Rabu, 07 April 2010

7 Apr ’10 - Mengapa Kita Kurang Pengertian


PERNAHKAH kita diberikan pengertian akan Firman Tuhan yang begitu jelas dan jernih, sehingga membuat kita takjub – tak cukup kata-kata – mengapa tidak memahaminya sebelumnya! Renungan hari ini mengatakan, hal itu hanya mungkin bila kehidupan Kristus yang dibangkitkan itu menguasai kita. Dan kita menumbuh-kembangkan kondisi rohani yang benar dalam dengar-dengaran dengan Firman Tuhan. Lebih lanjut dibawah ini:

MENGAPA KITA KURANG PENGERTIAN
Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.” (Markus 9.9).
Sebagaimana para murid telah diperintahkan, Anda juga jangan berkata apa pun sebelum Anak Manusia bangkit dalam diri Anda - sebelum kehidupan Kristus yang dibangkitkan itu sedemikian menguasai Anda sehingga Anda benar-benar mengerti ajaran-Nya . Bila Anda menumbuh-kembangkan keadaan yang baik secara batiniah, maka kata-kata Yesus menjadi sedemikian jelas sehingga Anda takjub mengapa Anda tidak memahaminya sebelumnya. Faktanya, Anda tidak sanggup memahami sebelumnya karena Anda belum mengembangkan keadaan/kondisi rohani yang tepat dalam dengar-dengaran dengan Firman Tuhan.
Tuhan kita tidak menyembunyikan hal-hal ini dari kita, tetapi kita tidak siap menerimanya sampai kita berada dalam keadaan rohani yang benar. Yesus berkata, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya” (Yohanes 16: 12). Kita harus mempunyai kesatuan dengan hidup kebangkitan-Nya sebelum kita siap menanggung suatu kebenaran tertentu dari Dia.
Apakah kita sungguh-sungguh mengetahui sesuatu tentang tinggal dalam hidup kebangkitan Yesus? Bukti bahwa kita mengetahuinya adalah bahwa firman-Nya menjadi dapat kita pahami. Allah tidak dapat menyingkapkan sesuatu kepada kita jika kita tidak memiliki Roh-Nya. Dan pendapat-pendapat kita sendiri yang degil dan tidak mau mundur akan merintangi Allah untuk menyingkapkan sesuatu kepada kita. Namun pemikiran kita yang ”tidak pas” akan berakhir pada saat hidup kebangkitan-Nya mendapat tempatnya dalam diri kita.
...... jangan menceritakan kepada siapa pun...” Akan tetapi, banyak orang menceritakan hal yang mereka lihat di Gunung Pemuliaan - pengalaman puncak gunung mereka. Mereka telah melihat suatu visi dan mereka bersaksi tentang itu, namun ada kaitan antara perkataan dengan bagaimana mereka hidup. Hidup mereka ”tidak nyambung” karena Anak Manusia belum bangkit di dalam mereka.
Berapa lamakah gerangan sebelum hidup kebangkitan-Nya menjelma dan tampak nyata dalam diri Anda dan saya? (My Utmost fo His Highest, 7 April 2010)

Selasa, 06 April 2010

6 Apr ’10 - Benturan Allah dan Dosa (The Collision Of God And Sin) *)

JUDUL Renungan hari ini “Benturan Allah dan Dosa (The Collision Of God And Sin)” terasa aneh, dan istilah ini memang tidak ada dalam Alkitab. Tapi penulis Oswald Chambers kembali ingin menggambarkan kedahsyatan makna Salib, yang seperti dikatakan sebelumnya, bahwa tidak ada seorang kristen, bagaimana berpengalamanpun ia, dapat memahami sepenuhnya penderitaan hebat Yesus di Salib. Lebih jauh dibawah ini:

Benturan Allah dan Dosa (The Collision Of God And Sin) *)


Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib" (1 Petrus 2:24).

Salib Kristus adalah penyingkapan kebenaran tentang hukuman Allah atas dosa. Jangan mengaitkan gagasan mati syahid dengan Salib Kristus. Salib Kristus merupakan kemenangan mutlak dan Salib mengguncangkan dasar neraka. Tidak ada sesuatupun dalam rentang waktu atau kekekalan yang lebih pasti dan tidak dapat disangkal dari pada apa yang Yesus Kristus selesaikan di kayu salib - Dia memungkinkan seluruh umat manusia dipulihkan kepada hubungan yang benar dengan Allah. Dia membuat penebusan menjadi landasan hidup manusia; yaitu, Dia membuat jalan bagi setiap orang untuk bersekutu dengan Allah.

Salib bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan pada Yesus - Dia datang untuk mati; jadi. Salib adalah maksud kedatangan-Nya. Dialah “Anak Domba, yang telah disembelih” (Wahyu 13:8). Inkarnasi atau penjelmaan Kristus tidak bermakna tanpa Salib.

Waspadalah agar tidak memisahkan ”Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” dari ”Dia... telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita” (1 Timotius 3:16; 2 Konintus 5:21). Maksud dari penjelmaan adalah penebusan. Allah menjadi manusia untuk menghapus dosa, bukan mengerjakan atau mencapai sesuatu bagi diri-Nya sendiri. Salib adalah peristiwa sentral dalam seluruh rentang waktu dan kekekalan, dan jawaban terhadap semua masalah.

Salib ini bukanlah salib seorang manusia, melainkan Salib Allah, dan itu tidak pernah dapat dipahami sepenuhnya melalui pengalaman manusia. Salib adalah Allah yang memperlihatkan nature atau sifat-Nya. Salib merupakan gerbang melalui mana siapa saja dan setiap pribadi dapat masuk ke dalam kesatuan dengan Allah. Akan tetapi, ini bukanlah gerbang yang akan kita lewati, melainkan gerbang dimana kita tinggal dalam kehidupan yang terdapat di situ.

Jantung keselamatan adalah Salib Kristus. Alasan keselamatan itu sedemikian mudah diperoleh karena harga yang dibayar Allah memang begitu mahal. Salib adalah tempat dimana Allah dan manusia berdosa bertemu dengan suatu benturan mahahebat dan dimana jalan ke kehidupan dibuka. Namun semua harga dan sakit dari benturan itu diserap oleh hati Allah. (My Utmost for His Highest, 6 April 2010).


*) Catatan:  Penulis Oswald Chambers, tampaknya ingin melukiskan betapa dahsyatnya pertemuan antara Allah dan manusia berdosa diatas salib sehingga ia menggambil analogi tubrukan mahahebat (tremendous collision). Dalam teks edisi pertama (1935) ditulis: “The Cross is the point where God and sinful man merged with a crash and the way to life was opened – but the crash is on the heart of God”. Rupanya kemudian, untuk memudahkan pengertian, James Reiden sebagai penulis edisi revisi My Utmost (1997), merobah kalimat dalam edisi sebelumnya menjadi “The Cross was the place where God and sinful man merged with a tremendous collision and where the way to life was opened. But all the cost and pain of the collision was absorbed by the heart of God”. Kiranya  membantu. (Admin).

Senin, 05 April 2010

5 Apr ’10 - Penderitaan-Nya dan Jalan Masuk Kita


BENAR, apa yang dikatakan renungan hari ini. Bahwa tidak seorang kristen, bagaimana berpengalamanpun ia, dapat memahami sepenuhnya penderitaan hebat Yesus di Getsemani dan di Kalvari. Bahwa hal itu adalah sebagai penderitaan Allah dan manusia dalam satu Pribadi yang berhadapan langsung dengan dosa, yang harus dilalui-Nya, guna menyediakan jalan masuk bagi kita menuju maha hadirat Allah. Lebih jauh dibawah ini:

PENDERITAAN-NYA DAN JALAN MASUK KITA
Kemudian sampailah Yesus bersama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya.. ”Tinggalah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Matius 26:36, 38).
Kita takkan pernah memahami sepenuhnya penderitaan yang hebat Yesus di taman Getsemani, tetapi setidaknya kita jangan salah paham tentang hal itu. Itu adalah penderitaan Allah dan manusia dalam satu Pribadi yang berhadapan langsung dengan dosa. Kita tidak dapat belajar tentang Getsemani melalui pengalaman pribadi. Getsemani dan Kalvari melambangkan sesuatu yang unik - kedua tempat itu merupakan jalan masuk menuju kehidupan.
Bukan kematian di kayu salib yang menyebabkan penderitaan Yesus di Getsemani. Faktanya, Dia menyatakan dengan tegas bahwa Dia datang untuk mati. Yang menjadi perhatian-Nya di sini adalah bahwa kemungkinan Dia tidak meliwati pergumulan ini dengan sempurna sebagai Anak Manusia. Dia yakin akan melewatinya sebagai Anak Allah - iblis tidak dapat menyentuh Dia dalam hal itu. Akan tetapi, serangan iblis adalah agar Tuhan mengatasinya untuk kita dengan kekuatan-Nya sendiri sebagai Anak Manusia. Jika Yesus berbuat demikian, maka Dia tidak dapat menjadi Juruselamat kita (lihat Ibrani 9:11-15). Bacalah catatan tentang penderitaan-Nya di Getsemani dalam kaitannya dengan pencobaan-Nya di padang gurun - “...iblis... mundur dan hadapan-Nya dan menunggu saat yang baik" (Lukas 4:13). Di Getsemani, iblis datang kembali dan dikalahkan lagi. Serangan akhir iblis terhadap Tuhan sebagai Anak Manusia adalah di Getsemani.
Penderitaan di Getsemani adalah penderitaan Anak Allah dalam memenuhi maksud-tujuan-Nya sebagai Juruselamat dunia. Selubung itu disingkapkan disini untuk mengungkapkan semua yang diderita-Nya agar memungkinkan kita menjadi anak-anak Allah. Penderitaan-Nya adalah landasan bagi simplisitas (kesahajaan) keselamatan kita. Salib Kristus adalah kemenangan bagi Anak Manusia. Itu bukan hanya sebuah tanda bahwa Tuhan kita telah menang, tetapi bahwa Dia telah menang untuk menyelamatkan umat manusia.
Karena apa yang oleh Anak Manusia tempuh dengan sempurna, maka setiap manusia telah disediakan jalan masuk menuju maha hadirat Allah. (My Utmost for His Highest, 5 April 2010)

Minggu, 04 April 2010

4 Mar ’ 10 - Jalan Menuju Iman Yang Permanen

RENUNGAN hari ini ”Jalan Menuju Iman Yang Permanen”, tentang saat-saat gelap perjalanan iman yang diizinkan Allah menuju pengalaman ”kematian batin terhadap berkat Allah”. Dengan tujuan, membawa kita pada kesadaran akan ketidak-benaran dan ketidak fokusan iman kita, sering, dimana kita hanya berminat pada berkat-berkat-Nya saja, bukan kepada Allah sendiri. Selanjutnya dibawah ini:

JALAN MENUJU IMAN YANG PERMANEN


Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku”. (Yohanes 16:32)

Didalam nats ini Yesus tidak menegur para murid-Nya. Iman mereka nyata, tetapi tidak benar, tidak fokus, dan tidak bekerja dalam kenyataan hidup yang penting. Para murid tercerai-berai mengikuti urusan atau concern mereka sendiri dan mereka mempunyai kepentingan-kepentingan di luar Yesus Kristus.

Setelah kita menjalin hubungan yang sempurna dengan Allah, melalui karya pengudusan Roh Kudus, iman kita harus dilatih dalam kenyataan hidup keseharian. Kita akan diizinkan tercerai-berai, bukan ke dalam pelayanan, melainkan ke dalam kehampaan hidup kita dimana kita akan melihat keruntuhan dan kegersangan, mengetahui apa makna kematian batin terhadap berkat Allah.

Siapkah kita untuk hal ini? Ini tentu bukan pilihan kita, melainkan Allah merancang situasi kita untuk menaruh kita disana. Sebelum kita melalui pengalaman itu, iman kita hanya ditunjang oleh perasaan dan oleh berkat-berkat.

Akan tetapi, pada saat kita tiba di sana, tidak peduli di mana pun Allah mungkin menempatkan kita atau kehampaan batin apa pun yang kita alami, kita dapat memuji Allah bahwa semuanya baik. Itulah yang dimaksudkan dengan iman yang dilatih dalam kenyataan atau realitas hidup.

“...kamu meninggalkan Aku seorang diri.” Sudahkah kita dicerai-beraikan dan sudahkah kita meninggalkan Yesus seorang diri setelah tidak melihat pemeliharaan ilahi-Nya atas kita? Tidakkah kita melihat Allah bekerja dalam situasi kita?

Saat-saat gelap seperti itu diizinkan dan datang kepada kita melalui kedaulatan Allah. Siapkah kita mempersilakan Allah melakukan apa yang Ia inginkan dengan kita? Siapkah kita untuk dipisahkan dari hal-hal lahiriah, berkat-berkat lahiriah Allah?

Sebelum Yesus Kristus benar-benar menjadi Tuhan kita, kita masing-masing mempunyai tujuan/sasaran kita sendiri yang kita layani. Iman kita nyata tetapi belum permanen atau terus berlanjut. Dan Allah tidak pernah terburu-buru menegur kita. Jika kita bersedia menanti, kita akan melihat Allah menunjukkan bahwa kita hanya berminat pada berkat-berkat-Nya saja, bukan kepada Allah sendiri.

“...kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33). Yang kita butuhkan adalah keuletan rohani yang teguh - tidak kenal menyerah. (My Utmost for His Highest, 4 April 2010)

Sabtu, 03 April 2010

3 Mar ’10 - Jika Saja Engkau Mengerti


RENUNGAN hari ini, mempertanyakan apa yang membutakan kita terhadap sejahtera Allah, “pada hari ini”. Apa yang membuatnya tersembunyi dari mata kita? Dikatakan, adalah sungguh menyedihkan, bahwa sebenarnya dari pihak Allah, Roh-Nya siap memimpin kita. Tapi kitalah yang telah menutup pintu. Tapi Allah dapat mengubah kegagalan kita menjadi pelajaran berharga bagi pertumbuhan di masa depan. Selanjutnya dibawah ini:

JIKA SAJA ENGKAU MENGERTI
Jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu” (Lukas 19:42).
Yesus memasuki Yerusalem dengan penuh kemenangan dan segenap sudut kota itu menjadi sangat gempar; namun ada satu ilah asing di sana yaitu kesombongan orang Farisi, yang tampaknya religious dan lurus hati, tetapi Yesus membandingkannya dengan “kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran” (Matius 23:27).
Apakah yang membutakan Anda terhadap sejahtera Allah “pada hari ini”? Apakah Anda mempunyai ilah asing – bukan monster yang menjijikkan tapi mungkin berupa sifat tertentu yang mengendalikan hidup Anda?
Lebih dari sekali Allah telah memperhadapkan saya dengan ilah asing dalam hidup saya, dan saya tahu bahwa saya harus melepaskannya, tetapi saya tidak melakukannya. Saya merasa dapat lolos dari krisis ini, namun menemukan bahwa diri saya masih ada di bawah kendali ilah asing itu. Saya buta terhadap hal-hal yang sesungguhnya yang membawa damai bagi saya.
Sungguh mengejutkan bahwa sebenarnya kita dapat berada di tempat yang tepat dimana Roh Allah dapat dengan cara sepenuhnya tanpa kendala bersama dengan kita (memimpin kita), namun kita malah memperburuk keadaan, menambah cela kita dalam pandangan Allah.
“Jika... engkau mengerti.. “. Kata-kata ini langsung menusuk hati, diiringi air mata Yesus di balik ucapan-Nya. Kata-kata ini menyiratkan tanggung jawab atas kesalahan kita. Allah memberitahu kita bahwa kita bertanggungjawab atas hal yang kita enggan untuk melihatnya, atau yang tidak sanggup kita lihat karena dosa kita. Dan “sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu” karena Anda tidak pernah sepenuhnya menyerahkan sifat Anda kepada-Nya.
Oh, alangkah dalamnya kesedihan panjang untuk hal yang seharusnya terjadi tetapi nyatanya tidak! Allah tidak pernah lagi membuka pintu-pintu yang telah tertutup. Dia membuka pintu-pintu lain, tetapi Dia mengingatkan kita bahwa ada pintu-pintu yang telah kita tutup, pintu-pintu yang sebenarnya tidak perlu ditutup.
Jangan takut bila Allah membawa Anda kembali ke masa lalu Anda. Biarkan ingatan itu mendapat tempat dalam diri Anda. Ia itu adalah pelayan Allah yang mendatangkan teguran, dan dukacita untuk kebaikan Anda. Allah akan mengubah kegagalan kita dihadapan-Nya dimasa lalu menjadi pelajaran berharga bagi pertumbuhan di masa depan. (My Utmost for His Highest 3 April 2010)

Jumat, 02 April 2010

2 Apr ’10 - Kemuliaan Yang Tiada Taranya

RENUNGAN ”Kemuliaan yang Tiada Taranya” hari ini tentang suatu karakter manusia rohani. Yang ditandai dua hal: kesanggupan memahami dengan benar makna Tuhan Yesus Kristus dalam hidupnya, dan kesanggupan menjelaskan maksud Allah kepada orang lain. Hal mulia yang tiada tara yang kiranya boleh menjadi milik kita. Selanjutnya dibawah ini:

KEMULIAAN YANG TIADA TARANYA

Tuhan Yesus telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi...” (Kisah Para Rasul 9:17).
Ketika Paulus dapat melihat lagi, dia juga menerima pengertian rohani tentang Pribadi Yesus Kristus. Sejak saat itu seluruh hidup dan pemberitaannya sepenuhnya hanya mengenai Yesus Kristus - “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1 Korintus 2:2). Paulus tidak membiarkan hal-hal lain memikat dan mengikat perhatian, pikiran dan jiwanya kecuali wajah Yesus Kristus.

Kita harus berusaha memelihara karakater yang kuat dalam hidup kita bahkan sampai ke tingkat yang telah diungkapkan dalam visi kita mengenai Yesus Kristus.

Karakter yang tetap lestari dari manusia rohani adalah kesanggupan untuk memahami dengan benar makna Tuhan Yesus Kristus dalam hidupnya, dan kesanggupan menjelaskan maksud Allah kepada orang lain. Keinginan kuat yang menguasai hidupnya ialah Yesus Kristus. Bila Anda melihat kualitas seperti ini di dalam seseorang, Anda mendapat kesan bahwa dia sungguh seorang yang berkenan di hati Allah (lihat Kisah Para Rasul 13:22).

Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatian Anda dari pengertian yang mendalam mengenai Yesus Kristus. Dengan begitu Anda tahu apakah Anda rohani atau tidak. Dalam hal tidak rohani berarti hal-hal lain semakin mempesona bagi diri Anda.
Sejak mataku memandang Yesus
Semua hal lain tidaklah menarik
Kepada penglihatan rohku aku terikat
Menatap Dia Yang Disalibkan – Yesus Kristus
(My Utmost for His Highest, 2 April 2010)

Kamis, 01 April 2010

1 Apr ’10 - Suka Menolong Atau Tidak-Punya-Hati Terhadap Yang Lain?


RENUNGAN hari ini, masih lanjutan kemarin, tentang pendoa syafaat. Pendoa syafaat seperti Kristus sendiri yang “hidup senantiasa untuk menjadi Pendoa syafaat”. Pendoa syafaat yang tergantung dari Roh Kudus. Kendala bagi pendoa syafaat, adalah terlalu sibuk, sehingga tidak ada lagi penyembahan pada Allah. Pelayanan boleh jalan terus, tapi pelayanan yang tidak-punya-hati. Lebih jauh dibawah ini:


Kristus .... yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Roh ....berdoa untuk orang-orang kudus.” (Roma 8:34,27)
Kata ”menjadi Pembela bagi kita” dalam ayat diatas dalam Alkitab bahasa Inggris (KJV) ”maketh intercession for us”: menjadi pendoa syafaat bagi kita.
Untuk menjadi pendoa syafaat apakah kita memerlukan lebih banyak penjelasan selain bahwa Kristus “hidup senantiasa untuk menjadi Pendoa syafaat” (Ibrani 7:25, NKJV), dan bahwa Roh Kudus “berdoa syafaat untuk orang-orang kudus”? Apakah kita hidup dalam suatu hubungan sedemikian rupa dengan orang lain sehingga kita melakukan syafaat sebagai buah dari sebagai anak Allah yang diajar oleh Roh-Nya?
Kita harus menyimak situasi kita sekarang. Apakah krisis yang mempengaruhi kita atau yang lain di rumah kita, bisnis kita, negeri kita, atau dimana saja, yang tampaknya menghancurkan kita? Apakah kita sepertinya terdesak keluar dari hadirat Allah dan tidak tersisa lagi waktu untuk ibadah/penyembahan?
Jika demikian, kita harus menghentikan gangguan-gangguan semacam itu dan menjalin hubungan yang akrab dengan Allah sehingga hubungan kita dengan orang lain terpelihara melalui doa syafaat, dimana Allah mengerjakan mukjizat-mukjizatNya.
Waspadalah agar tidak mendahului Allah dengan hasrat Anda untuk melakukan kehendak-Nya. Kita berlari mendahului Dia dengan seribu satu kegiatan, menjadi sedemikian dibebani dengan orang-orang dan masalah-masalah sehingga kita tidak menyembah Allah, dan kita gagal untuk melakukan doa syafaat.
Jika suatu beban dan tekanan yang diakibatkannya menimpa kita selagi kita tidak dalam sikap penyembahan, maka itu hanya akan menghasilkan sikap menuntut terhadap Allah dan rasa putus asa dalam jiwa kita sendiri. Ketika Allah terus memperkenalkan kita kepada orang yang tidak menarik perhatian kita, dan jika kita tidak menyembah Allah maka kita kecenderungan alami kita adalah tidak-punya-hati (heartless) untuk mereka. Kita dengan cepat memberi mereka sebuah ayat Alkitab, seperti menikam mereka dengan sebatang tombak, atau meninggalkan mereka dengan sepatah kata nasihat secara terburu-buru dan tanpa peduli. Seorang Kristen yang tidak-punya-hati pastilah berperasaan tentu merupakan dukacita yang mendalam bagi Tuhan.
Apakah hidup kita sudah berada pada tempat yang tepat sehingga kita dapat berperan-serta dalam doa syafaat Tuhan kita dan Roh Kudus? (My Utmost for His Highest, 1 April 2010)