Tampilkan postingan dengan label pengudusan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengudusan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Oktober 2010

20 Okt ’10 – Adakah Kehendak Allah Kehendaku?

SOAL PENGUDUSAN, tegas Renungan “My Utmost” hari ini, bukanlah pertanyaan apakah Allah mau menguduskan saya. Melainkan pertanyaan mengenai kehendak atau kemauan saya: mempersilakan Allah melakukan dalam diri saya segala sesuatu yang telah dimungkinkan melalui penebusan Salib Kristus; mempersilakan Yesus menguduskan saya, dan mempersilakan hidup-Nya dinyatakan dalam saya?


ADAKAH KEHENDAK ALLAH KEHENDAKU?

“Inilah kehendak Allah: Pengudusanmu...” (1 Tesalonika 4:3).

SOAL Pengudusan bukanlah pertanyaan apakah Allah mau menguduskan saya - melainkan pertanyaan mengenai kehendak atau kemauan saya. Bersediakah saya mempersilakan Allah melakukan dalam diri saya segala sesuatu yang telah dimungkinkan melalui penebusan Salib Kristus? Bersediakah saya mempersilakan Yesus menguduskan saya, dan mempersilakan hidup-Nya dinyatakan dalam daging kemanusiaan saya? (lihat 1 Korintus 1:30).

Waspadalah terhadap ucapan, “Oh, aku rindu untuk dikuduskan.“ Tidak, bukan itu soalnya”. Sadarilah akan kebutuhan Anda, tetapi berhentilah sekadar merindukannya tetapi jadikanlah itu sebagai tindakan. Sambutlah Yesus Kristus yang akan menguduskan Anda, dengan iman yang mutlak dan tanpa ragu, maka mukjizat besar dari penebusan Yesus akan menjadi nyata di dalam diri Anda.

Semua yang telah dimungkinkan oleh Yesus menjadi milik saya melalui karunia Allah yang bebas dan penuh kasih, atas dasar pengorbanan Kristus di kayu salib. Dan sikap saya sebagai jiwa yang diselamatkan dan dikuduskan ialah sikap kekudusan yang rendah hati (tidak ada kekudusan yang sombong).

Itu adalah kesucian yang berlandaskan pertobatan dengan penyesalan yang mendalam, suatu rasa malu dan rusak/gagal yang tidak terungkapkan, dan juga berlandaskan kesadaran bahwa kasih Allah ditunjukkan kepada saya justru ketika saya tidak menghiraukan Dia (lihat Roma 5:8).

Dia melengkapi segala sesuatu untuk keselamatan dan pengudusan saya. Tidaklah mengherankan bila Paulus menyatakan bahwa tidak ada apa pun yang “akan dapat memisahkan kita dan kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:39).

Pengudusan menyatukan saya dengan Yesus Kristus, dan di dalam Dia saya satu dengan Allah; dan itu tercapai hanya melalui penebusan Kristus yang sangat indah.

Jangan sekali-kali keliru antara akibat dengan sebab. Hasil atau akibat di dalam saya ialah kepatuhan, pelayanan dan doa, dan itu adalah hasil dari ucapan syukur yang tidak terungkapkan dan pengaguman atas pengudusan ajaib yang telah diwujudkan di dalam saya karena penebusan melalui Salib Kristus. (My Utmost for His Highest, 20 Oktober)

Kamis, 22 Juli 2010

22 Jul ’10 - Pengudusan (1)

KAMUS Alkitab (LAI) mendefinisikan orang-orang kudus sebagai ”orang-orang yang dikuduskan oleh Roh Kudus, sehingga mereka ”tidak lagi dari dunia ini”. Paulus mengalamatkan surat-suratnya kepada orang-orang kudus, yang berarti orang-orang Kristen. Renungan ”PENGUDUSAN”, hari ini tentang arti pengudusan, proses dan aspeknya yang terdiri dari dua sisi kematian dan sisi kehidupan. Lebih jauh dibawah ini:

PENGUDUSAN (1)
Inilah kehendak Allah: Pengudusanmu ... “(1 Tesalonika 4:3)
Sisi Kematian. Dalam pengudusan, Allah harus berurusan dengan kita pada sisi kematian dan sisi kehidupan. Pengudusan menuntut kedatangan kita ke tempat kematian, tetapi banyak diantara kita menghabiskan waktu disana sehingga kita menjadi tidak sehat (rohani).
Selalu ada pergumulan berat sebelum pengudusan terwujud - sesuatu di dalam kita menolak tuntutan-tuntutan Kristus. Bila Roh Kudus mulai menunjukkan kepada kita makna pengudusan, pergumulan itu segera dimulai. Yesus berkata, ”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci ... nyawanya sendiri ... ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:26).
Dalam proses pengudusan, Roh Allah akan menelanjangi saya sampai tidak ada yang tersisa kecuali diri saya yang sesungguhnya, dan itulah tempat kematian.
Apakah saya sedia menjadi diri saya sendiri dan tidak lebih dari itu? Apakah saya sedia tidak mempunyai sahabat, ayah, saudara dan tidak mempunyai kepentingan diri - hanya siap untuk kematian? Itulah persyaratan yang dituntut untuk pengudusan. Tidak mengherankan bila Yesus bersabda, “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang (Matius 10:34).
Disinilah tempat pegumulan itu timbul, dimana banyak diantara kita menjadi bimbang. Kita menolak untuk dipersatukan dengan kematian Yesus Kristus. Kita berkata, “Hal ini terlalu keras. Pasti Dia tidak menuntut itu dari padaku”. Tuhan kita itu memang keras, dan Dia menuntut hal itu dari kita.
Apakah saya sedia meniadakan diri saya hingga menjadi “saya” saja? Apakah saya cukup berketetapan untuk melucuti diri dari semua pendapat sahabat dan dari pendapat saya sendiri tentang diri saya? Apakah saya sedia dan bertekad untuk menyerahkan diri saya sepenuhnya seperti adanya kepada Allah?
Jika saya bersedia maka Dia akan segera menguduskan saya sepenuhnya, dan hidup saya akan bebas dari semua kecendrungan dan keterikatan terhadap apa pun kecuali Allah (lihat 1 Tesalonika 5:23-24).
Bila saya berdoa, ”Tuhan, tunjukkan makna pengudusan bagiku,” saya percaya Dia akan menunjukkannya kepada saya. Itu berarti dijadikan satu dengan Yesus.
Pengudusan bukanlah sesuatu ditaruhkan Yesus ke dalam diri saya – pengudusan ialah Dia sendiri di dalam saya (lihat 1 Korintus 1:30). (My Utmost for His Highest, 22 Juli)