Tampilkan postingan dengan label melayani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label melayani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Maret 2010

17 Mar '01 - SASARAN UTAMA SEORANG HAMBA


RENUNGAN hari ini, ”Sasaran Utama Seorang Hamba”, menegaskan pentingnya kehidupan pribadi kita sebagai hamba Tuhan dihadapan-Nya, yaitu berkenan pada-Nya. Itulah prioritas tertinggi, bukan kegiatan betapa hebatpun itu. Hal itulah yang menentukan kepatutan atau kelayakan kita bagi Tuhan dalam hidup pelayanan kita keluar, dihadapan orang-orang. Selanjutnya dibawah ini:
SASARAN UTAMA SEORANG HAMBA

”Sebab itu juga kami berusaha, ........ supaya kami berkenan kepada-Nya”. (2 Korintus 5:9)
Perkataan Paulus, ”Sebab itu juga kami berusaha”, berarti dibutuhkan suatu keputusan dan usaha secara sadar untuk tetap mempertahankan sasaran utama didepan kita. Itu berarti kita menempatkannya sebagai prioritas tertinggi dari tahun ke tahun; dalam hal mana prioritas pertama kita bukan memenangkan jiwa, mendirikan gereja, atau mengadakan kebaktian kebangunan rohani, tetapi hanya berusaha ”agar berkenan kepada-Nya”.
Bukan karena tidak ada atau kurangnya pengalaman rohani yang membawa kita pada kegagalan, melainkan karena kurangnya usaha untuk memusatkan perhatian kita pada sasaran yang benar. Paling sedikit sekali seminggu ujilah diri Anda di hadapan Allah untuk memastikan apakah hidup Anda sudah memenuhi tolok ukur yang telah ditetapkan-Nya untuk Anda. Paulus adalah bagaikan seorang musisi yang tidak mempedulikan pendapat penonton, asalkan dia mendapat perkenan Dirigennya.
Sasaran apa pun yang mengalihkan kita sedikit saja dari sasaran utama, yaitu “layak di hadapan Allah” (2 Timotius 2:15) mungkin akan mengakibatkan kita menolak melayani Dia lebih lanjut. Bila Anda mengenal arah sasaran, maka Anda akan memahami perlunya terus “mata tertuju kepada Yesus” (Ibrani 12:2). Paulus membicarakan pentingnya mengendalikan tubuhnya sehingga tidak akan membawanya ke arah yang keliru. Dia berkata, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya... jangan aku sendiri ditolak’ (1 Korintus 9:27).
Saya harus belajar mengaitkan segala sesuatu dengan sasaran utama, dengan memeliharanya tanpa interupsi atau gangguan. Kepatutan atau kelayakan saya bagi Allah di muka umum diukur oleh bagaimana saya sesungguhnya dalam hidup pribadi. Apakah sasaran utama saya dalam kehidupan adalah untuk berkenan kepada-Nya dan diterima oleh-Nya, ataukah kurang dari itu, betapa pun muluk kedengarannya? (My Utmost for His Highest, 17 Maret 2010)

Senin, 18 Januari 2010

"Itu Tuhan!"

RENUNGAN hari ini menekankan dua bahaya kehidupan kristiani yang harus kita waspadai. Pertama, kita “memanfaatkan Dia untuk memuaskan kita”, berlawanan dengan tujuan Allah memanggil kita. Bahaya kedua, hal-hal dari dalam diri kita – bukan dari luar - yang menyaingi kesetiaan kita kepada Yesus Kristus. Bagaimanakah seharusnya? Lebih lanjut seperti dibawah ini:



“Tomas menjawab Dia, "Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).

“Kata Yesus kepadanya, ‘Berilah Aku minum” (Yohanes 4:7). Betapa banyak di antara kita yang mengharapkan Yesus Kristus memuaskan dahaga kita. Padahal kitalah seharusnya memuaskan dahaga-Nya! Kita seharusnya mencurahkan hidup kita, menyerahkan seluruh hidup kita, dan bukannya memanfaatkan Dia untuk memuaskan kita. “Kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku...” (Kisah Para Rasul 1:8). Itu berarti hidup dalam pengabdian yang murni, tanpa kompromi dan tanpa dibatasi apapun bagi Tuhan Yesus. Kehidupan semacam itu akan memuaskan Dia kemana pun Dia mungkin mengutus kita.

Waspadalah terhadap apa pun yang menyaingi kesetiaan Anda kepada Yesus Kristus. Saingan terbesar dari pengabdian sejati kepada Yesus Kristus adalah pelayanan yang kita lakukan untuk Dia. Lebih mudah melayani ketimbang mencurahkan segenap hidup kita bagi-Nya.

Tujuan panggilan Allah adalah memuaskan Dia, bukan sekadar bahwa kita berbuat sesuatu bagi-Nya. Kita tidak diutus untuk bertempur bagi Allah, tetapi untuk dipakai oleh Allah di dalam pertempuran-Nya.

Apakah kita lebih mengabdi pada pelayanan ketimbang mengabdi kepada Yesus Kristus sendiri? (My Utmost for His Highest 18 Januari 2010)
&&&


"[Sang penghotbah) seharusnya berdoa bagi dirinya dan bagi orang-orang yang dilayaninya, sebelum ia mencoba berbicara. Dan ketika waktunya sudah tiba bahwa ia harus berbicara, sebelum dia membuka mulutnya, ia harus mengangkat jiwa yanh haus kepada Tuhan, untuk meminum apa yang ia akan sampaikan, dan ia diri harus terlebih dahulu dipenuhi apa yang ia akan bagikan" - Augustinus, On Christian Learning