Tampilkan postingan dengan label makna pengudusan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna pengudusan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juli 2010

23 Jul ’10 – Pengudusan (2)


RENUNGAN hari ini masih lanjutan dari yang kemarin, tentang aspek kedua pengudusan: sisi kehidupan. Dimana dinyatakan bahwa rahasia pengudusan ialah bahwa oleh iman, sifat-sifat Yesus Kristus yang sempurna diimpartasi sebagai karunia kepada saya. Pengudusan berarti kesucian Yesus menjadi milik saya dan dinyatakan dalam hidup saya. Bukan tindakan menirukan Yesus. Lebih lanjut dibawah ini:

PENGUDUSAN (2)
“Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus yang... telah.. menguduskan... kita” (1 Korintus 1:30).
Rahasia paling ajaib dari penghayatan hidup suci tidaklah terletak pada tindakan menirukan Yesus, melainkan dalam mempersilakan sifat-sifat Yesus yang sempurna dinyatakan dalam kemanusiaan saya. Pengudusan berarti “Kristus di dalam kamu... ” (Kolose 1:27 - KJV). Yaitu kehidupan ajaib Yesus yang diberikan (diimpartasikan) kepada saya dalam pengudusan – diimpartasi oleh iman sebagai karunia terbaik dari anugerah Allah.
 Adakah saya sedia mempersilakan Allah menjadikan pengudusan nyata dalam saya seperti yang tertulis dalam firman-Nya?
Pengudusan berarti impartasi kualitas kekudusan Yesus Kristus dalam diri saya. Hal itu merupakan pemberian kesabaran-Nya, kasih-Nya, kesucian-Nya, iman-Nya, dan kemurnian serta kesalehan-Nya yang diwujudkan di dalam dan melalui setiap jiwa yang dikuduskan.
Pengudusan bukanlah mengambil dari Yesus kuasa untuk menjadi suci, melainkan mengambil dari Yesus kesucian yang dahulu ditunjukkan di dalam Dia, dan sekarang Dia menunjukkannya di dalam saya. Pengudusan adalah suatu impartasi, bukan imitasi. Imitasi atau peniruan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.
Kesempurnaan dari segala sesuatu ada di dalam Yesus Kristus, dan rahasia pengudusan ialah bahwa semua sifat yang sempurna dari Yesus tersedia bagi saya. Dengan demikian, dengan lambat tetapi pasti saya mulai menghayati kehidupan yang teratur/tertata, sehat dan suci - “... dipelihara dalam kekuatan Allah” (1 Petrus 1: 5).(My Utmost for His Highest, 23 Juli)

Senin, 04 Januari 2010

Mengapa Aku Tidak Dapat Mengikuti Engkau Sekarang

Terus terang, renungan hari ini dengan judul "Mengapa Aku Tidak Dapat Mengikut Engkau Sekarang?" termasuk sukar. Tentang mengetahui kehendak Tuhan dalam melakukan sesuatu yang kita inginkan. Chambers mengatakan, jika Allah mendatangkan suatu masa penantian (akan kehendak-Nya), dan tampaknya tidak ada respons, janganlah mengisinya dengan kesibukan, tetapi nantikanlah. Dan ada maksud Tuhan dengan masa penantian?


Kata Petrus kepada-Nya: Tuhan, mengapa aku tidak dapat inengikuti Engkau sekarang?” (Yohanes 13:37).

Adakalanya Anda tidak mengerti mengapa Anda tidak dapat melakukan tindakan yang ingin Anda lakukan. Jika Allah mendatangkan suatu masa penantian, dan tidak memberikan tanggapan, janganlah mengisinya dengan kesibukan, tetapi nantikanlah.

Masa penantian mungkin datang untuk mengajarkan Anda tentang makna pengudusan - dipisahkan dari dosa dan disucikan - atau itu mungkin datang sesudah proses pengudusan dimulai untuk mengajarkan Anda makna pelayanan. Jangan bertindak sebelum Allah memberikan petunjuk-Nya. Jika Anda bimbang sedikit saja, maka Dia tidak membimbing. Bila Anda bimbang nantikanlah.

Pada awalnya Anda mungkin melihat kehendak Allah dengan jelas, seperti putusnya suatu persahabatan, renggangnya suatu hubungan bisnis, atau hal lain yang Anda rasakan dengan jelas sebagai kehendak Allah yang harus Anda lakukan.

Namun jangan sekali-kali bertindak berdasarkan dorongan perasaan itu. Jika Anda melakukannya, maka Anda akan menimbulkan situasi sulit yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memahaminya.
Tunggulah waktu Allah, maka Dia akan melakukannya tanpa mengakibatkan sesuatu yang menyakitkan atau mengecewakan. Apabila itu merupakan pertanyaan yang menyangkut kehendak Allah, tunggulah sampai Ia bertindak.

Petrus dalam nats kita tidak menantikan Allah. Dia mengkaji-kaji dalam hatinya dimana ujian akan datang, dan ujian datang dari tempat yang sama sekali tidak diduganya. Pernyataan Petrus, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!”, pernyataan yang jujur tetapi bodoh. Yesus menjawab, “...sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Yohanes 13:38). Hal ini diucapkan Yesus dengan pengetahuan yang lebih mendalam tentang diri Petrus ketimbang yang diketahui Petrus tentang dirinya sendiri. Dia tidak dapat mengikuti Yesus karena dia tidak cukup mengenal dirinya atau kemampuan pribadinya.

Pengabdian atau devosi dari diri kita mungkin cukup membuat kita tertarik kepada Yesus, untuk membuat kita tertarik pada pesona-Nya yang istimewa. Akan tetapi, hal itu takkan pernah membuat kita menjadi murid-Nya. Pengabdian dari diri kita hanya akan gagal mengabdi pada Yesus bahkan dapat menyangkalinya, tetapi tidak mencapai makna sesungguhnya tentang mengikut Dia. (My Utmost for His Highest 4 Januari 2010).