Tampilkan postingan dengan label sasaran dari kehidupan rohani kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sasaran dari kehidupan rohani kristen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 April 2010

29 Apr ’10 - Keadaan Yang Belum Nyata Yang Mulia

HAL YANG SULIT dalam iman, apalagi dalam dunia yang menilai segala sesuatu dengan nalar ini, adalah hal yang belum nyata. Kepastian memang adalah tanda kehidupan yang bernalar. Tapi tanda kehidupan rohani adalah gracious uncertainity, hal yang belum nyata yang agung mulia. Seperti kehidupan seorang anak kecil. Lebih jauh dibawah ini:

KEADAAN YANG BELUM NYATA YANG MULIA
..... belum nyata apa keadaan kita kelak (1 Yohanes 3:2).
Kecenderungan lahiriah kita adalah untuk selalu cermat – mencoba membuat prakiraan apa yang terjadi kedepan ini, karena kita cenderung beranggapan bahwa sesuatu yang belum pasti, belum nyata, adalah hal yang buruk. Kita berpendapat bahwa kita harus mencapai suatu sasaran yang sudah harus diantisipasi sebelumnya.
Tetapi pandangan demikian bukanlah ciri kehidupan rohani. Ciri kehidupan rohani adalah bahwa kita pasti dalam hal-hal yang belum nyata, sehingga kita tidak (perlu) merasa gamang karenanya. Memang akal sehat kita akan berkata, “Bagaimana seandainya aku berada dalam situasi itu?” Kita tidak dapat membayangkan diri kita dalam situasi yang tidak pernah kita alami sebelumnya tersebut.
Kepastian adalah tanda kehidupan yang bernalar, sedangkan gracious uncertaintyhal yang belum nyata yang agung mulia adalah tanda kehidupan rohani.
Memiliki kepastian tentang Allah berarti kita tidak memiliki kepastian dalam semua jalan kita sendiri, tidak mengetahui hal yang akan dapat terjadi besok, sesuatu yang biasanya membuat orang menarik nafas panjang tanda hati rusuh. Tetapi orang yang memiliki kepastian tentang Allah seharusnya terekspresi dalam adanya kegembiraan dan pengharapan hidup. Karena walaupun kita tidak nyata langkah berikutnya, tetapi kita pasti tentang Allah.
Pada saat kita menyerahkan diri kepada Allah dan melakukan tugas yang Dia taruhkan dekat dihati kita, maka Dia mulai memenuhi hidup kita dengan kejutan atau surprises.
Bila kita sekedar menjadi seorang ”militan” atau pembela atas keyakinan kita, maka ada sesuatu di dalam diri kita yang mati. Itu bukan mempercayai Allah - itu hanya mempercayai kepercayaan kita tentang Dia.
Yesus berkata, “. ..jika kamu tidak... menjadi seperti anak kecil...” (Matius 18:3).
Kehidupan rohani adalah kehidupan seorang anak kecil. Kita bukannya tidak pasti tentang Allah, tetapi kita tidak tahu pasti tentang apa yang akan dilakukan Allah selanjutnya.
Jika kepastian kita hanya dalam dalam kepercayaan keberagamaan, maka kita cenderung membangun kebenaran diri sendiri, menjadi reaktif suka mengkritik, dan terkungkung oleh pandangan bahwa kepercayaan kita adalah sempurna dan mantap.
Akan tetapi, bila kita mempunyai hubungan yang baik dengan Allah, maka hidup kita dipenuhi dengan pengharapan yang penuh sukacita dan spontan. Yesus berkata, “...percayalah juga kepada-Ku” (Yohanes 14:1), bukan: “Percayalah hal-hal tertentu tentang diri-Ku.
Serahkanlah segala sesuatu kepada-Nya, dan meskipun cara Dia datang merupakan sesuatu yang belum Anda ketahui, Anda dapat pasti bahwa Dia akan datang. Tetaplah setia kepadaNya. (My Umost for His Highest, 29 April 2010).

Sabtu, 13 Februari 2010

Devosi Mendengar

Sudahkah Anda mendengar suara Allah hari ini? Atau hanya pada saat-saat tertentu saja? Apa rahasianya? Dan apa yang menjadi kendala atau rintangannya? Chambers menekankan aspek devosi dalam mendengar (devotion of hearing). Devosi adalah tindakan kasih dengan pengorbanan waktu dan tenaga. Lebih jauh kita ikuti dibawah ini:
Devosi Mendengar
Dan Samuel menjawab: ‘Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Samuel 3:10).
Hanya karena telah mendengarkan dengan cermat dan sungguh-sungguh kepada satu hal dari Allah bukan berarti bahwa saya mendengarkan semua hal yang diucapkan-Nya. Saya memperlihatkan kepada Allah kurangnya kasih dan hormat saya kepada-Nya dengan ketidak-pekaan hati dan pikiran saya pada apa yang dikatakan oleh-Nya. Jika saya mengasihi sahabat saya maka secara naluri saya akan memahami apa yang diinginkannya. Yesus berkata, “Kamu adalah sahabat-Ku” (Yohanes 15:14).
Apakah saya tidak menuruti perintah Tuhan minggu ini? Jika saya menyadari bahwa itu perintah Yesus, saya takkan dengan sengaja tidak mengindahkannya. Akan tetapi, kebanyakan di antara kita sungguh menunjukkan rasa tidak hormat kepada Allah karena nyatanya kita sama sekali tidak mendengarkan Dia. Seolah-olah Dia tidak pernah berbicara kepada kita.
Sasaran dari kehidupan rohani saya adalah keserupaan (indentifikasi) sedemikian rupa dengan Yesus Kristus sehingga saya selalu mau mendengarkan Allah dan mengetahui bahwa Allah selalu mendengarkan saya (lihat Yohanes 11:41).
Jika saya dipersatukan dengan Yesus Kristus, saya mendengarkan Allah sepanjang waktu melalui devosi mendengar (tindakan kasih dan pengorbanan dengan waktu dan tenaga untuk mendengar Allah). Sekuntum bunga, sebuah pohon atau seorang hamba Allah mungkin menyampaikan pesan Allah kepada saya.
Yang merintangi pendengaran saya adalah perhatian saya yang tertuju pada hal-hal lain. Bukannya saya tidak ingin mendengar Allah, namun saya tidak ”devoted” dalam segi-segi yang tepat dari hidup saya. Saya memperhatikan hal-hal lain dan bahkan pada pelayanan dan keyakinan saya sendiri. Allah boleh jadi berbicara hal-hal yang dikehendaki-Nya, namun saya tidak mendengarkan Dia. Sikap seorang anak Allah seharusnya selalu, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar”.
Jika saya tidak mengembangkan dan memupuk devosi mendengar ini, maka saya hanya dapat mendengar suara Allah pada waktu tertentu saja. Pada saat yang lain saya menjadi tuli terhadap suara-Nya karena perhatian saya tertuju kepada hal-hal lain, yaitu hal-hal yang menurut pendapat saya harus saya lakukan.
Ini bukanlah kehidupan seorang anak Allah. Sudahkah Anda mendengar suara Allah hari ini? (My Utmost for His Highest, 13 Februari 2010)