Tampilkan postingan dengan label penyerahan total kepada Yesus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyerahan total kepada Yesus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 April 2010

17 Apr ’10 - Semua Atau Tidak Sama Sekali?

RENUNGAN hari ini, ”Penyerahan Total atau Tidak Sama Sekali”, tentang arti penyerahan yang sesungguhnya, tidak lahiriah, tapi batiniah, menyangkut penyerahan kehendak, sampai hal-hal yang terdalam dalam diri kita. Selanjutnya dibawah ini:


 
SELURUHNYA ATAU TIDAK SAMA SEKALI


Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka Ia mengenakan pakaiannya... lalu terjun ke dalam danau” (Yohanes 21:7).

Pernahkah Anda mengalami suatu krisis dalam hidup Anda, dalam mana Anda lalu dengan penuh sadar meninggalkan segala sesuatu tanpa mempedulikannya lagi? Itulah suatu krisis kehendak.

Anda mungkin sering mengalami keadaan itu secara lahiriah, tetapi itu tak berarti apa-apa. Krisis penyerahan yang benar dalam atau total dicapai secara batiniah, bukannya lahiriah. Penyerahan secara lahiriah saja boleh jadi sebenarnya merupakan suatu petunjuk bahwa Anda berada dalam perbudakan total.

Sudahkah Anda dengan suka rela menyerahkan kehendak Anda kepada Yesus Kristus? Ini adalah penyerahan, atau tepatnya, transaksi kehendak, bukan emosi; kalaupun ada emosi positif yang dihasilkan, hanyalah suatu berkat superfisial yang timbul dari transaksi itu. Jika Anda memusatkan perhatian Anda pada emosi, maka Anda takkan pernah membuat transaksi tersebut. Jangan bertanya kepada Allah tentang apa jadinya dengan transaksi itu, tetapi bertekadlah untuk menyerahkan kehendak Anda mengenai hal apa pun yang Anda lihat secara batin, apakah itu hal yang tampak sepele atau yang jauh dalam diri Anda.

Jika Anda telah mendengar suara Yesus Kristus pada gelombang laut (seperti Petrus ketika melihat Yesus), Anda dapat membiarkan keyakinan dan konsistensi Anda berkembang dengan memusatkan diri untuk memelihara hubungan yang akrab dengan Dia. (My Utmost for His Highest, 17 April 2010)

Rabu, 24 Februari 2010

Sukacita Dalam Berkorban


Hari ini masih tentang motif pelayanan. Dikatakan, dalam pelayanan Kristen adalah sesuatu yang tidak dapat diterima, bahwa kita dikendalikan oleh kepentingan dan hasrat kita sendiri. Dan fakta, inilah ujian terbesar dalam hubungan kita dengan Yesus Kristus: adakah sukacita dalam berkorban, dalam menyerahkan hidup saya untuk Sahabat saya, Yesus? Selanjutnya dibawah ini:
Sukacita Dalam Berkorban
Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu” (2 Korintus 12:15).
Pada saat “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Roma 5:5), maka dengan sukarela kita mulai mengindentifikasikan diri dengan perhatian dan maksud Yesus Kristus dalam kehidupan orang lain. Dan Yesus menaruh perhatian pada setiap orang. Dalam pelayanan Kristen adalah sesuatu yang tidak dapat diterima, bahwa kita dikendalikan oleh kepentingan dan hasrat kita sendiri.
Dan fakta, inilah ujian terbesar dalam hubungan kita dengan Yesus Kristus. Sukacita dalam berkorban adalah bahwa saya menyerahkan hidup saya untuk Sahabat saya, Yesus (lihat Yohanes 15:13). Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup saya, tetapi dengan rela dan kesungguhan menyerahkannya bagi Dia dan bagi perhatian-Nya bagi orang lain. Dan saya melakukan hal ini bukan untuk alasan atau maksud saya sendiri.
Paulus mengorbankan hidupnya hanya untuk satu maksud - agar dia dapat memenangkan manusia bagi Yesus Kristus. Paulus selalu menarik manusia kepada Tuhannya, tidak pernah kepada dirinya sendiri. Dia mengatakan, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1 Korintus 9:22).
Apabila seseorang berpikir bahwa untuk membangun/mengembangkan suatu hidup suci dia harus selalu menyendiri dengan Allah, maka dia tidak lagi berguna bagi orang lain. Paulus adalah seorang suci, tetapi ke mana pun dia pergi dia selalu mengizinkan Yesus Kristus memakai hidupnya.
Banyak di antara kita yang hanya menaruh minat pada maksud tujuan kita sendiri, dan Yesus tidak dapat memaksakan Diri-Nya kedalam hidup kita. Akan tetapi, jika kita menyerah sepenuhnya kepada-Nya, kita tidak akan mempunyai tujuan sendiri dalam melayani. Paulus berkata bahwa dia mengetahui cara menjadi sebuah “keset’ tanpa merasa pahit dan terhina, karena motivasi hidupnya adalah devosi atau pengabdian kepada Yesus.
Kita cenderung berdevosi atau mengabdi, bukan kepada Yesus tetapi pada hal-hal yang lebih memberi kita kebebasan rohani, hal mana menjadi penghalang bagi penyerahan total kepada Yesus. Kebebasan sama sekali bukanlah yang menjadi motif bagi Paulus. Malah ia menyatakan, “Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku" (Roma 9:3). Apakah Paulus telah kehilangan kemampuan berpikir nalar? Tidak sama sekali! Karena bagi seseorang yang sedang ”jatuh cinta”, (pernyataan seperti) ini bukan pernyataan yang berlebihan. Dan Paulus mengasihi Yesus Kristus. (My Utmost for His Highest, 24 Februari 2010)