Selasa, 28 September 2010

28 Sep ’10 – Panggilan Ikut Tuhan dan Penyatuan Tak Bersyarat

RENUNGAN hari ini kembali tentang tuntutan dalam kemuridan, seperti dikehendaki-Nya. Dikatakan, Tuhan tidak pernah menempatkan kesucian pribadi menjadi yang terutama dalam Dia memanggil seorang murid. Akan tetapi peniadaan mutlak hak atas diri sendiri, dan penyatuan dengan Dia; itu berarti mempunyai hubungan dengan Dia dan hanya Dia. Selanjutnya dibawah ini:


PANGGILAN IKUT TUHAN DAN PENYATUAN TAK BERSYARAT

“Yesus … berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, ….. kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Markus 10:21).

PEMIMPIN muda yang kaya itu mempunyai hasrat besar untuk menjadi sempurna. Ketika dia melihat Yesus Kristus, dia ingin menjadi seperti Dia.

Tuhan tidak pernah menempatkan kesucian pribadi seseorang menjadi yang terutama dalam Dia memanggil seorang murid. Pertimbangan utama Yesus ialah peniadaan mutlak hak atas diri sendiri dan penyatuan dengan Dia; itu berarti mempunyai hubungan dengan Dia dan hanya Dia.

Lukas 14:26  ("Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku"), tidak ada kaitannya dengan keselamatan atau pengudusan, tetapi semata-mata mengenai penyatuan tidak bersyarat dengan Yesus Kristus. Hanya sedikit dari kita yang benar-benar tahu makna mutlak penyatuan tidak bersyarat dan penyerahan diri kepada Yesus dalam hubungannya dengan panggilan mengikut Tuhan.

 Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya...” (Markus 10:21). Pandangan Yesus ini menuntut putusnya hati Anda selamanya dari kesetiaan terhadap seseorang atau sesuatu lainnya.

Sudah pernahkah Yesus melawat Anda seperti itu? Pandangan Yesus ini mengubahkan, menembus dan menawan. Di mana Anda bersikap menurut dan taat terhadap Allah, di situlah Tuhan telah mengarahkan pandangan-Nya kepada Anda. Jika Anda bersikap keras dan pendendam, bersikukuh pada kemauan Anda sendiri dan selalu merasa yakin bahwa orang lain lebih buruk daripada Anda, itu berarti ada segi-segi sifat Anda yang belum diubahkan oleh pandangan-Nya.

Hanya satu lagi kekuranganmu…...” Satu-satunya “hal yang baik” dari sudut pandang Yesus Kristus adalah kesatuan dengan Dia dan tidak ada yang lain diantara keduanya.

“...juallah apa yang kaumiliki...” Saya harus merendahkan diri sampai saya menyadari keberadaan saya yang sesungguhnya. Saya harus secara mendasar melepaskan segala pemilikan saya, bukan untuk keselamatan jiwa saya (karena hanya ada satu hal yang menyelamatkan seseorang – kebergantungan mutlak pada Yesus Kristus), melainkan untuk mengikut Yesus. “...datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Dan jalan itu ialah jalan yang dilalui-Nya. (My Utmost for His Highest, 28 September)

Senin, 27 September 2010

27 Sep ’10 – Pangilan Ikut Tuhan dan Keberatan-Keberatannya

RENUNGAN hari ini tentang orang yang sangat semangat untuk ikut panggilan Tuhan, tetapi ….. ada tetapinya. Dalam ikut Tuhan setiap kali akan muncul berbagai keberatan yang akan menyimpangkan kita dari panggilan tersebut. Disinilah akan terlihat dimana ditaruh loyalitas kita. Selanjutnya dibawah ini:

PANGILAN IKUT TUHAN DAN KEBERATAN-KEBERATANNYA

“….berkatalah seseorang... kepada Yesus: ‘Aku akan mengikut Engkau, kemana saja Engkau pergi“(Lukas 9:57).

SIKAP Tuhan terhadap orang ini (seperti terlihat di ayat-ayat berikutnya) merupakan suatu yang sungguh melemahkan semangat, “sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia” (Yohanes 2:25). Kita mungkin dapat berkata, “Aku tidak dapat membayangkan mengapa Dia (Yesus) membuang kesempatan untuk memenangkan orang yang mengatakan mau ikut Tuhan itu! Bayangkan sikap yang sedemikian dingin kepadanya dan menjadikan dia hilang semangat!” Jangan sekali-kali menyesali Tuhan. Kata-kata Tuhan menemplak dan melukai sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk disakiti dan dilukai.

Yesus Kristus sama sekali tidak bersikap lembut terhadap apa pun yang akhirnya akan menghancurkan seseorang dalam pelayanannya kepada Allah. Jawaban Tuhan tidak berdasarkan suatu pikiran impulsif, tetapi atas pengetahuan-Nya akan “apa yang ada di dalam hati manusia”.

Jika Roh Allah menaruhkan dalam pikiran Anda suatu firman Tuhan yang menemplak Anda, dapat dipastikan bahwa ada sesuatu di dalam diri Anda yang ingin dibongkar-Nya habis dari Anda.

Lukas 9:58, "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Kata-kata ini memupuskan keinginan melayani Yesus Kristus sebagai hal yang menyenangkan bagi saya. Dan kerasnya persyaratan yang dituntut-Nya dari saya, membuat tidak ada yang tersisa dalam hidup saya kecuali Tuhan, diri saya dan pengharapan yang pupus. Dia berkata bahwa saya harus membiarkan setiap orang lain datang atau pergi, dan bahwa saya harus dituntun semata-mata oleh hubungan saya dengan Dia. Dan Dia berkata, “ . . .Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Lukas 9:59, “…"Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku. " Orang ini tidak mau mengecewakan Yesus, tapi juga enggan menunjukkan sikap kurang hormat terhadap ayahnya.

Sering kali kita mendahulukan kesetiaan kita kepada kerabat diatas kesetiaan kita kepada Yesus Kristus, memaksa Dia mengambil tempat terakhir. Bila ada konflik dalam kesetiaan Anda, patuhilah selalu Yesus Kristus apa pun risikonya.

Lukas 9:61. "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku”. Orang yang berkata, “Aku akan mengikut Engkau,Tuhan, tetapi …..”, ialah orang yang sangat semangat untuk pergi, tetapi tidak pernah pergi. Orang ini mempunyai satu dua syarat atau keberatan untuk pergi.

Panggilan Yesus yang sesungguhnya tidak ada tempat bagi ber “selamat tinggal”; ber “selamat-tinggal” dapat mengalihkan kita dari panggilan itu.  Begitu panggilan Allah datang kepada Anda, mulailah berangkat dan jangan berhenti. (My Utmost for His Highest, 27 September)

Minggu, 26 September 2010

26 Sep ’10 – Sikap Yang Tidak Tercela

UNTUK sampai pada perdamaian dengan orang yang berselisih dengan kita, kata Renungan hari ini, membutuhkan proses, yang dikerjakan oleh dan membutuhkan kepekaan Roh. Perdamaian ditandai dengan sikap tidak menyalahkan orang yang bersangkutan. Hal ini bukan persoalan hak. Tanda yang benar dari orang percaya ialah bahwa dia dapat melepaskan hak-haknya sendiri – walau itu memang haknya - dan mematuhi Tuhan Yesus.


SIKAP YANG TIDAK TERCELA


“….jika engkau... teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau..” (Matius 5:23).

AYAT ini menyatakan, “...jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau...”’ Ayat tersebut tidak berbunyi,  “Jika engkau menyelidiki dan mendapati sesuatu sebagai akibat dari kepekaanmu yang tidak seimbang,” tetapi, “Jika engkau... teringat…..”

Dengan kata lain, jika Roh Allah menyadarkan sesuatu dalam pikiran Anda, “. ..pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:24). Jangan sekali-kali menolak kepekaan yang kuat dari Roh Allah di dalam diri Anda bila Dia sedang memberi petunjuk kepada Anda sampai hal yang serinci-rincinya.

Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu……” Petunjuk Tuhan kita sederhana: “Berdamailah dahulu…..” Apa yang hendak Dia katakan, “Kembalilah ke jalanmu, jalanilah jalan yang ditunjukkan kepadamu oleh penginsafan yang diberikan kepadamu di mezbah; ambillah sikap dalam pikiran dan jiwamu terhadap orang yang melawanmu, sikap yang membuat perdamaian sewajar bernapas.” Yesus tidak menyebutkan orang lain - Dia menyuruh Anda untuk pergi menemuinya.

Ini bukan persoalan hak Anda. Tanda yang benar dari orang percaya ialah bahwa dia dapat melepaskan hak-haknya sendiri – walau itu memang hak kita - dan mematuhi Tuhan Yesus.

 ….lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Proses perdamaian/rekonsiliasi itu disebutkan dengan jelas. Pertama-tama kita mempunyai semangat untuk mengorbankan diri, kemudian hadirnya desakan oleh kepekaan Roh Kudus, dan selanjutnya kita sampai pada titik penginsafan kita. Selanjutnya ini diikuti oleh ketataan pada firman Allah, yang membangun suatu sikap atau keadaan pikiran (state of mind) yang tidak menyalahkan orang yang dengannya Anda berselisih. Dan akhirnya ada penyembahan persembahan Anda kepada Allah, yang tidak terhalang dan penuh sukacita. (My Utmost for His Highest, 26 September)

Minggu, 19 September 2010

19 Sep ‘ 10 – Apakah Anda Terus Bersama Yesus?

ADAKAH ada pencobaan dari Tuhan? Jawabnya, dalam Renungan hari ini, ya, bisa! Yaitu dalam situasi rencangan Tuhan. Yang menarik, dikatakan, sesungguhnya hal itu bukan pencobaan kepada kita, tetapi pencobaan kepada kehidupan Anak Allah yang ada di dalam kita (melalui kelahiran baru). Masalahnya apakah kita berjalan terus bersama dengan Yesus?

APAKAH ANDA TERUS BERSAMA YESUS?

Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami” (Lukas 22:28)
MEMANG benar bahwa Yesus Kristus tinggal bersama dengan kita melalui semua pencobaan kita, tetapi apakah kita akan terus bersama Dia melalui pencobaan-Nya?
Banyak diantara kita berbalik dari bersama dengan Yesus jutru pada saat kita mempunyai pengalaman tentang hal yang dapat dilakukan-Nya.
Perhatikanlah bila Allah mengubah situasi Anda untuk melihat apakah Anda terus bersama dengan Yesus, atau berpihak pada dunia, kedagingan dan iblis. Kita mengenakan nama-Nya, tetapi apakah kita berjalan terus bersama Dia? Atau seperti dikatakan dalam Yohanes 6:66, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”.
Pencobaan-pencobaan yang dialami Yesus berlanjut sepanjang hidup-Nya dibumi, dan itu akan berlanjut sepanjang hidup Anak Allah dalam diri kita. Apakah kita akan berjalan terus bersama Yesus dalam kehidupan yang sedang kita hayati sekarang?
Kita mempunyai pemikiran bahwa kita harus melindungi diri dari hal yang diizinkan Allah terjadi dalam hidup kita. Namun jangan pernah bersikap demikian!
Allah-lah yang merancang situasi kita, dan apapun bentuknya kita harus berusaha untuk menghadapinya serta terus-menerus tinggal bersama Dia dalam pencobaan-Nya. Itu adalah pencobaan-Nya, bukan pencobaan kepada kita, tetapi pencobaan kepada kehidupan Anak Allah yang ada di dalam kita. Kehormatan Yesus Kristus dipertaruhkan didalam kehidupan jasmani kita. Apakah kita tetap setia kepada Anak Allah dalam segala sesuatu yang menyerang hidup-Nya di dalam kita?
Apakah Anda akan terus bersama Yesus?
Jalannya melalui Getsemani, melalui gerbang kota, dan “diluar perkemahan” (Ibrani 13:13). Jalannya sunyi dan terus berlanjut sampai tidak ada lagi tanda bahkan bekas kaki untuk diikuti – hanya suara yang berkata, “ikutlah Aku” (Matius 4:19). (My Utmost for His Highest, 19 September)

Sabtu, 18 September 2010

18 Sep ’10 – Pencobaan-Nya dan Pencobaan Kita

RENUNGAN hari ini tentang pencobaan dari iblis, seperti juga dialami oleh Yesus. Pencobaan ini sesungguhnya lebih mendasar dan serius dari yang dipikirkan orang umumnya. Iblis tidak mencobai kita hanya untuk membuat kita berbuat dosa, tetapi untuk membuat kita kehilangan hal-hal yang ditaruhkan Allah di dalam kita melalui kelahiran baru, … dan untuk menggeser sudut pandang kita. Dan, hanya Roh Allah yang dapat mengenali hal ini sebagai percobaan dari iblis.


PENCOBAAN-NYA DAN PENCOBAAN KITA

 “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 5:15)

SEBELUM kita lahir baru, jenis pencobaan yang kita pahami ialah seperti yang disebutan Yakobus 1:14, “… tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Akan  tetapi melalui kelahiran baru kita kita diangkat kedalam alam baru dimana ada pencobaan-pencobaan lain untuk dihadapi, yaitu jenis pencobaan yang dihadapi Tuhan kita.
Pencobaan-pencobaan Yesus tidak menarik bagi kita sebagai orang yang tidak percaya karena hal-hal itu asing atau tidak “at home” bagi sifat manusiawi kita. Pencobaan Tuhan dan pcncobaan kita berada dalam alam (realm) berbeda sampai kita dilahirkan baru dan menjadi saudara-Nya. Pencobaan Yesus tidak sama seperti pencobaan manusia biasa, melainkan pencobaan Allah sebagai manusia.
Melalui kelahiran baru, Anak Allah menjelma, menjadi nyata, di dalam kita (lihat Galatia 4:19), dan di dalam kehidupan jasmani kita Dia mempunyai latar (setting) yang sama seperti dahulu ketika Dia dibumi.
Iblis tidak mencobai kita hanya untuk membuat kita berbuat kesalahan. Iblis mencobai kita untuk membuat kita kehilangan hal-hal yang ditaruhkan Allah di dalam kita melalui kelahiran baru, yaitu kemungkinan untuk menjadi berguna atau bernilai bagi Allah. Iblis tidak datang kepada kita dengan alasan untuk menggoda kita agar berdosa, melainkan dengan alasan untuk menggeser sudut pandang kita, dan hanya Roh Allah yang dapat mengenali hal ini sebagai percobaan dari iblis.
Pencobaan berarti suatu ujian dari apa yang kita miliki dalam batin kita, kekuatan rohani kita, oleh kuasa yang ada diluar kita dan asing bagi kita.
Ini membuat pencobaan dari Tuhan kita dapat dijelaskan. Sesudah Yesus dibaptis, setelah menerima tugas-Nya sebagai tokoh “yang menghapus dosa  dunia” (Yohanes 1:29), Dia “dibawa oleh Roh ke padang gurun” (Matius 4:1) untuk dicobai Iblis. Namun Dia tidak menjadi letih atau kepayahan. Dia mengalami pencobaan dengan “tidak berbuat dosa” dan Dia tetap memelihara semua milik sifat rohani-Nya seluruhnya utuh. (My Utmost for His Highest, 18 September)

Jumat, 17 September 2010

17 Sep ’10 – Guna Dari Pencobaan

BARANGKALI tidak ada hal bagi awam yang begitu sering membingungkan dan mengundang pertanyaan seperti pencobaan. Renungan hari ini melihat sisi “Guna Dari Pencobaan”. Selanjutnya dibawah ini, yang dibahas secara padat dan mendalam, dan dilanjutkan besok 18/9.



GUNA DARI PENCOBAAN


“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, …..” (1 Korintus 10:13)

KATA pencobaan telah mempunyai kontasi buruk bagi kita dewasa ini, karena kita cenderung menggunakan kata tersebut dalam cara yag salah.
Pencobaan itu sendiri bukanlah dosa: pencobaan adalah sesuatu yang harus kita hadapi karena kita adalah manusia. Tidak dicobai berarti bahwa kita salah sedemikian memalukan sehingga sudah terlalu hina untuk dihiraukan.
Namun banyak diantara kita yang mengalami pencobaan yang tidak seharusnya kita derita, hanya karena kita telah menolak untuk mempersilahkan Allah mengangkat kita ke tingkat yang lebih tinggi, dimana kita akan menghadapi pencobaan dari jenis yang lain.
Keberadaan batin seseorang, apa yang dimilikinya secara batiniah, bagaimana keberadaan rohani dirinya, menentukan bentuk pencobaan yang dialaminya dari luar. Pencobaan itu sesuai dengan keberadaan sesungguhnya dari orang yang sedang dicobai dan menyingkapkan kemungkinan dari keberadaan/sifatnya.
Setiap orang sebenarnya menentukan atau “memilih” tingkat pencobaannya sendiri, karena pencobaan akan datang kepadanya sesuai dengan tingkat keberadaan batin yang mengendalikannya.
Pencobaan datang kepada saya, menuntun saya pada suatu kemungkinan jalan pendek untuk perwujudan sasaran saya yang tertinggi. Pencobaan tidak mengarahkan saya menuju apa yang saya ketahui sebagai hal yang jahat, tetapi terhadap hal yang menurut pengertian saya baik.
Memang, pencobaan dapat menjadi sesuatu yang sungguh membingungkan sebentar, dimana saya tidak tahu apa yang benar atau apa yang salah. Tetapi bila saya menyerah pada pencobaan, saya telah menjadikan nafsu menjadi ilah saya, dan menjadi bukti bahwa saya tidak jatuh kedalam dosa lebih dini, sebelumnya, hanya karena malu-malu.
Pencobaan bukanlah sesuatu yang dapat kita hindari. Malah sebenarnya, pencobaan perlu bagi kehidupan seseorang yang begitu cepat berputar.
Waspadalah dengan pemikiran bahwa Anda dicobai melebihi siapapun. Apa yang  Anda alami merupakan bagian dari “warisan” hidup manusia, dan bukanlah sesuatu yang tidak pernah dialami orang lain sebelumnya.
Allah tidak menyelamatkan kita dari pencobaan, tetapi Dia menopang kita ditengah-tengah pencobaan itu (lihat Ibrani 2:18 dan 4:15-16). (My Utmost for His Highest, 17 September)

Rabu, 15 September 2010

15 Sep ’10 – Hal Yang Harus Ditolak

TIDAK ADA orang yang ingin perbuatannya yang memalukan diketahui orang lain - Ia pasti berupaya menutupinya. Renungan hari ini berbicara tentang hal yang memalukan, yang tersembunyi dalam hati: Pikiran buruk tentang seseorang, dengki, cemburu, dan permusuhan, ketidak-jujuran, kelicikan, tipu daya, dll. Semuanya harus ditolak.






HAL YANG HARUS DITOLAK

 “ ….. kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan…” (2 Korintus 4:2)

SUDAHKAH Anda “menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan” dalam hidup Anda – hal-hal yang oleh karena alasan nama baik, kehormatan atau kebanggaan Anda tak boleh diketahui umum?

Anda dapat dengan mudah menyembunyikannya. Adakah sesuatu pikiran dalam hati Anda tentang seseorang tidak Anda inginkan untuk diketahui orang lain? Jika demikian, tolaklah itu begitu timbul dalam pikiran Anda – tolaklah semuanya sampai tidak ada lagi ketidak-jujuran atau kebusukan tersembunyi dalam diri Anda.

Dengki, cemburu, dan permusuhan tidak selalu timbul dari alam dosa Anda yang lama, tetapi dari kebiasaan daging dalam hal-hal serupa dimasa lampau (lihat Roma 6:19 dan 1 Petrus 4:1-3). Anda harus mempertahankan kewaspadaan terus-menerus supaya tidak ada hal-hal yang timbul dalam kehidupan Anda yang akan membuat Anda malu.

“….tidak berlaku licik…” (2 Korintus 4:2). Ini berarti jangan melakukan sesuatu yang memang Anda tidak ingin lakukan tetapi Anda lakukan untuk menunjukkan pendapat atau kebolehan sendiri. Ini adalah jebakan berbahaya. Anda tahu Allah hanya mengizinkan Anda bekerja menurut satu cara, yaitu cara kebenaran.

Kemudian berhati-hatilah agar jangan menjebak orang dengan dengan tipudaya. Jika Anda bertindak dengan tipudaya, kutuk Allah akan menimpa Anda. Hal yang merupakan “kepiawaian” bagi Anda, mungkin tidak demikian bagi orang lain.

Allah telah memberikan pada Anda cara-pandang (standpoint) yang lain. Jangan menumpulkan kerinduan Anda mengabdi untuk kemuliaan-Nya – memberikan yang terbaik untuk kemuliaan-Nya. Bagi Anda, melakukan hal-hal lain selain untuk maksud apa yang tertinggi dan terbaik,  hanya akan menumpulkan motivasi yang telah diberikan Allah kepada Anda.

Banyak orang telah berpaling (dari kebenaran Allah) karena mereka takut untuk memandang sesuatu dari sudut pandang Allah – yang hanya akan membawanya masuk dalam krisis besar rohani. (My Utmost for His Highest, 15 September)