Tampilkan postingan dengan label mengetahui kehendak Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengetahui kehendak Allah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juni 2010

3 Jun ’10 - Rahasia Tuhan


SALAH SATU tanda pertumbuhan rohani adalah, hubungan yang akrab dengan Tuhan, dan kerinduan yang kuat mencari dan melakukan kehendak-Nya. Dan dalam hal ini, jika kita hendak memilih hal yang tidak dikehendaki-Nya, maka Dia akan memberi kita keragu-raguan atau pengendalian diri, yang tidak dapat kita diamkan begitu saja. Bagaimana bila ada keragu-raguan akan suatu hal? Selanjutnya dibawah ini:

RAHASIA TUHAN
TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia” (Mazmur 25:14) (NKJV menerjemahkannya: Rahasia Tuhan diberitahukan-Nya kepada mereka yang takut akan Dia).
Apakah tanda seorang sahabat? Apakah dia memberi tahu Anda dukacitanya yang tersembunyi? Tidak. Dia memberi tahu Anda rahasia sukacitanya. Banyak orang mau mengungkapkan dukacitanya yang tersembunyi kepada Anda, tetapi bukti dari keakraban ialah bila mereka membagi rahasia sukacita mereka dengan Anda.
Pernahkah kita mempersilakan Allah memberi tahu kita sukacita-Nya? Ataukah kita terus-menerus memberitahukan rahasia kita kepada Allah, tanpa memberi waktu kepada-Nya untuk berbicara kepada kita?
Pada awal kehidupan kekristenan kita, kita banyak permohonan kepada Allah, tetapi kemudian kita mendapati bahwa Allah menginginkan kita menjalin hubungan akrab dengan Dia – agar kita mengenal dan berhubungan dengan kehendak-Nya.
Apakah kita sedemikian erat dipersatukan dengan gagasan doa Yesus Kristus - “Jadilah kehendak-Mu” (Matius 6:10) - sehingga kita menangkap rahasia Allah? Apa yang membuat Allah sangat berharga bagi kita bukanlah berkat-berkat-Nya yang besar, melainkan hal-hal kecil yang kita alami, yang menunjukkan keakraban-Nya yang ajaib dengan kita - Dia mengetahui setiap rincian dari kehidupan kita masing-masing.
Kepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya” (Mazmur 25:12). Pertama-tama, kita ingin menyadari bahwa kita dituntun oleh Allah. Kemudian saat kita bertumbuh secara rohani, kita hidup sedemikian dekat dengan kesadaran akan Allah sehingga kita bahkan tidak perlu menanyakan tentang kehendak-Nya, karena pikiran untuk memilih jalan lain tidak pernah terlintas pada diri kita.
Jika kita diselamatkan dan dikuduskan, Allah menuntun kita melalui pilihan-pilihan kita sehari-hari. Dan jika kita hendak memilih hal yang tidak dikehendaki-Nya, maka Dia akan memberi kita keragu-raguan atau pengendalian diri, yang harus kita hiraukan.
Bila ada keragu-raguan, segeralah berhenti. Jangan sekali-kali mencoba mencari alasan dan mengatakan ”Saya ragu, mengapa saya tidak boleh melakukan yang ini”. Allah memberi petunjuk kepada kita dalam apa yang kita pilih, yaitu dengan menuntun akal sehat kita. Dan bila kita menyerah pada ajaran dan tuntunan-Nya, maka kita takkan lagi merintangi Roh-Nya dengan terus-menerus bertanya, Sekarang, ya Tuhan, apakah kehendak-Mu?” (My Utmost for His Highest, 3 Juni)

Sabtu, 20 Maret 2010

20 Mar '10 - Persahabatan dengan Allah

PERSAHABATAN dengan Allah, seperti judul renungan hari ini, sungguh merupakan rahasia keajaiban kasih karunia Allah, yang dimungkinkan menjadi bagian hidup anak-anak-Nya, persabahatan yang membawa kita pada kemerdekaan dan kesukaan dalam hidup; yang membuat kita ada dalam kehendak-Nya. Masalahnya, bagaimana agar kita semakin mengenal Allah lebih baik dan memperoleh pengertian yang sempurna tentang Dia.

PERSAHABATAN DENGAN ALLAH

Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini ...?” (Kejadian 18:17).
Kesukaan dalam Persahabatan-Nya. Kejadian 18 menunjukkan kesukaan dalam persahabatan sejati dengan Allah, kesukaan yang tidak dapat dibandingkan dengan perasaan akan hadirat-Nya yang kadang kala dialami dalam doa. Persahabatan seperti ini merupakan hasil dari perhubungan yang sedemikian akrab dengan Tuhan sehingga Anda bahkan tidak perlu memohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya kepada Anda.
Ini merupakan bukti dan suatu tingkat keakraban yang memastikan bahwa Anda sedang mendekati tahap akhir dari disiplin kehidupan iman Anda.

Bila Anda mempunyai kedudukan yang benar dalam hubungan dengan Allah, maka Anda memiliki hidup yang merdeka, bebas dan gembira; Anda ada dalam kehendak Allah. Dan semua keputusan kata hati (common sense) Anda merupakan kehendak Nya kecuali Anda merasakan suatu teguran atau kekangan yang timbul pada saat Anda menguji atau yelidiki roh Anda. Dalam terang persahabatan dengan Allah yang sempurna dan suka cita, Anda bebas mengambil keputusan, karena mengetahui bahwa jika keputusan Anda keliru maka Dia dalam kasih-Nya akan memberikan bisikan teguran/kekangan tersebut. Dan apabila Dia memberikan teguran, Anda harus segera menghentikannya.

Kesulitan dalam Persahabatan-Nya. Mengapa Abraham berhenti berdoa ketika berdoa? Dia berhenti karena dalam hubungannya dengan Allah masih kurang tingkat keakraban, yang memampukannya dengan tidak takut atau ragu-ragu melanjutkan doanya dengan Tuhan sampai keinginannya diberikan.

Bila kita mengurungkan hasrat kita sungguh dalam doa dan berkata, ‘Ah, tidak tahulah, mungkin ini bukan kehendak Allah,” maka masih ada satu tahap lain yang harus kita lalui. Ini menunjukkan bahwa pengenalan kita kita dengan Allah tidak seakrab Yesus, seperti diinginkan Yesus ada pada kita, seperti ayat “... supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu” (Yohanes 17:22).

Ingatlah akan doa terakhir yang Anda panjatkan - apakah Anda mengabdi pada hasrat Anda atau kepada Allah? Apakah tekad Anda memperoleh pemberian Roh untuk diri Anda sendiri atau untuk mendekat pada Allah? “Karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya” (Matius 6:8).

Alasan untuk memohon adalah agar Anda semakin mengenal Allah lebih baik. “Bergembiralah karena Tuhan maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmun 3 7:4).
Kita harus tetap berdoa untuk memperoleh pengertian yang sempurna tentang Allah. (My Utmost for His Highest, 20 Maret 2010)

Sabtu, 02 Januari 2010

Mengikut Tuhan tidak mudah. Mungkin ada saja pertanyaan dalam diri kita yang tidak kita peroleh jawabannya. Salah satu pertanyaan tersulit untuk dijawab dalam pekerjaan kekristenan adalah, “Apakah yang Anda harapkan untuk dilakukan?” "What do you expect to do?". Anda memang tidak tahu apa yang hendak Anda lakukan. Yang Anda ketahui hanyalah bahwa Allah mengetahui tindakan yang dilakukan-Nya. Yang penting Anda terus memeriksa sikap Anda terhadap Allah untuk melihat apakah Anda bersedia “berangkat’, dalam setiap segi kehidupan Anda sambil percaya kepada Allah sepenuhnya. Allah tidak memberi tahu Anda tentang hal yang akan dilakukan-Nya, tetapi Dia menyatakan diri-Nya kepada Anda. Itulah bagian dari renungan dari My Utmost for His Highest hari ini, dibawah judul Akankah Anda Berangkat Tanpa Mengetahui (Kemana dan Berbuat Apa?)

Ia berangkat tanpa mengetahui tempat yang ditujunya” (Ibrani 11:8).

Pernahkah Anda “berangkat”, ”go out”, dengan cara demikian? Jika pernah, maka tidak ada jawaban masuk akal yang dapat diberikan bila seseorang menanyai Anda tentang hal yang sedang Anda lakukan.

Salah satu pertanyaan tersulit untuk dijawab dalam pekerjaan kekristenan adalah, “Apakah yang Anda harapkan untuk dilakukan?” Anda memang tidak tahu apa yang hendak Anda lakukan. Yang Anda ketahui hanyalah bahwa Allah mengetahui tindakan yang dilakukan-Nya. Yang penting Anda terus memeriksa sikap Anda terhadap Allah untuk melihat apakah Anda bersedia “berangkat’, dalam setiap segi kehidupan Anda sambil percaya kepada Allah sepenuhnya.

Sikap inilah yang akan tetap membuat Anda terus pasti akan Allah, walau Anda tidak mengetahui tindakan yang akan dilakukan Allah selanjutnya. Setiap Anda bangun pagi, ada kesempatan baru untuk “berangkat” sambil membangun keyakinan Anda kepada Allah. Firman Tuhan “Janganlah khawatir tentang hidupmu... dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu (Lukas 12:22). Dengan kata lain,janganlah khawatir mengenai hal-hal yang Anda risaukan sebelum Anda “berangkat’.

Sudahkah pernah Anda bertanya kepada Allah tentang tindakan yang akan dilakukan-Nya? Dia tidak akan pernah memberitahukannya kepada Anda. Allah tidak memberi tahu Anda tentang hal yang akan dilakukan-Nya, - Dia menyatakan diri-Nya kepada Anda. Apakah Anda mempercayai Allah yang mengerjakan mukjizat, dan maukah Anda “berangkat’ dalam penyerahan total kepada-Nya sampai Anda sama sekali tidak merasa kaget atau surprise akan apa pun yang dilakukan-Nya?

Dalam mempercayai Allah, Allah akan menjadi seperti yang Anda ketahui dan percayai, apabila Anda paling dekat dengan Dia. Maka kemudian Anda akan melihat betapa tidak perlu dan tidak sepatutnya sikap khawatir itu. Biarlah sikap hidup Anda menjadi kerelaaan untuk ”berangkat” yang terus-menerus dan dalam ketergantungan kepada Allah, maka hidup Anda akan memiliki suatu pesona yang kudus dan tidak terungkapkan, yang sangat memuaskan Yesus. Anda harus belajar “berangkat” melalui keyakinan, ikrar iman, atau melalui pengalaman Anda sampai Anda mencapai tingkat iman dimana tidak ada halangan antara Anda dan Allah – yang dalam ungkapan teks aslinya dinyatakan secara indah: come to the point in your faith where there is nothing between yourself and God. (My Utmost for His Highest 2 Januari 2010)