saja muncul secara mendadak pada setiap kesempatan. Pada saat itu Anda dapat berseru, “Sekarang aku melihat Dia!” (lihat Yohanes 9:25).

Yesus menampakkan diri kepada Anda dan kawan Anda secara pribadi; tidak ada seorangpun dapat melihat Yesus seperti mata Anda melihatnya.Dan pemisahan akan terjadi ketika seseorang melihat Dia dan yang lain tidak. Anda tidak dapat mengajak kawan Anda dan mengarahkannya untuk melihat Allah; Allahlah yang harus melakukan hal itu.

Sudahkah Anda melihat Yesus? Jika demikian, Anda juga akan menginginkan agar orang lain melihat Dia. “Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya” (Markus 16:13). Bila Anda melihat Dia, Anda harus memberitakannya, walaupun mereka tidak percaya.
Ya, dapatkah kuceritakan, engkau pasti percaya!
Ya, seandainya dapat kukatakan apa yang telah aku lihat!
Bagaimana harus kuceritakan atau bagaimana kau menerimanya,
Hanya setelah Dia sendiri membawamu ke tempat dimana saya melihat-Nya.
(My Utmost for His Highest, 6 April 2010).

Kamis, 08 April 2010

8 Apr ’10. Tujuan Kuasa Kebangkitan-Nya


APAKAH makna dan tujuan kebangkitan Yesus? Renungan hari ini memberikan jawabannya secara jelas dan praktis. Kebangkitan-Nya berarti Dia mempunyai kuasa untuk menyalurkan kehidupan-Nya kepada saya, saat ini, melalui kelahiran kembali. Roh Kudus terus-menerus menerapkan kuasa penebusan Salib Kristus kepada hidup kita. Dan lelak kita dibangkitkan menuju hidup kebangkit-Nya. Lebih lanjut dibawah ini:
 TUJUAN KUASA KEBANGKITAN-NYA
Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (Lukas 24:26).
Salib Tuhan adalah pintu gerbang untuk memasuki kehidupan-Nya. Kebangkitan-Nya berarti Dia mempunyai kuasa untuk menyalurkan kehidupan-Nya kepada saya. Ketika saya dilahirkan kembali, saya menerima hidup kebangkitan Tuhan Yesus.
Kuasa kebangkitan Kristus – maksud yang telah ditentukan sebelumnya - adalah untuk membawa ”banyak orang kepada kemuliaan” (Ibrani 2:10). Penggenapan rencana-Nya memberi Dia hak untuk menjadikan anak-anak Allah. Kita tidak pernah mempunyai hubungan yang sama dengan Allah seperti yang dipunyai Anak Allah, tetapi kita dibawa oleh sang Anak ke dalam hubungan bapa dengan anak.
Ketika Tuhan kita bangkit dari antara orang mati, Dia bangkit menuju hidup yang baru - hidup yang tidak pernah dijalani-Nya sebelum Dia menjadi Allah yang menjelma/berinkarnasi. Dia bangkit menuju kehidupan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Dan makna kebangkitan-Nya bagi kita adalah bahwa kita dibangkitkan menuju hidup kebangkit-Nya, bukan tetap dalam hidup kita yang lama. Suatu hari kelak kita akan memiliki tubuh seperti tubuh kemuliaan-Nya, tetapi sekarang ini kita dapat mengenal kuasa kebangkitan-Nya dan dapat hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:4). Tekad Paulus adalah “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya” (Filipi 3:10).
Yesus berdoa, “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya" (Yohanes 17:2). Istilah Roh Kudus sebenarnya adalah nama lain bagi pengalaman hidup kekal yang bekerja di dalam umat manusia sekarang ini. Roh Kudus adalah keilahian Allah yang terus-menerus menerapkan kuasa penebusan Salib Kristus kepada hidup kita.
Syukur kepada Allah untuk kebenaran yang mulia bahwa Roh-Nya dapat membentuk nature/sifat Yesus di dalam diri kita, jika kita mau mematuhi-Nya. (My Utmost fo His Highest, 8 April 2010)